Kalau dulu kertas hanya identik untuk menulis ilmu pengetahuan, informasi dan data yang ditemukan pada buku-buku, di tempat poto kopi, atau di percetakan. Hari ini kertas bisa mudah kita temukan dimana saja, di struk-struk belanja, pada struk ATM, di warung makan, hingga di pusat-pusat perbelanjaan dan bahkan tongkrongan, diakui atau tidak keberadaan kertas telah menjadi kebutuhan pokok manusia.

Sifat kertas yang biodegradable, yakni merupakan bahan dapat kembali ke alam karena dapat hancur terurai oleh mikroorganisme dalam waktu yang tidak lama, menjadikannya sangat ramah lingkungan. Hal ini pula yang menjadikan kertas sebagai salah satu solusi terhadap menggunungnya sampah plastik yang sebaliknya bersifat non-biodegradable alias tidak ramah lingkungan dan sulit terurai.

Namun demikian, semakin banyak permintaan atas produksi kertas maka akan semakin banyak pula penggunaan bahan baku pembuat kertas, yakni pohon. Dengan kata lain, semakin banyak manusia menggunakan kertas maka semakin luas pula hutan yang akan ditebang. 

Padahal fungsi pohon-pohon bukanlah untuk memenuhi kebutuhan produksi kertas. Hutan juga merupakan kebutuhan pokok untuk keberlangsungan hidup manusia dan mahluk lain, yakni sebagai habitat mahluk hidup, menjaga keseimbangan alam dan penyedia oksigen dan bahan makanan, hingga sebagai tempat penyimpanan air. 

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada waktu selanjutnya jika setiap hari pabrik-pabrik kertas terus memroduksi berton-ton kertas, ditambah dengan pola sikap masyarakat yang tidak bisa mejaga lingkungan dan berhemat penggunaan kertas?

Seharusnya di era digital seperti sekarang ini bisa menjadi jawaban atas permasalahan tingginya produksi dan konsumsi kertas, sebab dengan munculnya gawai-gawai canggih, sekarang tidak semuanya harus dikertaskan. 

Namun sedigital apapun zaman, jika paradigma masyarakat tidak dirubah untuk menggantikan apa yang biasa dikertaskan diganti ke dalam bentuk digital, produksi dan konsumsi kertas secara besar-besaran tetap akan berjalan. Masalahnya hanya satu, apakah masyarakat mau mengkonstruk ulang pola pikir yang selama menyelimuti mereka.

Kebanyakan dari masyarakat, berpikir bahwa memiliki benda harus berbentuk wujudnya, kita terlalu terfokus pada hal yang bersifat materi daripada substansi. Misalnya, pada dasarnya masyarakat akan cenderung lebih menyukai hal yang mereka bisa lihat wujudnya secara langsung dan mereka bisa rasakan. 

Memiliki buku asli yang bisa dipegang dan ada wujudnya akan terasa lebih menyenangkan daripada membaca e-book, begitu juga berjuta-juta poto yang ada di galeri smartphone pasti akan kalah dengan satu poto yang dicetak dan bisa dipegang wujudnya. 

Padahal jika kita berpikir ulang substansinya adalah sama, buku yang dicetakm asih sama-sama bisa kita baca dengan e-book, ilmu yang akan serap dari buku itu akan sama saja. Demikian juga dengan poto masih sama-sama bisa kita nikmati, baik yang dicetak maupun yang masih tersimpan di galeri gawai.

Selanjutnya, masyarakat seringkali bermasalah dengan adanya rasa kepemilikan. Buku ialah salah satu bentu manifestasi paling banyak penggunaan kertas, berapa ton kertas yang setiap hari digunakan di percetakan untuk menghasilkan buku-buku yang ada di toko-toko buku. 

Namun dalam pola pikir masyarakat memiliki buku secara langsung atau membelinya tentunya akan lebih menyenangkan daripada meminjam atau hanya sekadar memiliki ebooknya. Padahal untuk mengurangi kmonsumsi kertas bisa dilakukan dengan meminjam buku di perpustakaan atau jika sudah tersedia dalam bentuk e-book hal ini akan sangat membantu mengurangi penggunaan kertas. 

Selain itu, hal lain bisa dilakukan untuk menghemat kertas yakni dengan tidak berlangganan koran pribadi, namun membaca di tempat-tempat yang menyediakan membaca koran gratis, atau membaca di internet. Dalam hal ini, kesadaran yang harus kita bangun bahwa substansi yang ada pada buku bukanlah kepemilikannya, melainkan ilmu yang kita serap dari buku itu.

Salah satu pola pikir masyarakat terhadap sesuatu yang berbau digital ialah hal yang sulit atau ribet. Ini adalah konstruk pemikiran yang salah, sebab era digital dengan kemajuan teknologi ada untuk memudahkan kehidupan manusia. Dalam hal ini kampus ialah salah satu penyumbang sampah kertas terbanyak. 

Bagaimana tidak, setiap mahasiswa saat mengerjakan skripsi, baik mahasiswa maupun dosen setiap kali konsultasi akan memilih menggunakan skripsi dalam bentuk print out daripada berbentuk soft file, dengan alasan skripsi yang dicetak berlembar-lembar lebih mudah dikoreksi, begitu seterusnya setiap kali revisi berlembar-lembar kertas bahkan hingga berdus-dus hanya akan menjadi tumpukkan sampah dan terbuang. 

Padahal jika dilogikakan mencetak skripsi atau dokumen-dokumen lain dalam bentuk soft file jauh lebih memudahkan kita, selain tidak boros biaya, lebih efisien dan terpenting tentunya menghemat konsumsi kertas.

Permasalahan kertas ini adalah permasalahan sistemik, yang tidak menyangkut sebagian orang saja, namun semua elemen masyarakat. Kita sebagai konsumen diharuskan bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan cara berhemat kertas. 

Hal yang pertama harus kita lakukan ialah menyadarkan diri sendiri dengan merubah pola pikir, bahwa masalah kertas ialah masalah bersama, kertas adalah kebutuhan sebabitu kita juga menjaga kelestarian lingkungan, menghemat kertas berarti menjaga kelestarian hutan. 

Selanjutnya jika sudah terbentuk pola pikir yang demikian maka akan tercermin dalam pola sikap kesehariam kita. Mendigitalkan apa yang bisa didigitalkan ialah salah satu yang bisa kita lakukan. Misalnya, di beberapa toko sekarang sudah menggunakan sistem online untuk pemberian member card atau voucher belanja yang biasanya dalam bentuk kartu, selain bisa menghemat kertas juga lebih praktis. 

Hal lain juga, seperti undangan untuk acara-acara skala besar seperti undangan pernikahan, seminar, dan lain sebagainya bisa diganti melalui internet dengan menggunakan media sosial. Jadi, jika bisa didigitalkan mengapa harus dikertaskan.

Dikarenakan permasalahan kertas adalah permasalahan sistemik yang melibatkan seluruh kalangan, sehingga sangat penting kesadaran bagi pemerintah dan pelaku industri kertas. Tanggung jawab menjaga hutan dan pohon tidak hanya menjadi beban masyarakat, yang tidak kalah penting adalah para elite negeri ini, yakni pengelola pabrik-pabrik kertas. 

Mereka menggunakan hutan untuk mengambil bahan baku, dengan demikian para pemegang industri tersebut juga harus lebih bijaksana dalam mengelola hutan. Mereka harus memikirkan bagaimana bahan baku yang sudah habis dapat dilestarikan kembali.