Sambil tertawa-tawa, sang ustaz tenar Abdul Somad (UAS) berbicara tentang para pengikut Yesus. Para jemaahnya pun tertawa-tawa gembira, termasuk saat penceramah ini ngeguyon seputar agama Kristen, terutama tentang salib yang divonis berisikan jin. 

Ndilalah, beberapa teman dan kenalan yang juga Kristen, alih-alih gusar atau marah, mereka bahkan sempat-sempatnya bikin guyonan lagi. Terpikir di benakku, kenapa mereka tidak membela agama, misalnya dengan cara bikin tagar #BoikotSomad? Tidak ada sama sekali.

Kok orang-orang "kafir" ini terlalu santai, sih? 

Bahkan, saat para pengikut Yesus itu dilecehkan, yang ribut justru para pengikut Somad sendiri. Di media sosial tidak muncul tagar #KamiSiapBelaYesus atau #KamiSiapBelaSalib, karena mereka telah dihina. Justru, yang marak dan sempat bertengger di trending topic justru tagar #KamiSiapBelaUAS.

Ini sebenarnya siapa yang menghina, dan siapa yang terhina? Kok malah yang menghina mendapatkan pembelaan mati-matian, sedangkan yang terhina santai-santai saja? 

"Dasar kafir!" Begitulah saya membatin. Ngebatin begini malah saya jadi kebayang ekspresi beberapa teman yang beda agama itu, yang tetap saja santai, meski dicandai sampai sejauh itu. 

Ya, ada ironi sebenarnya di sini. Kok bisa, mereka yang dianggap kafir, sesat dalam melihat Tuhan, divonis akan menjadi penghuni neraka, malah terlihat damai-damai saja? Sementara yang seagama dengan saya, kok malah sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit panas, sedikit-sedikit marah? 

Mereka yang dituding akan menjadi penghuni neraka malah tetap terlihat sejuk-sejuk saja, sedangkan yang berlagak pasti akan ke surga justru terlihat sering kepanasan. Apakah sebenarnya surga itu panas dan neraka sebenarnya sejuk?

Atau, jangan-jangan, masing-masing umat ini sedang menunjukkan ke mana tempat mereka kelak di akhirat lewat hawa yang sering mereka pamerkan semasih hidup?

Pemandangan ini yang juga melemparkan saya ke masa lalu. Ya, ke masa ketika belajar tentang siapa penjaga surga, siapa penjaga neraka, dan bagaimana ciri-ciri penghuni surga dan seperti apa ciri penghuni neraka.

Dalam pengajian kelas kampung yang pernah saya ikuti selama belasan tahun—maklum, saya orang kampung—diajarkan bahwa tak ada yang bisa menjamin akan pasti ke surga. Anda bolak-balik ke masjid, jidat sehitam pantat periuk pun, takkan menjamin Anda ke surga. Hanya kasih sayang-Nya saja yang membuat Anda bisa ke sana. 

Membanggakan diri paling rajin ke masjid, paling rajin beribadah, paling rajin berbicara hingga berbusa-busa tentang Allah, ada kemungkinan Anda hanya mendapatkan kebanggaan itu. 

Sebab, bisa jadi yang menjadi tujuan Anda adalah ciptaan-Nya; dunia dan isinya. Namun tidak mendapatkan kebaikan dari kemahaan-Nya.

Sementara surga, tak lebih hanyalah hadiah. Selayaknya hadiah, terserah yang punya hadiah, mau menyerahkan kepada siapa yang dinilai paling pantas mendapatkannya. 

Jika Anda berpura-pura manis kepada pemilik hadiah, sementara Anda lebih mementingkan hadiah itu daripada pemiliknya, tentu saja sang pemilik tak perlu repot-repot menghargai Anda. 

Alih-alih memberikan hadiah itu kepada Anda, bisa saja ia berikan hadiah itu kepada orang lain, kepada yang lebih mampu menunjukkan ketulusan terhadap pemilik hadiah.

Begitu juga kebaikan dari beragama. Ada sebagian orang yang merasa bangga melempar klaim sebagai penganut agama terbaik, tetapi kelakuan mereka sendiri acap kali memamerkan hal sebaliknya. Kok bisa? 

Dugaan saya, karena memang alasan sebagian orang beragama sama sekali bukan karena kesadaran atau ingin benar-benar sadar atas berharganya kebaikan. Apa yang mereka sadari, bisa jadi, hanya bayangan bahwa jika beragama, maka mereka tidak perlu dihina sebagai kafir, tidak perlu dibayangi ketakutan akan dimasukkan ke dalam neraka. 

