2 tahun lalu · 14582 view · 5 menit baca · Politik islam2.jpg
http://angusreid.org

Kalau Ahok Menang, Apakah Islam Kalah?

Judul di atas adalah pertanyaan yang sangat layak kita renungkan saat ini. Di saat orang-orang Jakarta—bahkan mereka yang tidak kena-mengena dengan Jakarta—setiap hari membombardir kita dengan selebaran-selebaran, anjuran, ajakan, bahkan ancaman agar kita orang Jakarta memilih Gubernur Muslim. Sebuah selebaran paling kasar yang sampai ke gadget saya berbunyi begini: “Alqurannya udah gue hina. Ulamanya udah gue lecehin. Lo masih milih gue. Dasar lo, bego! Hahahaha.” Tulisan itu disertai latar foto Ahok yang sedang tertawa bangga.

Itulah bagian dari kampanye negatif dan hitam yang kini masih bertubi-tubi diarahkan kepada pasangan calon nomor urut dua Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.

Tentu sebagian kita sadar dan tahu bahwa selebaran itu hanya dusta. Bahkan orang-orang sederhana di Kepulauan Seribu yang mendengar langsung ujaran Ahok yang dituduh menistakan Alquran pun tahu bahwa itu bagian dari keculasan Pilkada belaka. Buktinya, tatkala Ahok berkampanye di sana akhir Januari lalu, mereka menyambut Ahok dengan tabuhan rebana nan meriah, penuh suka cita, bernuansa cinta.

Tapi begitulah. Inilah momen panas politik. Momen tatkala orang-orang ingin menang dengan segala cara, bahkan cara-cara paling culas sekalipun. Di antara keculasan itu dengan memperhadapkan pilihan politik warga Jakarta dengan keyakinan keagamaan pribadi mereka.

Trik-trik ini bisa dimaklumi karena sampai Oktober 2016, Ahok sebagai pertahana memang dianggap sebagai Gubernur yang cakap, mumpuni, terlalu digdaya. Tingkat kepuasan masyarakat Jakarta atas kinerjanya tak pernah lebih rendah dari angka 50%.

Jika anda telaten membaca ulasan-ulasan survei LSI Denny JA sejak Oktober 2016, anda akan tahu bahwa cara paling mujarab untuk mengalahkan Ahok hanya dengan memainkan isu agama dan etnis. Dari rekomendasi seperti itulah kekisruhan bermula. Lembaga survei membuat studi dan rekomendasi, disambut pemain-pemain politik bagaikan firman suci, dijalankan oleh ormas-ormas Islam di lapangan sehingga Jakarta tampak tidak aman dan bobrok di bawah kepemimpinan Ahok. Faktanya tentu jauh panggang dari api!  

Kini, lima hari menjelang pencoblosan, tampak jelas bahwa elektabilitas Ahok masih cukup kokoh. Survei Indikator Politik Indonesia per hari ini masih menempatkannya di posisi teratas dengan angka 39.04%. Anies-Sandi melejit ke angka 35.36%, sementara Agus-Sylvi terapung di angka 19.45%. Besar kemungkinan, Ahok-Djarot akan bersaing dan bertanding melawan Anies-Sandi di putaran kedua, sementara Agus-Sylvi terpaksa gigit jari sampai di sini.

Lantas jika Ahok tetap unggul seperti ini, apakah artinya faktor agama tidak mempan mempengaruhi pemilih Jakarta? Apakah kemenangan Ahok dapat diartikan sebagai kekalahan Islam?

Bagi saya, jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Tergangung apa defenisi kita tentang Islam dan umat Islam yang punya otonomi dalam memilih. Juga tentang Islam mana dan umat Islam yang mana. Juga tentang nilai-nilai apa yang dipentingkan Islam dan umat Islam dan nilai-nilai apa yang tidak dipentingkan untuk Jakarta.

Pertama, dalam konteks Indonesia, kita hampir mustahil bisa bicara tentang Islam dalam makna yang tunggal. Islam dalam makna yang tunggal hanya ada dalam tataran ide, bukan sebuah kenyataan. Seberapa kuatpun anda bicara tentang persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyyah) dan imaji tentang umat yang satu organ sepenanggungan, tetap saja umat Islam Indonesia tidak tunggal.

Ada NU, Muhammadiyah, FPI, HTI, dan lainnya dengan pertimbangan dan kepentingan yang berbeda-beda. Islam dalam kenyataan sosiologis masyarakat Indonesia adalah fakta keragaman dan taman sari kebhinekaan. Semasa pendiri Paramadina almarhum Nurcholish Madjid masih hidup, kita sering mendengar pembedaan antara Islam simbolik dan Islam subtantif.

Untuk memudahkan, ada baiknya kita kasih contoh. Secara simbolik, tak ada yang dapat memungkiri keislaman sosok mantan hakim Mahkamah Konstitusi yang baru saja ditangkap KPK untuk kasus rasuah alias suap. Bagaimana tidak, baru-baru ini dia rajin sekali bikin pengajian, memelihara jenggot yang tebal, suka berdakwah, dan paling sengit pula melaknat kaum LGBT.

