Wartawan, atau jurnalis adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik. Menulis berita berupa laporan dari nara sumber terpercaya, kemudian tulisannya dikirim ke redaksi media yang disertai dengan beberapa foto hasil liputan untuk diterbitkan. Seorang wartawan mencari sumber berita yang objektif yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sebagian masyarakat memandang seorang wartawan itu keren. Kerjanya enak. Santai, selalu jalan-jalan, sering bertemu artis, pejabat negara hingga presiden. Banyak yang menginginkan pekerjaan ini. Tapi jangan harap kalian mampu bekerja di lapangan sebagai pemburu berita kalau tidak siap mental. Hanya dalam dua tahun saya menjadi wartawan saya sudah mengalami tantangan-tantangan itu.

Nah buat kamu yang ingin menjadi wartawan perhatikan beberapa hal berikut agar mental kalian tidak kendor saat di lapangan.

1. Siap diusir narasumber

Diusir narasumber tentu membuat hati kita kecewa. Apalagi jika berita yang kita buru itu sedang hangat-hangatnya untuk diangkat. Kejadian seperti ini sering terjadi pada beberapa wartawan. Termasuk saya, saya pernah diusir ketika saya mendatangi sebuah perusahaan konveksi. Saat itu saya ditugaskan untuk menggali informasi tentang kain tradisional yang dipakai oleh brand terkenal dunia yang berbasis di Paris, Perancis.

Dengan menunjukkan surat tugas dan ID Pers, saya masuk ke halaman untuk mencari narasumber yang saya butuhkan. Tapi tanpa babibu saya langsung diusir oleh seseorang yang mengaku orang tua dari pemilik perusahaan. Alasannya sangat klasik. Dia menyuruh saya keluar dan langsung menutup dan mengunci pintu gerbangnya. Kecewa sudah pasti.

Hal pertama yang kalian harus tahu adalah bagaimana menyikapi jika suatu saat kalian diusir nara sumber saat datang untuk wawancara. Tetap tenang dan jangan emosi. Karena wartawan harus professional.

2. Siap dibilang songong kalau menolak amplop dari narasumber

Kejadian ini juga kerap kali terjadi. Dan kalian harus tahu, wartawan tugasnya melaporkan berita, meliput acara-acara yang memiliki informasi bernilai bagi masyarakat. Namun, adakalanya, narasumber memberikan sesuatu diluar konteks pemberitaan, contoh memberikan amplop berisi uang. Nah kalau mental kalian tidak siap dengan godaan amplop yang menggiurkan ini jangan dulu coba-coba menjadi wartawan. Di lapangan kalian pasti akan sering menemukan godaan ini.

Narasumber yang baik saat kita wawancarai gak segan-segan ngasih amplop dengan alasan untuk ganti uang bensin kita. Menggoda memang, tapi sekali lagi tugas wartawan adalah mencari berita yang bisa diinformasikan kepada masyarakat dari narasumber terpercaya.

3. Siap dikomplain narasumber

Hal satu ini juga sering terjadi di dunia jurnalistik. Kadang-kadang kita salah menuliskan gelar atau nama nara sumber. Kadang-kadang pemberitaan yang ditulis wartawan membuat narasumber merasa dipojokkan, padahal penulisan sesuai dengan hasil wawancara dengan narasumber. Tapi setelah berita terbit narasumber tidak terima dengan pemberitaan yang ada.

Dalam konteks seperti ini wartawan sering dihubungi oleh narasumber dan komplain ke wartawan yang menulis berita itu. Nah hadapi narasumber seperti ini dan jangan nge-down. Karena wartawan juga manusia, kadang ada kesalahan menulis itu wajar. Ditambah dengan jam deadline yang serba urgent dan mendesak.

4. Siap  disomasi

Dalam menjalanakan tugas jurnalistik, wartawan selalu berpegang kepada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dua regulasi itu menjadi pegangan pokok setiap wartawan dalam menjalankan tugasnya. Atau bisa juga disebut dua regulasi itu “Kitab Suci“nya para wartawan.

Tapi, tulisan kita tetap bisa saja dianggap melanggar kode etik jurnalistik itu. Seperti halnya jika melakukan tindakan plagiarisme itu sangat melanggar kode etik jurnalistik dan melanggar Undang-undang tentang pers. Pelanggaran plagiarisme berpotensi mendapatkan somasi dan tentu saja melanggar etika jurnalistik.

