Kalau ndak dapat piala Oscar, ya mungkin piala Citra sajalah. Dadi wong iku sing solutif ngono lho yo (pakai aksen khas Bu Tejo).

Sosok Bu Tejo dalam film pendek berjudul “Tilik” menjadi sangat viral di media sosial. Begitu banyak yang mengutip perkataannya kemudian mengubahnya sebagai sebuah meme. Dan sudah begitu banyak juga tulisan yang berseliweran di banyak media online. 

Kalau pada akhirnya saya menuliskan tema ini, itu lebih karena saya rasa belum ada satu pun tulisan yang menyinggung tentang bagaimana bila "Tilik" dijadikan sebuah film panjang yang pada akhirnya mungkin bisa meraih piala Citra.

Sebab bagi saya “Tilik” bukan cuma Bu Tejo. “Tilik” adalah prototype sempurna sebuah film peraih piala Oscar, eh piala Citra. Kok bisa?

Setidaknya ada empat poin kenapa “Tilik” bisa meraih piala Citra. Yang pertama tentu dari aspek kualitas film itu sendiri. Walaupun dibuat lokalan, tapi rasa nasional, bro. 

Nuansa pedesaan digambarkan dengan begitu natural namun terlihat sangat artistik. Warna hijau persawahan dan pepohonan yang terlihat di sepanjang film memberikan perasaan adem bagi yang melihat. Berbanding terbalik dengan nyinyiran Bu Tejo yang bikin kuping panas. Dan inilah hebatnya “Tilik”. Bisa memberikan harmoni lewat adem dan panas, wkwkwk.

Belum lagi akting para pemainnya yang jempolan. Dialog dan ekspresi setiap pemain terasa pas. Mengalir begitu saja secara alami sehingga tidak terkesan dibuat-buat. 

Kalau Anda menganggap ini sesuatu yang mudah, coba bandingkan sinetron Indonesia yang akting para pemainnya tidak terkesan dibuat-buat dengan sebaliknya. Bisa 1 banding 100 kemungkinannya. 

Dan tentu saja kita harus memberikan kredit tersendiri untuk Siti Fauziah Saekhoni. Penghayatannya yang paripurna memberikan suatu “nyawa” bagi Super Villain -mengambil istilah dari Mas Ahmad Khadafi- perempuan bernama Bu Tejo. Tapi mulai sekarang hati-hati kalau jalan-jalan ke pasar ya, Mbak Siti. Penonton cewek, terutama emak-emak di Indonesia itu mengerikan lho. Bisa-bisa njenengan dicokot tenan lho.

Nah, poin kedua kenapa “Tilik” layak jadi kandidat peraih piala Citra adalah karena film ini banyak mengangkat budaya-budaya asli masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Mulai dari ngareti jempol untuk menahan kencing. Kemudian tilik yang berarti menjenguk orang yang sakit dan memberikan dukungan serta sejumlah uang kepada yang sakit. 

Hingga ngrasani atau ghibah secara berjamaah. Ingat, yang terakhir ini bukan budaya asli orang Jawa ya. Saya yakin ini sifat asal semua orang di dunia, senang mengomongkan orang lain, wkwkwk.

Lanjut ke poin ketiga. Film “Tilik” ini penuh dengan adegan dan dialog yang berisikan sindiran serta kritikan atas isu-isu sosial yang banyak terjadi di masyarakat. Misalnya di adegan naik truk bak terbuka untuk perjalanan jauh, serta adegan nyokot Pak Polisi. Ini tentu sindiran atas perilaku masyarakat yang sering mengabaikan peraturan, bahkan sampai melakukan kekerasan pada aparat penegak hukum. 

Kemudian adegan di mana Gotrek diberi uang oleh Bu Tejo. Kalau ini sindiran atas perilaku politik uang yang acap kali dilakukan saat pemilihan presiden, mengingat peluncuran film ini pada 2018, setahun sebelum pemilu presiden 2019 dilaksanakan.

Oh iya, ada satu dialog Bu Tejo yang bagi saya merupakan kampanye terselubung pilpres 2019. Dialog yang mana? Ya saat Bu Tejo berkata, “Trus ora single. Lek single iku nggowo uripe dewe ae abot, hora.” Siapa yang disindir? Ndak perlu saya terangkan deh, sudah lewat juga.

Poin terakhir dan merupakan poin yang terpenting mengapa “Tilik” bisa menang piala Citra, yaitu twist ending. Kalau ini memang berkaca dari film berbahasa asing pertama yang meraih piala Oscar, yaitu “Parasite”. 

Tidak bisa dimungkiri, salah satu alasan kenapa “Parasite” didapuk sebagai film terbaik adalah karena endingnya yang membuat para penonton tidak habis-habisnya membicarakan film ini. Benar-benar ndak kepikiran kalau endingnya akan seperti itu.

Dan bagi saya, “Tilik” berada di jalur yang tepat. Endingnya benar-benar bisa membuat yang nonton misuh-misuh dan ketawa sambil ngomong, “Ternyata yang bener Bu Tejo.”

Selain itu, twist ending “Tilik” benar-benar mendobrak kaidah dan pakem dari sinetron azab Indonesia. Kalau di sinetron azab, mungkin truk tadi akan berpapasan dengan orang nyebrang atau sepeda motor, dan Gotrek akan kehilangan kendali sehingga truknya nyungsep. Satu korban meninggal dunia, yaitu Bu Tejo.

Adegan kemudian berlanjut ke pemakaman Bu Tejo. Tapi setelah dikuburkan, kuburan Bu Tejo akan berubah warna menjadi hitam. Dan judul film “Tilik” akan diubah menjadi “Azab Wanita Suka Ghibah: Kuburnya Berubah Menjadi Hitam”.

Tapi walaupun sangat kagum dengan film ini terutama aktingnya Bu Tejo, saya berharap “Tilik” jangan sampai dibuat berseri kayak sinetron Tukang Bubur Naik Haji ataupun Tukang Ojok Pengkolan. Kalaupun sampai dibuat, saya rasa 100 episode itu sudah terlalu banyak. Ndak usah tanya kenapa. Dan juga jangan ngeyel. Njenengan eyel-eyel tak cokot tenan lho! Cokot!