“It is the great lesson of humility which science teaches us, that we can never be omnipotent or omniscient, is the same as that of all great religions: man is not and never will be the god before whom he must bow down.” (M. R. Cohen)

Tampaknya sudah menjadi miskonsepsi yang populer di beberapa kelompok intelektual bahwa, jika seseorang adalah seorang yang liberal-humanis, maka sudah seharusnya ia akan mengadopsi cara pandang yang skeptis, bahkan kritis, terhadap iman religius. 

Ini karena keimanan religius dipandang sebagai halangan bagi terciptanya tatanan masyarakat yang bebas dan beradab. Richard Dawkins, misalnya, mengatakan bahwa agama adalah kegilaan (delusi), dan Christopher Hitchens menyebut agama sebagai racun.

Miskonsepsi ini bisa dimaklumi karena dalam sejarahnya keimanan religius kerap menjadi sebab terjadinya kerusakan, perang, dan persekusi. Hal ini tidak berubah di era kontemporer ini, di mana peran sosiologis agama tampak kerdil di hadapan perkembangan sains dan teknologi. Bukan cuma kerdil, agama justru tampak seperti penyakit mengganggu yang mesti segera diobati.

Sebagai seorang liberal, saya mesti tidak bersepakat dengan cara pandang tersebut. Bagi saya, agama bukan saja memainkan peran penting dalam perkembangan ide kebebasan dan individualisme, tetapi justru menjadi spirit utama dari liberalisme itu sendiri.

Pertama-tama, harus dipahami bahwa inti dari keimanan religius di dalam liberalisme bukanlah soal pembuktian keberadaan Tuhan melalui kerangka sains dan rasionalisme. Ini cara pandang yang keliru. Tidak seperti Dawkins dkk., para pemikir liberal, mulai dari John Locke hingga Friedrich Hayek, tidak pernah mamandang agama sebagai fondasi pengetahuan empiris mengenai dunia di sekitar kita, tetapi sebagai pedoman perilaku.

Sebagai pedoman perilaku, agama adalah semacam heuristics, yakni metode pemecahan masalah yang tidak optimum karena keterbatasan akal dan kapasitas intelek manusia di hadapan ketidakpastian dan kompleksitas, tetapi menjadi valid karena sudah terbukti survive dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Di dalam percakapan sehari-hari, heuristics disebut juga sebagai rule of thumb atau educated guess. Selain agama, contoh lain heuristics adalah praktik mencuci tangan di kalangan bidan di pertengahan abad 19 di Budapest, yang menyelamatkan banyak nyawa ibu dan bayi yang baru lahir. 

Tidak seperti anggapan banyak orang, praktik mencuci tangan sebelum proses persalinan adalah “penemuan” medis yang lahir dari dugaan belaka, tanpa bukti empiris nan ilmiah. Penjelasan “rasional” untuk praktik mencuci tangan itu baru datang belakangan.

Kedua, dalam perspektif liberalisme, kepercayaan terhadap “Tuhan” atau entitas teologis adalah sumber skeptisisme terhadap otoritas keduniawian yang paling ampuh. 

Bagi John Locke, kebebasan individu dianggap sebagai hak alamiah, yakni hak yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengembangkan potensi dan kapasitas dirinya kepada tahap yang paling maksimal. Hak individu ini tidak bisa diberikan oleh otoritas keduniawian, karena para filsuf liberal sadar: hak yang diberikan oleh manusia selalu bisa dicabut oleh manusia pula.

Dalam perspektif ini, agama di dalam filosofi liberalisme adalah semacam pengakuan terhadap kedaifan manusia: tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang punya kapasitas untuk menjadi tuan bagi manusia lainnya, kecuali Sang Khalik.

Memisahkan liberalisme dari karakteristik teologisnya ini memiliki konsekuensi yang tidak kecil. Pertama-tama, memisahkan liberalisme dari karakteristik teologi kedaifan ini membuka ruang bagi masuknya ide dan filosofi yang sangat illiberal, yakni kepercayaan pada efektivitas perencanaan/rekayasa sosial.

Ketiadaan aspek teologi di dalam liberalisme dapat berujung pada kepercayaan antropologis yang keliru bahwa manusia, dengan kapasitas intelektualnya, dapat mengatur dan membentuk masyarakat sesuai dengan keinginan dan rencana-rencananya. 

Konsekuensi berikutnya dari sini: kita mulai percaya pada otoritas keduniawian untuk mulai mengatur-atur hidup kita sebagai anggota masyarakat. Wujud otoritas keduniawian ini bisa banyak, tetapi yang paling lazim adalah kepercayaan terhadap otoritas dan karisma para politisi dan pakar sosial.

Padahal, kepercayaan terhadap social planning inilah musuh liberalisme sesungguhnya. Buku The Road to Serfdom yang ditulis Friedrich Hayek adalah traktat peringatan yang komprehensif terhadap bahaya kepercayaan yang berlebihan pada efektivitas social planning, serta pada kapasitas intelek manusia untuk melakukan planning semacam itu.

Satu-satunya antidot bagi kekeliruan antropologis ini adalah keimanan religius, di mana kita mengganti semua kepercayaan kita terhadap otoritas keduniawian dengan otoritas yang lebih tinggi dan impersonal. Substitusi dari kepercayaan terhadap otoritas keduniawian dengan otoritas impersonal inilah, bagi saya, spirit utama dari liberalisme yang sesungguhnya.

Maka sungguh sangat keliru apabila kelompok liberal begitu saja mengadopsi kritik yang salah alamat terhadap agama dan keimanan religius sebagaimana yang disodorkan oleh pemikir-pemikir new-atheists seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens, dkk.

Sebagaimana sudah saya jelaskan sebelumnya, kekeliruan para new-atheists ini pertama-tama terletak pada miskonsepsi mereka yang menganggap bahwa, dalam banyak hal, signifikansi dari peran “takhayul” yang bernama agama di dalam kehidupan sosial ini adalah soal pembuktian keberadaan Tuhan.

Padahal, di dalam diskursus liberalisme, peran agama lebih berat sebagai pedoman perilaku dan justifikasi filosofis terhadap ide kebebasan individu dan skeptisisme terhadap otoritas keduniawian.