Namun bila kita perhadapkan dengan substansi ajaran mulia Islam yang tertuang dalam sebuah hadis—misalnya hadis yang menegaskan bahwa “penyuap dan tersuap akan masuk neraka”—maka kita dapat saja mengatakan bahwa dia tidak sedang berpegang pada substansi ajaran mulia Islam. Mohon maaf, ini tidak ada kaitannya dengan aksi suap-menyuap antara Anies Baswedan dan Raffi Ahmad dalam sebuah iklan kampanye mereka.

Karena itu, jika umat Islam diberi pilihan antara membela sosok Patrialis Akbar yang kini juga mulai dianggap ulama atau membela ajaran mulia Islam yang melarang suap-menyuap, mana yang umat pilih? Ini pertanyaan mendasar. Hal ini juga bisa berlaku bagi tokoh Islam manapun dengan kasus apapun. Jika ada seorang habib yang getol memperjuangkan undang-undang pornografi tapi kelak justru terbukti melakukan perbincangan seksual yang vulgar dengan perempuan bukan istrinya, apakah umat akan tetap membela dan memujanya?   

Dari dua ilustrasi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Islam simbolik bisa membuat kita terpedaya oleh sosok, simbol, tampilan luar seseorang. Islam yang subtantif tidak gampang terpedaya oleh tampilan-tampilan luar karena menyangkut nilai-nilai yang diperjuangkan. Islam subtantif lebih melihat sejauh apa kelakuan seseorang berkesuaian dengan nilai-nilai yang hendak diangungkan agama. Islam yang simbolik itu fana, bisa kalah dan dikalahkan. Islam yang subtantif bersifat abadi, luhur dan layak dibela dan terus diperjuangkan!

Kedua, kalau kita lihat data-data survei tentang Gubernur yang diidamkan masyarakat Jakarta, seperti yang dipaparkan Indikator Politik Indonesia, maka kita dapat melihat bahwa aspek-aspek yang ditanyakan selalu menyangkut persoalan mendasar yang memang diperlukan masyarkat Jakarta. Itulah kiranya substandi kebutuhan warga Jakarta dari sosok yang akan memimpin mereka kelak. Secara berurutan, pemimpin yang mereka cari adalah mereka yang (1) sudah ada bukti nyata dalam kinerja, (2) berpengalaman di pemerintah, (3) tegas dan berwibawa, (4) pintar dan berpendidikan, (5) jujur dan bersih dari KKN.

Faktor simbolik seperti kesamaan agama hanya menempati posisi keenam, disusul faktor keramahan atau kesantunan, pengaruh orang lain, dan kesamaan partai. Ini artinya, masyarakat Jakarta cukup rasional dalam mencari sosok pemimpin yang mereka idamkan. Dan jangan dilupakan, 85% responden yang ditanya di survei tersebut juga umat Islam. Meragukan keislaman mereka adalah kesombongan yang nyata.

Bahkan dari aspek yang simbolik para calon gubernur pun, masyarakat Jakarta masih cukup rasional. Dari 7 citra tentang tiga pasangan calon gubernur Jakarta yang ditanyakan kepada mereka, Ahok unggul dalam 3 kategori (perhatian pada rakyat, tegas dan berwibawa, mampu memimpin DKI). Ahok imbang soal kepintaran dengan Anies, kalah tipis soal kejujuran dibanding Anies, dan kalah kesantunan dan kegantengan dari Anies dan Agus.

Jadi kalau Pak SBY tempo hari mengidamkan seorang “Gubernur yang baik hati dan mencintai rakyaknya, apa adanya” lewat sebuah nyanyian, kini survei membuktikan: jawabannya bukanlah Agus Harimurti Yudhoyono, namun Basuki Tjahaja Purnama!

Ketiga, kembali ke pertanyaan semula: apakah Islam kalah jika Ahok menang? Jawabannya ya dan tidak. Islam yang picik, rasis, sempit dada, intoleran, anti-kebhinekaan, gampang tersinggung dan suka ngamukan mungkin akan merasa kalah dan terhina jika Ahok menang. Tapi Islam yang terbuka, non-diskrikrimitif, lapang dada, toleran, pro-kebhinekaan tetap ikut menang jika pun Ahok menang.

Islam yang menginginkan Jakarta yang bersih-rapi-jali, tertata, terurus, terlayani, terbebas dari banjir, terjauh dari kongkalikong, akan ikut jaya jikalau Ahok jaya. Islam yang ingin mengawetkan status quo, melestarikan kemandekan dan persekongkolan antara eksekutif dan legislatif, bertindak semena-mena atau mentang-mentang terhadap kaum minoritas dan mereka yang lemah, toleran terhadap ketidakbecusan dalam urusan anggaran pembangunan, rela menyaksikan proyek mangkrak, mungkin akan tertonjok jika Ahok menang.

Islamnya almarhum Nurcholis Madjid yang coba dipadamkan oleh Anies Baswedan, Islamnya almarhum Gus Dur, Quraish Shihab, Gus Mus, Said Aqil Siroj, Syafii Maarif dan Islam yang menjadi rahmat bagi Indonesia akan ikut menang bersama kemenangan Ahok. Sebaliknya, Islamnya Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Ismail Yusanto, Zaitun Rasmin, akan kalah telak sekiranya Ahok menang.

Islam yang rahmatan lil alamin akan menang jika Ahok menang. Islam yang laknatan lil indunisiyyin akan merasa kalah jika Ahok menang. Sekian, wallahu a’lam!    

Jakarta, 10 Februari 2017    

    

Artikel Terkait