40356_15748.jpg
Foto: ArtNow.ru
Cerpen · 4 menit baca

Kaki Emas Warisan Sang Kapten

Di sisi lapangan, yel-yel, teriakan dukungan dan umpatan terhadap lawan mewarnai gemuruh permainan. Sore itu menjadi panggung ekspresi talenta dan kebanggaan para pemain kedua tim yang tengah bertanding memperebutkan posisi pertama di tengah-tengah masyarakat desa Dempo Barat. Liga antar kampung (tarkam).

Di tengah-tengah mereka, sang pujaan masyarakat kampung Toroy meliuk-liuk di antara lawan, membawa bola dan melewati beberapa hadangan lawannya, tim dari kampung Potreh. 

Aksi sang bocah dalam mengolah si kulit bundar memesona, memukau deretan penonton yang tak henti-hentinya membahanakan namanya. Sebaliknya, bagi lawan, aksi sang bocah ini membikin kerepotan. Butuh dua sampai tiga orang untuk menghentikan keindahan dribling nya.

Segera setelah dua sampai tiga orang lawan mengepungnya, ia memang terlihat kerepotan. Namun, ia cermat membaca peluang. Dalam keadaan terkepung, dia melihat banyak celah yang ditinggalkan oleh lawan. Maka segera ia melepaskan bola pada kawannya yang berdiri kosong. Sementara dia sendiri berlari-lari mencari celah kosong dan strategis lainnya dengan tetap ditempel ketat oleh lawan-lawannya.

Anak itu adalah kunci permainan. Dia memiliki kemampuan dribling yang bagus, kecepatan luar biasa, kejelian membongkar pertahanan lawan, pandai menyesuaikan dalam irama permainan kolektif, akurasi umpan-umpannya mematikan dan ketenangan dalam mencetak gol. 

Dalam pertandingan ini, dia telah menciptakan dua assist yang berbuah gol. Dia telah membuka banyak peluang indah. Dan selangkah lagi, dia akan membikin kebanggaan yang tiada terkira. Kemenangan ini adalah kado terindah untuk kampungnya yang telah lama tidak mengukir prestasi dalam perseteruan liga antar kampung ini.

Anak itu memiliki ketenangan, kesabaran, dan tidak mudah menyerah. Anak ini pandai membangun komunikasi yang baik di lapangan dan merangsang semangat kawan-kawannya. Kepribadiannya ini telah memesona sang pelatih dan membuatnya terpilih sebagai kapten tim. Meskipun usianya baru beranjak 15 tahun, dan banyak yang lebih tua darinya. Bagi sang pelatih, dia telah membuktikan diri bahwa keputusan memilihnya sebagai sang kapten di tengah gurita kritik tidak salah.

Di pinggir lapangan, di atas kursi roda, adalah seorang lelaki usia lima puluhan. Bersama perempuan di sisinya, dia menyaksikan pertandingan sore itu. Keduanya mengerjapkan air mata terharu dalam gegap gempita suporter kampung Toroy, kampungnya yang baru kali ini kembali merengkuh prestasi setelah sekian tahun hanya jadi pelengkap liga antar kampung. 

Sang perempuan memandangi suaminya dan mendapati raut wajahnya tengah tersenyum. Sorot matanya memiliki arti yang dalam tentang harapan dan kebanggaan baru. Sore ini adalah kesempatan baginya untuk bahagia, melepas segala derita masa lalu yang menghantuinya.

Lelaki itu lalu tertunduk. Dalam tunduknya, ia melihat sumber penderitaan itu dari jarak yang dekat. Masa lalu itu terasa dekat sekali dalam bayangannya. Kebanggaan yang harusnya dia torehkan waktu itu, selangkah lagi dia merengkuh kemenangan, buyar setelah satu gol penyama dari tim kampung Janten membabat gawangnya. Lima menit setelah itu, dia seharusnya mampu mengubah keadaan dengan kembali memimpin kemenangan. 

Sayang, dalam jarak dekat dan hanya berhadapan dengan kiper lawan, tendangan penaltinya bisa ditepis oleh lawan. Selang sepuluh menit berikutnya, dia harus ditandu keluar lapangan. Setelah itu, sang kapten redup. Dia tak lagi bisa bermain untuk selamanya akibat cedera. Timnya harus mengakui kehebatan lawan. Dalam drama adu penalti, timnya kalah telak 4-1.

