Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar-mengajar. Sedangkan pendidikan adalah usaha yang terencana oleh pendidik kepada peserta didik. Setidaknya itu adalah pengertian secara harfiah.

Mari kita bicara kenyataan, di sekolah sekarang tidak ada yang mendapat nilai 6 atau 7. Semuanya 8, bahkan di atasnya. Itu adalah fakta. Hal tersebut tentu saja bukan karena anak didiknya pinter-pinter. Tapi sekolah sudah tidak mau memberikan nilai rendah pada rapot anak-anaknya. Karena jika nilai tersebut murni, saya kira tidak ada anak yang malas belajar.

Pengkatrolan nilai menjadi wajar-wajar saja karena tujuan pendidikan di era sekarang bukan bagaimana mengembangkan potensi anak didik, melainkan bagaimana citra sekolahnya.

Fakta tentang bakat dan minat anak pun mulai diacuhkan demi mengejar citra sekolah unggulan. Sehingga buanyak sekali anak-anak yang tidak menemukan passion mereka ketika di sekolah. 

Akhirnya banyak kita temukan sarjana matematika berprofesi sebagai fotografer, lulusan teknik mesin tapi bekerja di bank, alumni arsitektur tapi jadi peniup gelembung (yang terakhir tentu saja becanda).

Lantas kenapa hal tersebut bisa terjadi? Kenapa tidak selarasnya antara jurusan kuliah dan profesi menjadi hal yang wajar?

Setidaknya sampai saat ini saya meyakini bahwa di dalam sekolah, sejatinya anak-anak tidak tahu tujuan dalam belajar. 

Anak-anak belajar geografi karena memang dari sononya harus belajar geografi. Anak-anak belajar rumus fisika karena memang harus lulus mata pelajaran fisika (yah, walaupun semuanya bakal diluluskan juga sih). 

Hampir tidak ada anak yang belajar sesuatu karena paham akan manfaat yang ia dapat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

Semua berawal dari panjangnya masa pendidikan dasar yaitu 6 tahun. Anehnya setelah 6 tahun pun sepertinya tidak mendapat apa-apa, meskipun harus sekolah lagi 3 tahun di SMP seakan tidak punya keahlian apapun. 

Buktinya jika ada anak yang hanya lulusan SMP mereka hanya punya kemampuan membaca dan menulis saja. Mereka tidak dibekali keahlian untuk bertahan hidup.

Akibatnya harus sekolah lagi 3 tahun di SMA. Nah setelah masuk SMA barulah ada penjurusan. Anak-anak baru diberikan pilihan untuk belajar yang agak spesifik. Meskipun pilihan tersebut hanya formalitas. Apa pun yang dipilih oleh siswa, yang memutuskan masa depan mereka adalah sekolah.

“Kamu tahu apa tentang dunia, sebaiknya kamu menurut saja sama orang tua, jangan jadi anak durhaka”. Itu adalah senjata yang luar biasa untuk melumpuhkan anak-anak. Senjata sakti dengan menjadikan agama sebagai tameng.

Anak-anak yang memiliki kemampuan berhitung akan dianggap anak yang hebat. Sementara anak-anak yang pinter ngomong dan suka membantah akan dianggap anak bandel. Hal tersebut sering kita jumpai ketika anak IPA dianggap rajin dan pinter, sedangkan anak IPS dianggep nakal.

Sepertinya sekolah lebih percaya bahwa anak yang baik adalah anak yang masuk jurusan IPA dan bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pilot. Sehingga, mimpi untuk menjadi musisi, pelukis, pembalap, atau bahkan penulis pun tidak pernah ditawarkan kepada anak-anak.

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita yang sangat mulia. Orang tua kita akan sangat bahagia jika anaknya ingin menjadi seorang dokter. Seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter pun akan sangat bangga mengumumkan cita-citanya pada semua orang karena cita-citanya (dianggap) merupakan cita-cita yang mulia dan berkelas.

Pemikiran seperti ini tidaklah salah. Menjadi dokter adalah profesi yang mulia. Namun, profesi yang mulia itu tidak hanya dokter saja bukan?

Pemahaman ini ditanamkan di sekolah sejak dini, bahkan sangat dipercayai oleh orang tua siswa. Sehingga untuk dipandang baik, anak-anak cenderung memilih sesuatu yang diinginkan oleh orang sekitar, daripada memilih apa yang mereka inginkan.

Pemikiran satu warna ini tidak berhenti di sana. Ketika ada anak yang mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum), maka anak tersebut dianggap bodoh. Semua dinilai dengan baik dan buruk, benar atau salah. Semuanya tidak menyukai perbedaan, Semua yang berbeda adalah buruk dan salah.

Hasilnya, tujuan anak untuk belajar adalah mendapatkan nilai bagus di rapot, tanpa tahu apa yang bisa diterapkan dari pelajaran tersebut. Semua itu tidak lebih seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang berkuasa, siapa yang pintar maka dialah yang hebat dan mendapatkan pujian atau penghargaan.

Kalimat guru yang mengatakan “nggak papa kamu dapet nilai 5 asalkan itu hasil dari usahamu sendiri” adalah kebohongan yang cukup tidak bisa dipercaya. Mana ada juara 1 dapat nilai 5? Yang jadi juara tetap mereka yang dapat nilai 9 atau 10.

Lantas, kenapa sekolah menjadi seperti ini? Bukankah seharusnya pendidikan adalah sebuah wadah untuk membuat anak didik memahami tentang dirinya sendiri? 

Seperti kata Einsten “setiap anak adalah jenius, tapi kalau kita menilai seekor ikan dari caranya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan menganggap kalau dirinya bodoh”.

Jadi gimana, apakah sekolah memang sebaiknya dibubarkan saja?




*Diolah dari buku “sekolah dibubarkan saja”.