Ungkapan paling klasik yang sering kami para sarjana pertanian ungkapkan dulu dibangku-bangku perkuliahan yaitu bahwa kita ini hidup dinegara agraris dimana penduduk negara kita itu didominasi oleh masyarakat petani yang hidupnya bergantung dari pemanfaatan sumberdaya alam, manusia dan teknologi, dan juga kebijakan pemerintah. 

Mengapa kebijakan pemerintah mengambil peranan yang penting bagi perkembangan dan kemajuan petani? bisa dibayangkan betapa kekuasaan telah menyentuh sudut-sudut penderitaan masyarakat petani. 

Ketika mereka harus membeli bahan bakar minyak yang sebetulnya ‘mahal’ ketika mereka hendak membajak sawah dengan mesin traktor, yang kita ketahui mesin traktor baru bisa difungsikan dengan adanya bahan bakar bensin/solar. 

Di situlah ketergantungan petani terhadap kebijakan dari pihak yang berkuasa sangat jelas terlihat, dimana bahan bakar menjadi faktor penentu berfungsinya teknologi pertanian, sedangkan harga bahan bakar terus dinaikkan oleh pemerintah.

Waktu selesai dari proses perkuliahan ketika itu, saya sempat beberapa bulan terjun langsung berbaur dan sepenuhnya bersosialisasi dengan masyarakat petani, di antara mereka para petani itu ada banyak yang justru tidak lagi peduli soal kekuasaan dan politik, justru cenderung melihat penguasa ibarat ‘tuan-tuan’ dan ‘puan-puan’ yang sangat berjarak dengan mereka, memang jelas bahwa mereka adalah petani subsisten atau petani tradisionalis yang kondisi sosial ekonominya bisa dikatakan berada di bawah rata-rata.

Petani-petani kecil ini justru semakin mengecilkan diri dengan meniadakan konsep pemahaman mereka untuk ditampakkan, memang begitulah ciri-ciri mereka yang hidup merendahkan diri sama seperti sifat fitrah manusia yang memang merendah yaitu tanah karena memang tanah berada pada posisi terendah dibandingkan unsur lain. 

Saya sering sekali berdiskusi dan menulis tentang ciri dan nasib para petani-petani kecil atau petani subsisten ini, memang ada banyak faktor yang cenderung perlu untuk terus dipermantap untuk memajukan pemahaman mereka dan salah satunya yang utama adalah faktor pendidikan dan pemahaman mereka.

Ketika berbaur dengan mereka para petani kecil itu, suara-suara bernuansa kritikan kepada pemangku kebijakan sering kali muncul dengan nada suara yang terdengar halus dan pelan, begitulah ciri-ciri mereka ketika berbicara, tak tahu berkata lantang kepada penguasa mereka pandai menempatkan posisi diri mereka, dari mulut mereka sering kali terdengar keluhan soal langkanya pupuk bersubsidi untuk kebutuhan budidaya agar tanah semakin subur dan hasil panen yang mereka nantikan semakin melimpah.

Selain soal kelangkaan pupuk, mereka juga sering mengeluhkan soal biaya pendidikan anak-anak mereka yang semakin hari terus bertambah, belum lagi soal kebutuhan ekonomi rumah tangga dan gaya hidup anak dan istri mereka yang semakin hari semakin bertambah. Bahkan di antara mereka petani-petani kecil itu karena tak kuasa lagi hidup di tanah sendiri sampai rela untuk merantau dan menjadi buruh di tanah milik orang lain. 

Soal BBM naik, mereka tidak ada sedikit pun yang menampakkan keinginan mereka untuk melakukan aksi demonstrasi, mungkin saja mereka menaruh harapan besar kepada anak-anak mereka yang sedang kuliah untuk mengontrol ‘kebijakan’ yang tidak bijak itu, meski disisi lain anak-anak yang belajar itu cenderung dininabobokkan dengan game online dan tren media sosial

.Masih teringat dibangku-bangku perkuliahan, ketika membahas soal mereka para petani kecil itu di mana kami menyepakati bahwa dasar perilaku tradisionalis mereka yang masih cenderung primitif dan mengedepankan proses budidaya untuk sekedar kebutuhan makanan sehari-hari saja, tidak berpikir untuk berkembang dan memajukan usaha tani yang mereka geluti itu.

Faktanya, di lapangan mereka itu justru ingin sekali berjuang untuk memajukan taraf perekonomian dengan memaksakan anak generasi mereka untuk bersekolah meski pas-pasan soal biaya. 

Mereka sadar bahwa tanah dan air adalah sumber penghidupan yang sesungguhnya sehingga mereka tetap bertahan berada di bawah terik matahari atau derasnya hujan demi menaruh harapan sepenuhnya agar tetap bisa makan dan anaknya tetap bisa bersekolah. 

Pada hari ini, kebijakan naiknya harga BBM masih terus dikontrol oleh para mahasiswa yang sadar dan kritis, meski disisi lain kebanyakan tak paham situasi dan cenderung acuh tak acuh dan justru malah banyak yang berpihak kepada penentu kebijakan dengan dalil-dalil argumentasi yang mereka andalkan. 

Pada kenyataannya, petani-petani kecil yang terdampak berharap sepenuhnya dari proses kontrol sosial yang dilakukan oleh para pelajar yang ‘konon’ memiliki keunggulan dengan kadar intelegensia tingkat tinggi tersebut. 

Naiknya BBM dan kebutuhan-kebutuhan yang lain menjadikan mereka semakin bijaksana dalam menyikapi dan semakin merendahkan diri dan melembutkan suara-suara kritikan kepada pihak yang memutuskan kebijakan, dan membiasakan diri berharap untuk terus dibantu dengan berbagai macam program bantuan dari pihak-pihak pemerintah/penguasa, demikianlah cara penguasa menghadirkan kultur sosial ekonomi kepada masyarakat petani dengan beragam model program bantuan. 

Tentu harapan mereka tetap sama, yaitu kesejahteraan dalam proses kehidupan masih mereka perjuangkan dan mereka yakini bahwa suatu saat akan ada situasi di mana surga-surga kecil yang mereka rawat di bawah terik matahari itu dapat terus memberi kehidupan dan kemanfaatan bagi banyak orang, setidaknya keringat tetap mereka korbankan untuk kebutuhan mendasar bagi diri, keluarga dan masyarakat.