Dalam tunduknya, dia mengerjap lagi. Bulir bening hangat menyentuh bumi. Perempuan di sisinya mendekatkan wajahnya dan membimbing lelaki itu tegak kembali. Keduanya berusaha tersenyum berusaha sekuat mungkin menelan cerita pahit yang telah berlalu lama itu. Keduanya saling bersitatap sebentar. Tersenyum lagi. Lalu mengalihkan pandang pada lapangan yang kini tak ada lagi yang terlihat kecuali kebahagiaan dan deru kebanggaan. 

Sang bocah telah menuntaskan harapannya. Diam-diam, kebanggaan kepadanya berlipat-lipat. Diam-diam dia berfikir untuk mempertimbangkan kembali keputusannya yang selama ini melarangnya bermain bola. Dia harus belajar melupakan traumanya yang silam. Dia harus belajar untuk tidak mengekangnya.

“Sekarang dia telah membuktikan dirinya,” bisiknya bangga sambil melirik pada istrinya. Perempuan itu mengangguk.

“Hari ini aku melihat sepak bola adalah kehidupan dan kecintaannya. Bagaimana selama ini aku sangsi telah memisahkan dirinya dari kecintaannya? Aku salah, berfikir bahwa segala yang menimpaku juga akan menimpanya. Aku telah melihat masa silam sebagai ketakutan. Ketakutan itu telah menyempitkan diriku dari melihat kesempatan yang lain”.

Dia melirik lagi ke sampingnya meminta persetujuan. Perempuan itu mengerti dan sekali lagi tersenyum membenarkan.

“Sekarang aku harus membebaskannya. Biarlah dia menyatu dengan kehidupannya. Aku bangga padanya”.

Di tengah lapangan, bocah itu diliputi senyum kebahagiaan. Meskipun tidak menciptakan gol, namun namanya membahana di hati para penonton. Sebab dia adalah ruh permainan yang digenapkan dengan dua assistnya yang tuntas berbuah dua gol. Dia menjadi sanjungan kawan-kawannya. Para penonton tak henti-hentinya memekikkan namanya ke langit.

“Raka, Raka, Raka!!!”

Pekik sorak itu kian lantang pada saat puncak kebanggaannya mencapai kesempurnaan. Sebagai kapten tim, dia diberi kesempatan untuk mengangkat tropi kebanggaan.

Sesekali dia melambai-melambaikan tangannya kepada kedua orang di sisi lapangan memohon restu dan kebahagiaan dari wajah kedua orang itu. Yang diminta mengerti. Mereka balik melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat dan senyum dukungan.

Segera setelah selebrasi kemenangan, dia berlari ke pinggir lapangan menemui tribun penonton. Anak itu menghambur kepada kedua orang yang dari tadi memperhatikannya dengan kedalaman perasaan dan kebanggaan sebagai orang tua. Dia menemukan luapan emosi kebahagiaannya yang sempurna sore itu. Bagi bocah itu, tak ada kebahagiaan selain memperoleh kebanggaan orang tua atas dirinya. Tidak sia-sia. Apa yang selama ini telah dia perjuangkan akhirnya menemukan momentum keindahannya sore ini.

“Sekarang kau boleh hidup dengan sepak bolamu, nak. Luapkan kecintaanmu padanya, nak. Tekadmu untuk terus berjuang dan tak kenal rasa putus asa telah memberi ayah pelajaran, nak, bahwa segala rintangan terasa mudah bila seseorang menjalaninya dengan rasa cinta. Kau telah membuktikan itu tepat di depan ayahmu.”

Mereka saling melepaskan pelukannya. Kini kedua orang tuanya menatap lekat wajah sang bocah. Sang bunda mendekatkan diri dan meraba wajah anaknya.

“Yang lebih penting, ayahmu kini dapat belajar melupakan kegagalan masa silam itu. Tak lain kau yang telah melepaskan beban itu, nak. Setelah ini, ayahmu akan merasa tenang. Tak ada lagi umpatan dan cacian yang bakal menerpa ayahmu. Tak lain kaulah sumber pelepas beban itu.” Ucapnya penuh senyuman.

Bocah itu menghambur lagi. Kini pelukan dan luapan kedua kapten itu terasa lebih bermakna dari biasanya. Segala kenangan, derita dan kebanggaannya melebur dalam pelukan ini.