Tulisan ini hanya berisi refleksi tentang nasib desa di era pandemi. Dengan memantau arus orang-orang kota ke desa, desa menjadi pelarian bagi orang-orang kota untuk berlindung dan bertahan dari mobilitas kota yang tinggi. 

Mereka memilih desa sebagai target, setelah kota dirasa tak aman. Batas-batas teritori kota dan desa kemudian semacam dibentuk oleh ketidaknyamanan orang-orang kota yang ingin survive ini. 

Corona telah memfilter batas-batas territorial manusia. Memisahkan kota sebagai yang dianggap tak steril, dan desa yang masih “perawan”. Desa dianggap belum dijamah virus dan tidak berkontak dengan orang-orang bermobilitas tingi seperti di kota. Orang-orang kota pada akhirnya menemukan jalan pulang ke desa yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan. 

Alasannya bukan karena hendak kembali melihat berhektar-hektar lahan tidur orang tuanya di pedalaman, apalagi merindukan kasih sayang dan masakan orang tua. Mereka kembali hanya karena menganggap kota tak lagi jadi tempat paling aman untuk bertahan hidup. Sederet alasan lain yang disebut dari belakang itu sebenarnya numpang di nomor kesekian.

Kalau boleh jujur, di era ini, kita sangat sulit kita menemukan orang-orang yang rindu pada desa sebagai tempat pulang paling palung. Maksudnya merindukan desa sebagai visi hidup kedepan. Sulit menemui orang yang ingin kembali ke desa dan menggalakkan pembangunan dari sana. 

Desa hanyalah pelarian. Demikian yang jamak kita temui. Orang-orang pulang ke desa hanya untuk melarikan rindu, dan penatnya setelah bergulat dengan sesaknya kota yang menggilas.

Kepulangan orang-orang kota di masa Corona pun demikian. Hanya untuk mencari tempat paling aman agar survive. Bertahan dari ancaman virus, kontak fisik, mobilitas tinggi, sekaligus menghemat penghasilan akibat hilangnya sejumlah pekerjaan mereka di kota. Alasan yang terakhir mungkin benar.

Tapi jauh di atas semua itu, orang yang ke desa hari seyogianya ingin cari selamat. Daripada dikepung virus, lebih baik kembali ke desa.

Desa kemudian menjadi semacam penampungan sekaligus benteng paling akhir. Desa dianggap steril, dan alami karena tak terjamah kontak. Desa juga jauh
dari keluar masuknya kunjungan luar negeri. Desa dianggap masih asri dengan sinar matahari dan pangan lokalnya yang alami. Semua orang tiba-tiba saja mengimpikan desa sebagai titik tuju.

Sejalan dengan itu, orang-orang kota yang kembali ke desa, kemudian membangun romantisme tentang desa, hanya untuk memoles alasannya untuk mencari pelariannya pada desa. Desa diromantisir sedemikian rupa. Mulai dari lezatnya masakan ibu, ingatan tentang permainan tradisional, keindahan alamnya, berkumpul kembali dengan teman-teman lamanya di desa. 

Alasan-alasan itu pun turut dari belakang. Tapi sayang, sederet alasan itu sebenarnya bukan alasan utama. Alasan utamanya adalah : “kota sudah tak aman”.

Covid-19 telah memaksa orang-orang kota dengan seabrek kesibukan itu untuk mencicil sedikit rindu pada desa yang telah lama ia lupakan. Pada handai taulan yang mungkin saja ia abaikan. Dan para anak muda penganggur yang mungkin saja ia kolotkan. Sebelum ada Covid-19, desa di mata orang-orang ini adalah batas paling kolot dari kemajuan. 

Desa dianggap kolot, primitif, tertinggal, terpencil dan jauh dari kemajuan. Desa diasumsikan sebagai ruang yang mayoritas didiami oleh orang-orang tanpa pekerjaan, udik, kuno, dan tidak instagramable. Cafe, pakaian bermerk dan segala pergaulan kota telah mengubah definisinya tentang desa.

Orang-orang kota bergaya beken itu kini terpaksa kembali ke desa. Covid telah menguji jejak kebersihan dan keamanan di kota. Bahwa kota sangat rawan,
tak bersih sehingga rentan terpapar virus. Desa adalah jejak lama yang kemudian diimajinasikan kembali untuk mengatasi sejumlah kerentanan di kota.

Orang-orang kota mengatasi kerentanannya dengan kembali ke desa, dan berkumpul dengan handai taulan dengan meromantisir desanya. Biar apa?
Biar orang desa menerimanya kembali. Padahal, kecintaan terhadap desa tak boleh se-mendua itu. Desa adalah akar tumbuh bagi mereka yang sedang beradu di kota. Sayangnya ia dilupakan secepat kilat oleh denyut nadi perkotaan.

