Salah satu yang menjadi menarik untuk dibahas adalah perbedaan makna mudik dengan pulang kampung yang sedang ramai diperdebatkan oleh warganet. Masalah ini muncul usai program Mata Najwa dengan tema "Jokowi Diuji Pandemi", ditayangkan oleh Trans7, Rabu, 22 April 2020.

Lantas apa yang membedakan mudik dilarang dan pulang kampung diperbolehkan?

Secara harfiah, mudik berasal dari kosa kata bahasa Betawi, yakni kata udik yang berarti kampung. Kata udik mengalami afiksasi berupa simulfiks menjadi mudik yang berarti menuju kampung. 

Mudik dilakukan untuk tujuan silaturahmi kepada sanak saudara. Namanya silaturahmi, tentu tidak lama. Mudik tidak sampai berminggu-minggu di kampung. Hal itu karena sejatinya mudik bermakna pergi untuk kembali lagi.

Mudik biasa dilakukan pada momen libur panjang untuk menghindari lelah selama perjalanan. Mudik di Indonesia biasanya menjelang Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Ketiga momen itu, biasanya terdapat libur panjang. 

Mudik biasa dilakukan orang-orang yang mengikuti urbanisasi, dari desa untuk bekerja dan menetap dengan waktu yang lama di kota. Untuk itu, mereka melaksanakan mudik untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara. Di desa, mereka tidak lama karena harus kembali lagi ke kota untuk bekerja ataupun menempuh pendidikan.

Mudik digunakan untuk membedakan dengan kata pulang kampung. Pulang kampung bermakna kembali ke kampung halaman. Para perantau memiliki kemungkinan tidak kembali lagi ke kota. Bisa jadi karena sudah lulus pendidikan di kota atau bisa jadi sudah tidak bekerja lagi di kota.

Dari segi pelaku, mudik dilakukan oleh siapa saja. Sedangkan pulang kampung hanya dilakukan oleh para perantau. Hal itu merujuk pada kata pulang. Berbeda dengan mudik yang bermakna menuju udik atau menuju kampung.

Mudik menjadi budaya masyarakat Indonesia secara turun-temurun. Pada masa Kerajaan Majapahit, para pekerja di kota mudik untuk berziarah ke makam leluhur di desa. 

Mudik secara besar-besaran di era modern dimulai pada tahun 70-an hingga saat ini; tepatnya saat libur panjang. Mudik dilakukan untuk berkumpul bersama sanak saudara di kampung. 

Sejak saat itu mudik mengalami spesialisasi menjadi berkunjung ke kampung menjelang lebaran. Dan beberapa tahun terakhir, mudik menjadi ajang pamer kepada sanak saudara dan tetangga di kampung.

Lebih dari 80% masyarakat kota menjalani mudik. Itu sebabnya, selama arus mudik berlangsung, kemacetan selalu terjadi. Tarif angkutan umum mengalami kenaikan yang luar biasa. Meskipun mahal, pasti tiket habis terjual karena para kaum urban harus mudik.

Lebaran 2020 diperkirakan tidak ada penumpukan massa di jalan akibat arus mudik. Pemerintah secara resmi melarang mudik per 24 April 2020. 

Pelarangan tersebut menyusul makin meningkatnya jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia. Sejak 13 April 2020, jumlah kasus positif mencapai lebih dari 3.000 orang.

Kasus positif covid-19 sudah menyebar di 34 provinsi. Penyebab bertambahnya jumlah positif tersebut akibat banyaknya masyarakat yang tidak menaati aturan jaga jarak sosial yang dianjurkan pemerintah. Jabodetabek diduga menjadi episentrum penyebaran kasus covid-19 di Indonesia.

Pemerintah memberikan sanksi bagi kaum urban yang nekat mudik dari Jabodetabek dan daerah lain yang sudah menerapkan PSBB. Sanksi diterapkan mulai 7 sampai 31 Mei 2020. 

Sanksi ringan berupa diminta memutar balik. Sanksi beratnya para pemudik bisa dipidana bahkan denda ratusan juta. Sebelumnya, larangan mudik hanya ditujukan untuk ASN, TNI-Polri dan pegawai BUMN.

Para pekerja yang pendapatannya terganggu atau kehilangan pekerjaan tidak dilarang untuk pulang kampung. Dengan pulang kampung, mereka masih bisa menyambung hidup dengan bercocok tanam atau mencari pekerjaan lain. 

Tentunya, selama pulang kampung, harus mengikuti arahan pemerintah, seperti isolasi mandiri selama 14 hari, melaporkan kepada pejabat desa setempat sebelum sampai rumah, dan mengecek kesehatan di unit kesehatan setempat.

Mudik selama pandemi merupakan hal yang sia-sia. Para pemudik ketika tiba di kampung halaman akan dikarantina oleh pemerintah daerah setempat selama 14 hari. Artinya, jika tetap mudik, maka waktunya di kampung akan terbuang selama 14 hari di tempat karantina.

Selain itu, selama dalam perjalanan mudik, pemudik berisiko tertular virus. Penularan bisa terjadi di rumah makan, tempat peristirahatan, toilet umum, bahkan di transportasi umum. Pemudik pun bisa menularkan kepada orang lain setibanya di kampung.

Untuk itu, sebelumnya, pemerintah mengimbau kaum urban untuk tidak mudik selama pandemi. Seniman Campursari Senior Didi Kempot pun pernah membuat konser untuk mengimbau masyarakat tidak melakukan mudik. Dalam situasi pandemi seperti ini, memang mau tidak mau budaya mudik harus ditunda sementara waktu.

Budaya sungkeman dan ziarah ke makam leluhur masih melekat kuat di masyarakat selama momen lebaran. Namun, perkembangan teknologi bisa dimanfaatkan untuk sungkeman selama pandemi, seperti panggilan video, atau menggunakan aplikasi telekonferensi. 

Mendoakan leluhur bisa dilakukan dari rumah tanpa harus berziarah ke makam.

Mudik bisa dilakukan setelah situasi kembali normal. Kita bisa bertemu sanak saudara tanpa takut menularkan dan tertular covid-19. Selain itu, mudik bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu lebaran. Anda bisa menggunakan hak cuti untuk mudik.