Wali Tosora, Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Giri, Guru Ga’de, Imam Lapeo, Al Fatihah.  

Kali pertama aku ke pulau Jawa pada tahun 1992. Saat itu, umurku baru sepuluh tahun, dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Aku ke sana bersama keluargaku; aba, ummi, kak Ida, adik Arfah, dan Ima. 

Kami menziarahi beberapa makam, termasuk makam Sunan Ampel atau Raden Muhammad Ali Rahmatullah di kota Surabaya, Jawa Timur. Sunan Ampel merupakan salah satu wali bagian dari Wali Songo, sembilan wali di Jawa yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Di 2017, setelah aku mengikuti seminar Annual Conference for Muslim Scholars  (Ancoms) I yang diadakan oleh Kopertais Wilayah IV Surabaya. Aku diajak teman dosen mbak Ulla, yang ikut berpartisipasi di acara tersebut untuk berziarah ke makam beliau, Sunan Ampel. 

Suasananya masih sama, ramai, banyak peziarah. Namun, aku lupa, apakah sewaktu kecil, aku bisa melihat makam secara dekat karena saat itu makam sudah dipagari walau masih terlihat dari luar. Waktu itu, aku ikut membaca Yasin bersama Ulla yang tampak sangat khidmat.

Di tahun ini, 2022, aku ke sana lagi, ke makam Sunan Ampel bersama adik sepupuku, Ammoz. Ia tampak takjub dengan banyaknya orang yang berziarah. Tetapi, ia tampak sedih karena makam sunan Ampel walaupun terlihat namun tidak bisa disentuh karena dipagari dan tidak dapat difoto dari dekat. 

Beda sekali dengan makam para wali yang biasa kami ziarahi di wilayah SulSelbar semuanya bisa dan biasa kami pegang nisannya sekaligus berfoto pada makam.

Ammoz hampir tak percaya, mengapa tak bisa menyentuh makam. Kami juga tidak bertanya pada orang-orang seperti penjaga karena banyaknya peziarah-peziarah yang memenuhi makam. Setelah membaca Yasin dan berfoto di wilayah makam, kami minum lalu mengambil air berkah yang disediakan secara cuma-cuma.

Aku jadi teringat cerita, jika kakek kami, Imam Lapeo yang seorang yang dipercaya sebagai wali di Mandar, Sulawesi Barat pernah menjadi marbot, pengurus dan penjaga masjid Ampel. Kami hanya bisa melihat keindahan masjid tanpa tahu harus bertanya pada siapa karena banyaknya peziarah dan hari itu dikejar waktu untuk menuju lokasi makam Wali Songo yang lain.

Kami lalu menemui sopir carteran yang membawa kami. Kami lalu menuju kabupaten Gresik yang masih dalam wilayah Jawa Timur. Kami ke sana karena ingin berziarah ke makam Sunan Gresik atau Syeh Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga merupakan salah satu bagian dari Wali Songo.

Kakek Bantal, kami datang.

Kurang lebih sejam perjalanan, akhirnya, kami sampai di makam beliau yang terletak di jalan Syeh Maulana Malik Ibrahim. Di sana terdapat bangunan seperti masjid, semacam aula juga karena besar dan luas terdiri dari dua lantai. Di sampingnya terdapat banyak makam-makam kuno bahkan sampai di pelataran bangunan, dan tempat wudhu.

Setelah berwudhu, kami ke kompleks makam, ruangan makam sunan Gresik terdapat dua makam yang menonjol lainnya yaitu makam istrinya, Fatimah, dan anak beliau (aku lupa namanya). Kemudian ada makam-makam yang lain yang tidak diketahui siapa karena tidak bertuliskan walau terdapat penanda.

Ketika kami membaca Yasin, Ammoz sempat memegang pintu pagar makam yang tampak tergembok. Ia bilang padaku, jika sebenarnya kami bisa masuk dan turun ke bawah untuk memegang nisan Sunan Gresik. Letak makam beliau dan keluarganya memang agak menurun ke bawah yang ditempuh dengan beberapa anak tangga.

