Wacana penerapan Full Day School oleh Mendikbud menuai pro dan kontra. Pihak yang pro menganggap upaya tersebut dalam rangka mengontrol perkembangan anak sekaligus pembentukan karakter di sekolah. Namun, upaya ini terbilang berlebihan dan memaksa terutama dalam pandangan mereka yang kontra. Kabar uniknya adalah bahwa wacana ini akan dibatalkan bila tanggapan masyarakat banyak yang menolaknya.

Hal ini disampaikan oleh Muhadjir Effendi selaku Mendikbud baru. Tentu saja respons di dunia maya menjadi menguat, sebab omongan Muhadjir tentang wacana pembatalan ini menandakan bahwa pak menteri hanya omong belaka. Pendiriannya mudah digoyang. Bahkan sampai saat ini meme (pesan bergambar) tentang Full Day School tersebar di dunia daring (online) dengan maksud menjelek-jelekkan wacana ini.

Bagaimanapun sistem sekolah memang tanggung jawab pemerintah yang dalam hal ini Mendikbud. Tapi upaya perubahan sistem dari tahun ke tahun jangan sampai terkesan sebatas menggugurkan program kerja saja. Bila ini tetap dilaksanakan celakanya kembali lagi ke sekolah bersangkutan. Sebenarnya yang perlu diberi pelajaran itu guru atau siswa?

Ini pertanyaan yang sangat masuk nalar. Mengingat masih banyak guru yang ketinggalan zaman sementara siswa sudah masuk era kekinian. Masih banyak guru yang sekadar membuka laptop saja badannya menggigil. Punya ponsel Android hanya sekedar pamer sana sini, pas ditanya aplikasi ini-itu, mulai tubuhnya meriang lagi. Sementara perkembangan teknologi di dunia siswa sudah menjadi-jadi.

Mereka sudah tahu Instagram, Line, WhatsApp, Telegram, Vblog, dan lain-lain. Kalau melihat kasus ini, terlihat wajar kalau-kalau ada siswa yang suka menipu gurunya. Mulai dari tugas-tugas, keterlibatan dalam komunitas, sampai dengan hal kecil lainnya. “Siapa yang menguasai teknologi dia yang raja, bukan?”

Tugas guru itu mulia. Memang benar. Bahkan lebih banyak urusannya mendidik anak orang lain, sementara anak sendiri terabaikan. Wacana Full Day School seolah-olah menjadikan guru itu adalah segala-galanya. Pusat pendidikan. Penentu masa depan anak. Padahal dalam praktiknya tidak pula demikian. Sebenarnya yang menjadi penentu primer adalah kondisi keluarga siswa.

Kalau kondisi keluarganya baik, uang jajan terpenuhi, tidak ada kekerasan, hubungan ayah ibu harmonis, jelas bahwa keberadaan siswa di sekolah akan aman-aman saja. Namun bila sebaliknya, kondisi keluarga yang broken, tidak ada keterbukaan, dan kerap terjadi kekerasan kepada anak, wajar dong bila siswa menjadi nakal dan kurang ajar di sekolahan.

Bukannya ketahanan sekolah dimulai dari ketahanan keluarga? Jadi, kalau sekolah sekadar sekolah, monyet di hutan juga bisa, bukan?

Siapa yang tidak kenal monyet. Primata yang cukup cerdas ini termasuk binatang yang mudah berbaur dengan manusia. Ketangkasannya lompat sana-sini membuat tidak sedikit orang untuk memeliharanya. Bahkan di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat sudah terdapat sekolah bintang ini. Masyarakat setempat menamainya sebagai Sikola Baruak atau sekolah monyet.

Pendidikan yang dialami Baruak di sana sudah terhitung cukup lama. Malah kolonialis Belanda sudah tahu keberadaan sikola tersebut. Alasan orang-orang Pariaman memelihara baruak untuk keperluan memanjat dan memetik buah kelapa.

Soalnya batang kelapa disana tinggi-tinggi dan diameter batangnya kecil. Oleh karena itu bekerjasama dengan baruak adalah alternatifnya. Menyekolahkan baruak bukanlah pekerjaan gampang. Perlu proses yang panjang dan berkelanjutan. Apalagi kebanyakan orang disana menyekolahkan baruak ketika binatang ini masih berusia muda/ kecil.

Materi yang diajarkan sederhana saja. Buah kelapa diikat pada tiang vertikal, kemudian baruak disuruh memanjatnya. Kadang-kadang agar baruak terbiasa dan kenal dengan buah kelapa, si pawang memerintahkan untuk naik turun berulang-ulang pada tiang tersebut. Apabila teknik memanjat baruak telah lancar, si pawang akan memberikan materi cara memilin/ memutar buah kelapa. Kemudian pelajaran ini diulang-ulang.

Dalam praktiknya bentuk tiang sebagai pengganti pohon kelapa sangat bervariasi. Selain bentuk tiang vertikal, ada pula bentuk seperti tiang gawang. Soal tiang sesungguhnya bukanlah jadi permasalahan, sebab tujuan dari sekolah ini adalah agar baruak/ monyet bisa disuruh-suruh oleh manusia. Memanjat, memetik, hingga menghibur keturunan Adam.

Kalau sekolah sekadar sekolah, monyet di hutan juga bisa. Kira-kira begitu bila konsep  Full Day School dipaksakan. Manusia dan monyet itu jelas banyak perbedaan. Manusia itu selain punya pikir, mereka juga punya rasa. Sementara kalangan monyet cuma punya pikir, itu pun digerakan oleh insting, jadi sifatnya tidak dinamis. Manusia dan monyet jelas beda. Anak sekolahan sampai profesor pun tahu.

Kalau Full Day School tetap dilaksanakan tanpa ada sisi kemanusiaanya. Bisa jadi anak-anak berevolusi menjadi monyet sungguhan. Dipaksa belajar, dipaksa berhitung, dipaksa berlatih, sehingga jadilah mereka robot yang diperintah sana-sini. Hilanglah kemanusian mereka, rasa peduli, rasa empati, dan emosi. Wajar kalau kaum koruptor di negeri ini subur merata, sekolah hanya sebatas transfer kognitif semata.

Walaupun upaya penanaman nilai telah ada, melalui pendidikan agama di sekolah, namun figur teladan belum merata di sekolah. Masih banyak guru yang merokok di depan siswa, sementara di sisi lain guru pula yang melarang siswanya untuk tidak merokok.

Ini seolah-olah guru jilat ludah sendiri. Bermuka dua. Bertopeng pula. Kalau di kalangan guru perempuan, paling umum itu adalah berpakaian seksi. Seragam atasnya sudah rapi, tapi bawahannya terbelah, sehingga betis dan di atasnya terlihat. Kasus ini lebih banyak ditemukan pada guru muda. Guru tua jadi iri dibuatnya.

Ketidakmerataan figur teladan inilah yang menyebabkan siswa berpikir ulang tentang larangan. Mereka akan berpikir balik apakah sebuah larangan itu benar-benar bermanfaat bagi mereka, sementara guru sendiri melanggarnya. Jadi, sekali lagi, siapakah yang perlu dibina? Guru atau siswa? Siapakah yang berhak mendapatkan Full Day School? Pendidik atau yang dididik? Kalau sekolah sekadar sekolah, monyet di hutan juga bisa.

Mari konsep pendidikan ini agar lebih baik lagi. Bak pepatah lama, “Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua.” Artinya mampu menyampaikan maksud dengan cara yang tepat. Mendikbud juga harus seperti itu, pandai menyampaikan wacana. Jangan sampai wacana sekolah sekadar sekolah.