Kalau Jodoh Tidak Kemana

Aku dua bersaudara yang terpaut tidak terlalu jauh, Kakakku namanya Surya dia cukup sukses diusia muda dengan menjadi manajer di perusahaan ternama di jakarta. Hanya terpaut tiga tahun tetapi soal rejeki dan pekerjaan bagai langit dan bumi.

Setelah dua tahun jobless akhirnya dapat pekerjaan di kota Jogjakarta, Kota impian orang-orang jakarta untuk liburan. Aku tipe orang yang tidak suka jauh dari rumah, jadi memilih pulang pergi untuk bekerja.

Perjalanan dengan kereta api adalah suatu yang menyenangkan, Prameks Jogja solo menjadi saksi perjalananku setiap hari. Domisili di sekitar Kota Surakarta dan mendapat pekerjaan di Jogja, membuat hidupku habis diperjalanan. Senin sampai jumat setiap pagi aku sudah ada di stasiun solo balapan. Stasiun  ini aku pilih karena bisa menitipkan sepeda motor bututku, hehehe maklum masih berjuang mendapatkan finacial freedom kata para trainer.

Sudah setahun menjadi pelanggan prameks tidak ada yang yang istimewa terjadi. Setelah naik kereta para penumpang cenderung asik dengan gadgetnya atau ada yang melanjutkan tidurnya. Mungkin semalam begadang jadi kurang tidur. Perjalanan pulang dari Jogja pun seperti itu dari stasiun tugu aku selalu setia untuk pulang ke Surakarta. Lelah seharian bekerja sudah menjadi rutinitasku.

Pagi ini aku sedikit terlambat bangun, semalam menonton pertandingan sepakbola liga inggris kesukaanku. “ Waduh terlambat nih “ ucapku dalam hati. Sedikit ngebut aku memacu motor bututku. Colomadu tempat tinggalku cukup padat pada pagi hari. Kecamatan sebelah barat dari kabupaten Karanganyar adalah tempat tinggal favorit bagi warga Solo dan sekitarnya, jadi setiap pagi pasti padat akan aktivitas pergi ke Kantor maupun sekolah.

Sampai Pasar Nongko kira-kira lima menit sebelum stasiun motorku pecahban. Waduh bisa terlambat ini berangkat ke stasiun. Setelah mendorong motor sekitar 100 meter ada tukang tambal ban. “Alhamdulillah akhirnya nemu tukang tambal ban” bathinku.

“ pak tambal roda motor ya”, “iya mas” jawab yang tukang tambal sambil asyik memompa motor yang baru saja selesai.

“ Taruh agak kepinggir sana mas” ucapnya, “ iya pak” jawabku. Aku kaget ternyata ada sekitar tiga motor yang antri di tempat tambal ban bapak itu. Pak Udin namanya setelah sedikit ku berbincang denganya. “ waduh pak bisa ngak saya duluan dikerjakan kereta saya lima belas menit lagi berangkat.”

Sedikit tegas Pak Udin menjawabku “Maaf mas semua harus antri”, sedikit gusar aku menoleh kiri kanan. Bingung dan gelisah cukup tersirat di wajahku yang sedikit memerah.” Mas mau ke Stasiun ya??” , “iya mbak ini takut ketinggalan kereta pukul 7.00”, Jawabku.” Bareng saya aja kebetulan saya juga ke stasiun”. Wah dengan wajah berseri-seri dan raut muka yang sangat ceria aku bilang “ wah terima kasih mbak sebentar saya titip motor saya ke pak udin”, “ Pak saya titip motor saya dulu ya nanti sore saya ambil”. “ iya mas ngak papa saya tutup jam delapan malam kok”.

Dengan semangat empat lima saya bareng mbak tadi, “maaf mbak namanya siapa”, “Dini” jawabnya, “ wahyu “ Ucapku sambil mengulurkan tangan. Duduk di depan motornya saya melaju ke Stasiun Balapan sedikit tergesa-gesa akhirnya sampai stasiun. “ Terima kasih mbak Dini tumpangannya ”ucapku, “ Iya mas sama-sama” jawabnya.

***

Sebulan kemudian aku ketemu lagi dengan Mbak Dini di sebuah acara kantor yang diselenggarakan kantorku. Acara itu kebetulan ada di Klaten, Kantorku perusahaan dibidang event Organiser sehingga banyak menangani acara-acara perusahaan atau instansi pemerintah, Mbak Dini cukup sukses dan mandiri dengan usia mudanya sudah menjadi supervisor diperusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. Dia suka ke Kantor dengan motor karena lebih praktis, kantornya terletak tidak jauh dari stasiun solo balapan. “ Pake mobil ribet yu” ucapnya saat kutanya kenapa tidak pake mobil saat kekantor, walaupun dapat fasilitas kendaraan.

Sejak pertemuan itu aku semakin akrab dengan mbak dini banyak hal kita bicarakan, dari soal kerjaan dan lain-lain. Sebenarnya antara aku dan mbak dini tidak ada yang spesial karena kami sudah sangat akrab bagai dua sahabat yang sudah lama bertemu. Kesulitanku menghadapi pekerjaan sering kuceritakan ke mbak dini, dan dia selalu memberiku solusi yang selama ini tidak terpikirkan olehku. Mbak dini penyelamatku dech.

Mbak dini cerita, dulu punya kekasih yang sangat dia cintai, tetapi hilang kontak karena saat ada janjian yang ditentukan dia tidak bisa datang, padahal kekasihnya mau pergi jauh. “ Saat itu yu belum ada hape” ucapnya. “ Yah mungkin tidak  jodoh kali ya”. Saat waktu yang ditentukan orang tua mbak dini sakit keras, jadi harus diantar kerumah sakit, mbak dini belum sempat memberitahu kekasihnya karena siang harus merantau jauh. 

