Kenapa kasus isu buku bajakan tidak penah berhenti? Pembeli buku bajakan tidak pernah usai? Jangan sekali-kali menyalahkan pembeli, selama penjualan buku bajakan itu masih ada!  

Kasus soal buku bajakan sering saja naik down dalam isu trending topic dari waktu ke waktu. Kadang muncul secara tiba-tiba di sosial media dan menjadi isu perbincangan, akan tetapi isu itu juga dapat mengalami penurunan secara drastis dalam daftar tema perbincangan. Dan tentu semua tahu kalau isu tersebut masih menimbulkan banyak perspektif pro kontra.

Mulai dari penulis-penulis papan atas seperti Muhidin M. Dahlan, Puthut Ea dan juga tak terlupakan Tere Liye. Sampai kepada penulis yang tidak terkenal, juga ikut memberikan komentar terkait dengan kasus buku bajakan. Sudahlah tidak penting juga saya sebutkan namanya, lho kok dia nggak terkenal, ngapain saya sebutkan yang nggak terkenal. Wqwqwq.  

Seperti yang saya katakan di awal kalau isu ini kadang menjadi trending topic, dan seketika itu juga dengan cepat ditenggelamkan isu yang lain. Sebenarnya saya tidak ingin ungkit isu ini lagi, lho isu ini sudah basi dan minggat jadi perbincangan di web Mojok bersama Terminal Mojoknya itu. Tetapi saya yang tidak tahu diri ini, kok bisa-bisanya ingin juga berkomentar terkait isu kasus buku bajakan. Siapa sih saya? Punya peran apa saya dalam dunia tulis menulis?

Pertama, isu kasus buku bajakan sudah bukan lagi trending topic dan sudah ditenggelemkan dengan isu "perseturuan politik Ganjar Pranowo-Puan Maharani," tidak lama berselang, muncul lagi isu "Sinetron Indosiar, Suara Hati Istri: Zahra," tetapi sekarang isu itu tenggelam lagi. Artinya sudah berlapis-lapis ditenggelamkan.

Kedua, saya tidak seperti Muhidin M. Dahlan yang memang karyanya sudah tersebar luas. Dan saya juga tidak seperti Puthut Ea yang sekarang ini menjadi komentator kepala suku Mojok dengan gaya tulisannya dapat memukau para pembacanya,  termasuk saya pribadi. Lalu, apa gerangan diri ini berkomentar soal isu buku bajakan juga?

Sebetulnya secara tak sengaja akun halaman facebook Mojok langgar di laman beranda facebook saya dengan memuat tulisan soal buku bajakan. Tulisan itu terbitan Terminal Mojok dengan judul "Semiskin-miskinnya Kita, Nggak Ada Pembenaran Sama Sekali untuk Beli Buku Bajakan." Padahal artikel itu terbit tanggal 23 Juli 2020, lho kok muncul lagi di beranda facebook dan menjadi status yang baru, kan itu sudah basi?

Pikirku, mungkin isu mengenai buku bajakan tidak pernah terselesaikan dari tahun ke tahun. Mengingat kasus buku bajakan dari dulu hingga sekarang tidak akan berhenti beroperasi, selama tidak ada penanganan khusus soal perederan buku bajakan.

Kembali pada topik masalah kenapa saya ingin juga menulis isu ini? Meskipun saya terkesan tidak tahu diri juga. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa saya terobsesi dengan artikel terbitan Terminal Mojok tahun 2020 itu. Di mana judul dari tulisan itu seakan memojokan para pembeli buku bajakan. Namun, isinya tidak ada kritikan kepada orang yang memproduksi buku bajakan.  

Jadi begini! "selama masih ada penjualan buku bajakan, selama itu pula akan ada pembeli buku bajakan." Dan mestinya itu diterima sebagai sebuah realitas yang terjadi di masyarakat. Tentu hal itu tidak mungkin kita menafikkan. Iya kan.  

Pikirku, janganlah terlalu menyudutkan para pembeli buku bajakan. Kalau mau, situ aja tumpas orang-orang penjual buku bajakan yang dapat menari bebas di negeri ini. Masalah akan selesai, produksi penjualan buku bajakan sudah tumpas, tentu pembeli buku bajakan juga akan tumpas. Simpel kan, gitu aja kok repot, kata Gusdur.

Artikel tersebut menjelaskan pengalaman penulis yang tekun dan konsisten untuk terus menabung meskipun dalam keadaan serba kekurangan, sehingga dalam setahun ia mampu menyisakan uang untuk pembeli buku ori. Ya, saya sangat apresiasi dan haru, saya acungkan dua jempol dan kalau bisa saya berikan sepuluh jempol. Saya sangat mengakui kalau hal itu adalah suatu kebaikan yang hakiki pada diri manusia.

Namun, tidak sepakatnya saya karena membawa-bawa soal kemiskinan dan orang miskin. Sudah miskin lho kok disudutkan, kok yang lemah ditindas, ditindas para penguasa yang tidak bertanggung jawab.

Masalahnya bukan karena mereka tidak mampu menabung untuk membeli buku ori, tentu bukan itu. Tetapi perlu juga diketahui kalau minat baca orang tidaklah sama semua, disisi lain juga isi buku sama saja. Orang yang tidak mempunyai dompet tebal, tetapi disisi lain pengen punya banyak buku. Tentu mereka berpikir bukan pada orinya, tetapi isi dari buku itu. Untung-untung sih dapat membeli buku dengan jumlah banyak dan harga murah. Sudah murah, sedikit modal, dapat membeli banyak buku dan isi sama saja. Itu kan lebih banyak kebermanfaatannya.  

Katanya juga dalam tulisan tersebut telah melanggar kode etik penulis, tidak menghargai penulis dan melanggar undang-undang hak cipta. Kalau dikatakan benar, mungkin ia mungkin tidak. Akan tetapi, kenapa yang disoriti justru pembeli, bukan orang yang memproduksi buku bajakan? Saya pikir yang lebih melanggar undang-undang hak cipta adalah orang-orang yang memproduksi buku bajakan, bukan pembelinya. Apakah salah kalau konsumen lebih mengedepankan ilmu suatu buku?

Jadi, sekali lagi jangan pernah menyudutkan para pembeli buku bajakan, apalagi sampai-sampai membawa masyarakat miskin. Situ tumpas aja para penjualan buku bajakan kalau ingin penjualan dan pembelian buku bajakan tidak marak terjadi. Kalau pun dikatakan masalah hak cipta, jelas para penjual buku bajakan lebih melanggar hak cipta dan tidak menghargai penulis ketimbang para pembeli buku bajakan.

Malah saya teringat tulisan esai dari Muhidin M. Dahlan dengan judul "Tere Liye dan Eka Kurniawan Itu Tidak Berbahaya sampai Mereka Membawa Polisi ke Rumah Pembajak Buku". Dengan demikian, kalau ingin kasus peredaran buku bajakan bisa hilang, pembelian buku bajakan juga minggat, maka lebih baik meniru dan mempraktekkan saran dari Muhidin M. Dahlan dengan membawa pihak berwenang untuk menangani bebasnya penjualan buku bajakan.