Atau, bisa jadi, semata-mata agar tidak tersisih dari lingkungan pergaulan yang cenderung terlalu rempong seputar siapa beragama apa dan apakah ia seagama atau tidak. Atau, lagi, cuma semata-mata supaya kolom di kartu identitas penduduk terisi. 

Apalagi jika terisi dengan nama agama yang paling banyak dianut, maka ada kemungkinan lebih besar gengsi didapat, dan makin terlihat gagah karena menjadi bagian kalangan berjumlah paling besar. 

Jadilah akhirnya beragama, atau tegas saja, berislam, hanya untuk gagah-gagahan saja. Bahwa, dengan memeluk agama ini, saya jadi bagian agama terbesar, maka saya pun akan terlihat besar. Kemungkinan lebih diprioritaskan pun akan makin besar. Selain, ya, peluang menakut-nakuti siapa saja, pun akan makin besar.

Soal berapa besar kebaikan yang bisa dibawa setelah menjadi bagian sebuah agama terbesar ini, bukan hal yang mesti dipusingkan. Toh, yang menjadi tujuan tadi bukanlah kebaikan besar yang bisa dibawa untuk dunia, melainkan cuma seberapa besar kebaikan bisa diambil untuk diri sendiri; memperkaya diri atau sekadar mengamankan diri sendiri.

Tampaknya motif inilah yang paling banyak mendorong orang-orang untuk beragama, atau berislam. Maka itu, banyak yang mengaku muslim, namun hanya seupil yang mampu membuktikan keislaman mereka lewat tindakan dan kebiasaan mereka. 

Di media sosial saja, jika Anda mau repot sedikit menelusuri siapa saja yang rajin menebar caci maki hingga teror, justru mereka yang rajin memamerkan ayat-ayat dan nama Tuhan. 

Nah, kok bisa pengikut ustaz tersohor seperti Abdul Somad malah kelakuan mereka tak kalah aneh? Ya, bisa jadi kebenaran di mata mereka hanya diukur dari seberapa tenar seseorang yang menyampaikannya. Makin tenar, maka makin meyakinkan bahwa itu benar. 

Buktinya, bisa Anda lihat saja dari bagaimana ketika kalangan yang berbeda agama dihina, eh yang dibela bukannya yang terhina, melainkan justru yang menghina. Seolah mereka meyakini bahwa membela yang berbeda agama, maka Tuhan akan marah; dan membela yang seagama meskipun salah, maka Dia akan menyambut dengan senyuman merekah. 

Lalu, apakah ini adalah kesalahan seorang Somad? Mana berani orang-orang semacam saya menuduhnya bersalah. Bisa-bisa saya dicap kafir. Dua tahun lalu saja, kritikan saya saja berujung ancaman serius dari pengikutnya. Apalagi jika sekarang masih melempar kritikan kepada ustaz tenar itu, tak terbayang lagi apa yang akan mereka lakukan. 

Tidak, ini bukan soal siapa yang salah lagi. Ini soal bagaimana orang-orang tenar supaya tidak sekadar menikmati ketenaran, tetapi betul-betul bisa menebar kebenaran. Seperti sikap Muhammad, pembawa Islam, bahwa jika anaknya sendiri pun salah, akan tetap dihukum. 

Lha, ini, yang baru sekadar mengaku-aku sebagai pengikutnya, kok malah ingin diprioritaskan dan ditempatkan di atas manusia lainnya; salah atau tidak, jangan pernah bilang kami salah! Ya, mental begini pastilah bukan mental orang yang dekat dengan Allah, melainkan orang yang belum sadar jika dirinya hanya bagian dari bedebah.

Makanya saya merasa tersindir dengan beberapa teman saya yang "kafir", ketika agama mereka dihina dan dilecehkan, mereka justru memilih mendoakan. "Semoga Yesus yang penuh kasih, memenuhi kehidupan Abdul Somad dengan cahaya kasihnya." Begitulah mereka membalas penghinaan tersebut; dengan doa. 

Mereka masih bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Sedangkan kami yang masih gemar ber-alay ria sebagai penganut agama terbaik, justru kerap memamerkan keburukan dengan dalih membela agama dan menegakkan agama Allah. 

Kok malah begini? Ya, mungkin karena kami masih setia dengan keyakinan bahwa ketenaran adalah kebenaran, hingga acuan kebenaran hanyalah pada orang-orang tenar saja. Entahlah.