Ceritanya suatu kali saat kita ngopi bareng di rumah makan sederhana di Kota Surakarta. “ Aku kasian mendengar kisah mbak dini”, Selama berbulan-bulan aku mencari informasi mengenai kekasihnya itu, Itung-itung balas budi sama mbak dini yang selama ini membantuku. Semua informasi yang dia utarakan sudah coba kutelusuri, tempat biasa bertemu ataupun tempat-tempat mereka biasa makan bersama. Semua hasilnya nihil, akupun mulai putus asa.

Mbak Dini malah yang lebih realistis, “ngak usah dicari lagi yu” ucapnya, “daripada nanti ketemu dia sudah berkeluarga bagaimana? Bukanya malah menyakitkan” lirihnya kepadaku. Aku hanya bisa menerawang jauh sedikit menetaskan air mata walau cepat kuusap takut ketahuan mbak dini. Perjuanganku mencari pacar mbak dini sudah berakhir dengan tidak menemukan titik terang keberadaannya. 

 

 

 

 

 

 

Dalam hati kecilku  aku sangat kagum dengan Mbak Dini selain cerdas, dia juga orang yang tulus dan baik hati. Sebenarnya ada rasa sanyangku pada mbak dini, tapi rasa hormatku mengalahkan rasa itu. Aku lebih baik berteman dengan mbak dini selamanya daripada menjadi kekasihnya. Karena kekasih ada saatnya terjadi perpisahan.

***

Hari ini kakakku Surya kembali ke Surakarta, setelah merantau empat tahun di Jakarta dia pulang kerumah dengan harapan bisa dicarikan jodoh oleh orang tua kami. Maklum kakakku ini termasuk orang yang kaku dan sedikit kurang gaul kalau soal wanita, disamping pekerjaannya yang cukup padat dia juga orang yang cuek akan lingkungannya.

Wajah Orang tua berbinar cerah saat Mas Surya sampai.” Pak e Surya tolong carikan Jodoh”, Ucapnya. Bapak cukup bingung saat surya mengucapkan itu, “ Sur masak jaman sekarang masih ada yang dijodohkan orang tua??”, ucapnya. “ Iya pak e Surya tolong carikan di Jakarta tidak ada yang cocok dengan Surya”.

Semalaman kami semua kebingungan mencarikan Jodoh buat Kakakku itu, dari semua kerabat yang kami punya rata-rata sudah berkeluarga yang perempuanya. Tinggal satu malam lagi mas Surya akan pergi lagi keJakarta, tapi kami belum dapat jodoh maupun kenalan yang akan dipilihkan pada mas Surya. Malam terakhir ini ku ajak sekeluarga makan di luar. Resto mang engking tempat nyaman untuk makan dan bersantai, tempat lesehan ditengah-tengah ada danau yang luas. Mas surya senang sekali ku ajak makan malam, apalagi orangtuaku. Setelah sampai di lokasi kami pesan tempat duduk di lesehan yang cukup luas cukup untuk enam orang.

Kami berbincang cukup seru, cerita masa kecil kami, masa saat – saat orang tua kesulitan keuangan dan lain-lain. Tidak ketinggalan cerita mas surya yang sering keluar negeri karena perjalanan dinas dan lain-lain, Saat seru-serunya cerita telponku berdering.”Yu longgar ngak makan malam yuk di angkringan”suara Mbak dini yang baru kelar meeting suntuk katanya. “Siapa Yu?” tanya Bapakku, “Mbak Dini pak ngajak makan malam”, Jawabku. “ya udah suruh kesini aja sekalian mumpung kita belum pesan, Sekalian tanya mau pesan apa?”, “Ya pak Jawabku”.

Orangtuaku cukup tahu mbak Dini karena aku sering menceritakanya, walau mbak dini belum pernah kerumah. “mbak sekalian kesini saja ke mang engking kami sedang makan malam” jawabku ke mbak dini. Mbak dini setuju dan memesan makanannya sekalian.

Rupanya malam itu cukup ramai pelanggan di Mang Eking, sehingga cukup lama pesanan kami kami baru datang. Beberapa saat setelah makanan datang, Mbak Dini tiba di lokasi karena sudah kuberitahu nomor lesehan tempat kami makan malam.

Malam itu mbak dini mengenakan blaser hitam dengan bawahan rok panjang, rambutnya terurai sebahu.” Ayo mbak langsung aja, ini makananya baru datang ucapku saat mbak dini datang “. Mbak dini hanya diam mematung tanpa kata-kata, Tubuhnya kaku dan gemetar. “Mbak kenapa mbak” Ucapku” Mbak Sakit” cerocosku saat itu. Aku kebingungan dengan situasi itu, kutoleh orang tuaku pun demikian. Tanpa kusadari Kakaku Mas Surya berdiri tergesa-gesa,” “Kamu Nisa”, ucapnya. “ Kamu Reza” ucap mbak dini”. Mereka sempet lama saling pandang dan menerawang. “Hmhmhm ucap bapak” ucap Bapak” Ayo duduk dulu”. Aku semakin bingung yang terjadi setelah keadaan tenang mas surya menceritakan semua kronologinya jaman dulu. 

Mbak Dini mengenal Mas Surya dengan Reza, Karena Nama Mas Surya (Reza Surya Dinata), Sedang Mas Surya Mengenal Mbak Dini dengan Nisa Karena bernama panjang (Dini Hairun Nisa).

Malam itu menjadi saksi kalau berjodoh tidak kemana, Mas Surya membatalkan keberangkatanya Ke Jakarta dan meminta cuti untuk lamaran dan menikah dengan mbak Dini. Ya tuhan selama ini aku banting tulang mencari keberadaan kekasih mbak dini ternyata itu Mas Surya.