Tak lama kemudian, beberapa pengurus makam tampak membuka makam dan menaruh ambal. Beberapa dari mereka juga menyapu dedaunan yang berguguran di lantai dari pohon yang tumbuh di sekitar areal makam

Setelah kami membaca Yasin, aku bertanya pada pengurus makam yang menyapu lantai. Kami bertanya tentang silsilah Sunan Gresik. Kami juga menjelaskan jika kami mendapatkan informasi jika ayah Sunan Gresik adalah Syeh Jamaluddin Al Akbar atau yang dikenal sebagai wali Tosora yang makamnya terletak di desa Tosora, kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Namun, si bapak tampak tidak percaya, karena katanya banyak klaim tentang ayah dan turunan beliau. Kami pun bertanya lagi, mengapa tadi makam dibuka dan lantainya dialasi ambal. Kata si bapak, ada pejabat kepolisian yang akan datang. Aku dan Ammoz berpandangan, seandainya kami juga bisa masuk seperti pejabat tersebut.

Kami juga ingin masuk, kami ingin melihat makam Sunan Gresik secara dekat. Bapak itu menyarankan kami meminta izin pada pengurus inti makam. Aku kemudian bertawasul kepada kakek kami, Imam Lapeo,  “Kakek, jika benar Sunan Gresik adalah buyutmu, tolong kami untuk dapat memegang nisannya.” Kataku dalam hati sambil mengirimkan Al Fatihah. 

Ada pendapat yang mengatakan jika sanad Imam Lapeo bersambung sampai ke Sunan Gresik dari buyutnya Guru Ga’de seorang penyebar Islam di pesisir Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada abad ke 16 – 17.

Seorang habib yang berumur sekitar enam puluh tahun terlihat mondar-mandir sambil menelpon. Kami menyapanya dengan salam dan meminta izin untuk melihat makam Sunan Gresik lebih dekat. Kami jelaskan, bahwa kami jauh-jauh dari Sulawesi Barat. Si habib menyuruh kami menunggu, katanya, ada yang lebih berhak mengizinkan kami bisa masuk atau tidak.

Tak lama kemudian, seorang habib muda datang. Kutaksir umurnya belum mencapai empat puluh tahun. Kami pun menjelaskan padanya keinginan kami untuk masuk ke dalam makam melihat makam Sunan Gresik lebih dekat.

Alhamdulillah, ajaib, ia mengizinkan, kami disuruh cepat-cepat masuk sebelum pak kapolda datang. Kami pun masuk, mungkin karena saking tegangnya, kami bingung mau apa di nisan beliau. Aku kemudian memegang nisan dan menangis. Aku berkata dalam hati, “Kakek Bantal, aku datang.”

Aku hanya bisa menangis haru, dan bingung. Ammoz lalu mengambil gambarku menyuruhku tersenyum, aku hanya bisa menangis. Aku juga lupa mengambil gambar Ammoz di makam. 

Perasaanku campur aduk, antara senang dan sedih. Namun, Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, kami bahagia bisa memegang nisan Sunan Gresik atau dengan gelar lain beliau, Kakek Bantal.

Alhamdulillah, Masuk di Makam Sunan Giri

Makam sunan Giri juga berada di Gresik, kami juga menyempatkan berziarah ke sana setelah dari makam sunan Ampel, dan sunan Gresik. Sunan Giri bernama asli Raden Paku, ayah beliau bernama Maulana Ishaq, saudara dari Sunan Gresik. Sunan Giri menikah dengan putri dari Sunan Ampel, Dewi Murtasiah.

Ketika kami turun dari mobil dan menaiki tangga menuju makam yang terletak di atas perbukitan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, jika aku juga pernah ke sini tiga puluh tahun yang lalu. Aku ingat di tahun 1992, ketika kami datang dari Makassar dengan menggunakan kapal Pelni tiba di Surabaya melalui pelabuhan Perak.

Kami kemudian tinggal di Sidoarjo. Di sana ada paman kami, adik ummiku yang bertugas sebagai kepala panti di sana. Dari Sidoarjo kami ke makam Sunan Ampel, lalu ke Sunan Giri tapi belum sampai ke Sunan Gresik. Saat itu, kami juga ke kebun Binatang Surabaya. Akhirnya, beberapa hari di Sidoarjo, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Jogja.