Sebagai seorang wartawan kita harus kreatif, kritis, analisis, dan produktif menghasilkan karya jurnalistik sesuai dengan aturan yang kita pegang, karena hal itu juga menentukan kredibilitas kita sebagai seorang wartawan.

5. Siap kehilangan perangkat kerja saat menjalankan tugas

Memang tidak semua wartawan harus mengalami nasib naas seperti itu. Tapi kejadian yang bersifat tak terduga bisa saja terjadi kan? Misalnya dalam sebuah peliputan yang punya nilai berita tinggi, dan mempengaruhi sudut pandang publik, mau tidak mau kita harus nyanggong nara sumber yang menjadi target wawancara.

Dalam kondisi seperti itu kita tidak pernah tahu sampai berapa lama nara sumber itu akan muncul. Sepanjang kita berjam-jam menunggu pasti bosan juga kan, kewaspadaan menurun, yang ada di kepala hanya satu. Fokus pada nara sumber yang kita sanggongin. Nah, nara sumber muncul pasti sepontan kita akan lari mengejarnya. Saat itu pula kita lupa dengan barang yang kita bawa. Hilang dan raib entah kemana.

Misalnya kasus yang terjadi pada teman saya, saat meliput pembukaan border internasional di Bandara Ngurah Rai Bali. Penantian narasumber yang cukup memakan waktu, akan berpengaruh terhadap alat kerja, seperti ponsel perekam, saat itu alat kerja itu di recharging sambil menunggu nara sumber. Giliran narasumber datang, spontan dia memburunya. Alhasil alat kerja yang sedang di isi ulang batreinya tertinggal dan hilang.

Jadi jika kalian mau jadi wartawan harus siap dan iklash jika harus kehilangan perangkat kerja Anda demi sebuah berita.

6. Siap menghadapi ban pecah, kehabisan bensin dan zig zag di jalan raya

Kejadian-kejadian seperti ini juga sering muncul ketika seorang wartawan sedang menjalankan tugasnya di lapangan. Tuntutan berita menjadi yang utama, kita pasti akan mengabaikan hal-hal kecil seperti bensin tipis, kondisi kendaraan yang kurang prima. Tapi kalau tugas sudah memanggil, tidak ada alasan lagi dan tidak ada waktu lagi untuk berpikir yang lain. Yang penting tancap gas.

Ternyata di jalan kita harus mengalami ban pecah, kehabisan bahan bakar. Saya juga mengalami hal ini, saat itu harus meliput sebuah acara musik. Tapi ketika sampai di bypass, tiba-tiba motor berhenti. Naas, motor saya kehabisan bensin. Dan saya harus mendorong di tengah terik matahari.

Meski sudah zigzag di jalan raya, seorang wartawan harus tetap bisa mengatasi kondisi-kondisi sulit di lapangan. Dan tetap konsisten dengan tugasnya.

7. Siap menghadapi situasi yang tidak jelas

Seperti halnya kita kehilangan barang perangkat kerja seperti paparan sebelumnya, seorang wartawan harus sabar menunggu dan mampu mengatasi rasa jenuh. Terutama ketika wartawan berada di lokasi peliputan yang cukup jauh dari pemukiman warga, warung atau tempat lain yang bisa membunuh rasa jenuh kita.

Wartawan berkomitmen menunggu hingga narasumber itu datang. Namun ternyata agenda tiba-tiba berubah. Si narasumber batal hadir di tempat itu. Berjam-jam usaha menunggu hanya membuahkan rasa lapar dan bosan. Jadi jika kalian ingin menjadi wartawan kalian harus siap dengan tantangan yang satu ini.

Seperti yang saya alami ketika meliput Menparekraf di salah satu hotel di Sanur. Dari agenda awal jam 10 pagi, saya sudah siap di lokasi satu jam sebelumnya. Ternyata setelah lewat jam 10 pagi, ada perubahan agenda menjadi pikul 14:00. Jujur saja saat itu saya belum sarapan. Karena informasi peliputannya yang mendadak saya terima, saya langsung cabut ke lokasi. Saat menunggu inilah rasa lapar itu muncul sementara saya harus bertahan di TKP sampai narasumber datang. Dan ironisnya tidak ada ransum untuk pengganjal perut.

Beberapa pengalaman yang saya tulis di atas bukan untuk melemahkan kalian yang ingin berkarir di dunia jurnalistik. Justru jadikan itu sebuah tantangan yang akan menggembleng mental, jiwa, keberanian dan intelektualitas kita menjadi seorang jurnalis yang tangguh.