Kita hanya takut pada imajinasi model ini. Imajinasi orang-orang kota yang menjadikan desa sebagai pelarian. Bukan sebagai titik tuju bagi mereka yang sedang beradu nasib di perkotaan. Banyak orang yang mengenyam pendidikan dan bekerja di kota selalu ingin mengembangkan karier di kota daripada di desa. 

Desa adalah pilihan melepas masa pension dan segudang kebosanan. Tak ada yang mengimajinasikan desa sebagai titik tuju untuk dirinya mengabdi. Apalagi sampai mau bergaul dan berbaur dengan orang-orang desa. Bahkan mungkin tak terlintas di benaknya, niatan membangun desa dan manusianya. Kota telah menjadi penjara bagi dirinya. Lalu kariernya menjadi dinding tebal yang memisahkan desa.

Satu catatan penting dari fenomena pulanya orang-orang kota ke pedesaan adalah, mereka sebenarnya terdesak untuk mengingat desa. Mungkin ini yang diingatkan Mahatma Gandhi, orang akan berbuat baik jika sedang berada dalam kondisi terdesak. Covid telah mendesak orang-orang kota itu untuk kembali menjenguk orang tua, handai taulan dan bergaul dengan para petani nun jauh di desanya.

Pulangnya orang-orang kota ke desa bisa jadi kerentanan baru bagi mereka
yang tinggal di desa. Apalagi jika orang-orang kota dan berpendidikan tinggi ini menganggap dirinya paling pintar dan tak mau bergaul dengan para petani rendahan di desanya lagi. Jika mereka mulai belagu dan meminta sarapan sandwich pada orang tua dan keluarganya yang hanya mengerti teh manis dan ubi goreng. 

(Saya membayangkan polosnya orang tua dan angkuhnya seorang anak dari perkotaan). 

Belum pula jika dengan lagak kota-nya, mereka memamerkan pakaian bermerk, pergaulan ala anak kota, dan memaksakan kemauannya pada anak-anak desa yang polos dan serba sederhana. (Saya membayangkan anak-anak desa yang kemudian tersudutkan karena dianggap ketinggalan zaman dan trend).

Jika sederet kondisi ini terjadi di desa, tidak saja kerentanan yang terjadi, jurang-jurang sosial baru di pedesaan pun muncul. Kelas anak kota yang kaya, elitis dan berpendidikan semakin berjarak dengan orang-orang desa sederhana, bersahaja dan intim.

Inilah ketakutannya, jika desa dijadikan sekadar pelarian. Orang-orang desa dijustifikasi seenaknya oleh gerembolan orang kota yang merasa dirinya paling pintar, ,modern dan paling maju. Mereka tergusur secara psikologis di desa yang telah lama meng-intim-kan interaksinya dengan sesama orang desa. 

Jarak-jarak itu diciptakan oleh orang-orang kota yang sedang kembali ke desa ini. Desa di masa Covid ini, mungkin akan sangat rentan dengan sejumlah persoalan diatas. Belum lagi kerentanan itu ditambah dengan penyebaran virus yang dibawa oleh para pemudik dari kogta yang enggan mengisolasi diri karena menganggap dirinya sehat.

Berbeda dengan masa mudik, dimana orang bisa bebas memilih tinggal di kota atau mudik. Covid telah memaksa sejumlah pelarian orang-orang kota
yang merasa terancam ke desa. Hampir tidak ada pilihan untuk tinggal dan bertahan di kota di masa-masa ini. 

Jejak pelarian itu kemudian terbaca dalam semua laku angkuh orang-orang kota yang merasa dirinya paling maju. Satu catatan penting untuk menangkal laku angku macam itu mungkin bisa dipelajari dari petuah Tan Malak, bahwa “bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.

Desa tak boleh sekadar dijadikan pelarian saat lelah dan penat saja.
Desa seharusnya jadi imajinasi bagi mereka yang sedang bergulat di kota. Jika saja mereka menginginkan semua pertumbuhan ekonomi itu bermanfaat untuk memajukan desa. Asalkan desa tak “dibajak” untuk kepentingan singkat
atas nama pembangunan dan industrialisasi.

Orang-orang kota yang sedang kembali ke desa mungin bisa menanamkan mental ini. Setidaknya tidak merasa paling tinggi, paling maju, paling angkuh, dan paling benar untuk menggurui segala keramahan dan kesederhanaan orang-orang desa yang telah lama hidup dengan intimnya. Hanya dengan begitu, -- sebagai akar tumbuh—desa akan menerimamu sebagai anaknya.