Di Jogja, kami mengunjungi keraton, Malioboro, candi Prambanan dan Borobudur. Ah, aku jadi ingat pada abaku yang suka membawa kami travelling, aku ingat pada almarhum ummiku yang begitu sabarnya mengurus kami empat anak-anaknya, aku yang baru naik kelas lima SD, kak Ida naik ke kelas enam, Arfah juga baru kelas tiga. Dan si bungsu Ima masih duduk di bangku TK. Rasanya, ingin menangis lagi.

Akhirnya, kami sampai ke atas makam setelah menaiki banyak anak tangga. Seingatku dulu belum banyak bangunan, kini banyak sekali bangunan, entahlah bangunan apa. Mungkin pertokoan yang semakin membuat ramai, dan padat.

Kompleks makam Sunan Giri terlihat tertutup dalam bangunan seperti Joglo. Beberapa makam tua juga terlihat di sana. Namun, makam sunan Giri adalah makam yang paling besar. Beliau dimakamkan dalam ruangan seperti kamar besar. Di dalam kamar itu ada kamar kecil lagi, tempat sunan Giri bersemayam.

Kami mengikuti arus orang-orang yang masuk dalam ruangan makam Sunan Giri. Mereka membaca Yasin di luar kamar, makam atau kamar Sunan Giri terlihat tertutup rapat. Beberapa orang terlihat naik dan turun dari ruang itu setelah membaca Yasin dan berdoa. Aku berpikir, jika makam sunan Giri terlalu tertutup dibandingkan dua makam Wali Songo tadi.

Ketika kami turun, kami mengintip masuk ke dalam pintu kamar Sunan Giri. Kami melihat banyak bapak-bapak berpakaian polisi. Kami kemudian bertanya pada penjaga, apakah kami bisa masuk seperti bapak-bapak polisi tadi. Ia menjawab bisa, tapi minta izin dulu pada pengurus makam.

Kami kemudian segera mencari ruangan pengurus makam Sunan Giri untuk meminta izin agar diizinkan masuk juga ke dalam makam. Ternyata, pengurus sedang di dalam makam bersama kapolda. Kami menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, kemudian dua orang bapak berpakaian warna putih datang bersama bapak-bapak berpakaian polisi.

Kami lalu meminta izin pada pengurus agar bisa masuk, bapak itu tampak ragu. Kami kemudian menjelaskan bahwa kami berasal dari Mandar, Sulawesi Barat. Ammoz kemudian memelas meminta izin lagi, ia kemudian bertawasul pada kakek Imam Lapeo. Alhamdulillah, bapak tadi mengizinkan.

Kami diantar salah satu pengurus untuk masuk ke dalam, ia mengizinkan kami memegang nisan dan berdoa. Kami kemudian berfoto-foto, namun oleh beliau kami diminta untuk tidak terlalu mempublishnya. Bapak tadi juga mengatakan tidak semua orang bisa masuk ke dalam makam dan memegang nisan karena tidak semua orang diizinkan masuk untuk menjaga makam terjaga dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pulangnya, pengurus yang tidak mengantar kami sudah menunggu di ruangan pengurus. Ia memberikan buku tentang Sunan Giri pada kami. Saying sekali, aku tidak membawa buku yang kami tulis tentang Imam Lapeo. Aku berjanji dalam hati, besok-besok jika berkesempatan berziarah di sini, aku akan memberikan bukuku.

Kami sangat bersyukur pada Tuhan, Allah SWT telah mengizinkan kami memegang nisan wali-wali terpilihnya. Padahal, makam sunan Gresik dipagari, dan makam sunan Giri dalam kamar besar yang tidak sembarang orang bisa masuk.

Terima kasih kepada kedua orang tua kami, aba dan ummi yang lebih dulu mengajarkan kami berziarah ke makam-makam wali termasuk makam Wali Songo, terima kasih kepada penjaga-penjaga makam, pengurus-pengurus makam, habib-habib, terutama makam di Sunan Gresik dan Giri yang telah mengizinkan kami masuk memegang nisan dan berfoto di dalam. Terima kasih secara tidak langsung kepada bapak-bapak polisi, kapolda yang hari itu  (10 Juni 2022) bersama kami berziarah, karena mereka masuk ke makam, kami juga bisa masuk.

Terakhir, terima kasih untuk annangguru Imam Lapeo, barakkana to salama karena kami bertawasul kepada beliau sehingga kami bisa masuk ke makam, Al faihah.