Berbicara mengenai pasar tak luput dengan dinamika perekonomian. Geliat sosial dan politik memiliki korelasi kuat pada kondisi perekonomian suatu negara atau wilayah tertentu. Ekonomi yang baik akan mendukung pemenuhan atas kesejahteraan masyarakat. Peranan pasar salah satunya, mampu mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat sipil.

Jual beli merupakan hal wajar dalam perekonomin. Uang yang diam dihindarkan agar bisa mendapatkan profit lebih, bagi harapan hidup lebih baik. Kemiskinan dan pengangguran adalah musuh utama disetiap periode kekuasaan di negara ini.

Pasar masih menjadi topik terhangat, terkadang bisa berpengaruh pada kaitan antara masalah multidimensi di Indonesia. Sosial, politik dan kebudayaan terkena imbas oleh pengaruh ekonomi. Secara keilmuan ekonomi digunakan untuk mempelajari tingkah laku manusia dalam mengelola sumber daya alam yang terbatas. Perkembangan teknologi telah menjadi solusi untuk mengatasi kelangkaan atas sumber daya alam.

Bila kita tilik kembali, krisis 1930, 1998 dan 2008 memberikan sosial politik kehidupan di beberapa negara-negara di dunia. Indonesia ketika tercekik krisis moneter tahun 1998, peranan civil society benar-benar mempengaruhi kondisi politik. Terbenturnya masyarakat karena kondisi ekonomi mereka hancur, menyebabkan gerakan masa benar-benar kuat.

Kehancuran pasar tahun 1998, memunculkan banyak perusahaan yang mengalami collapse, menyebabkan tatanan sosial dan politik amburadul. Itu semua terjadi pada titik-titik siklus pasar terkuat alias berada pada daerah perkotaan dan daerah padat karya lainnya. Pasar menjadi sebuah ruh kehidupan dalam menunaikan runtutuan laku kehidupan. Lalu bagaimana pasar bisa menciptakan efek bagi kehidupan manusia?

Kemajuan teknologi, gaya hidup hingga meningkatnya konsumerisme mengubah arah kehidupan. Arah peranan pasar semakin terpengaruh dengan munculnya tanda-tanda baru arus kehidupan manusia yang terus mengalami gerak rekonstruksi. Ritus-ritus kuno mulai ditinggalkan karena terpengaruh oleh mode dan sign kekinian dan ada juga yang bertahan dengan alasan sebuah kearifan.

Misal saja, agar bisa dikatakan tak kuno maka individu harus bisa menyesuaikan dengan kondisi hari ini. Kemudahan dalam transaksi dengan munculnya alternatif pasar baru merubah arah gerak manusia. Manusia semakin mudah untuk menonton mode terbaru sampai penyesuaian dan mengarah pada penguatan akumulasi modal individu.

Adam Smith pencetus ekonomi klasik terpengaruh pola pemikiran Yunani Kuno seperti Epicurus dan Arestetus mengenai Hedonism. Kekayaan dan kesenangan dalam diri individu mutlak untuk dipenuhi, begitulah simpulan dari arah pemahaman hedonism. Individu berhak menentukan jalan mereka masing-masing. Miskin atau kaya, individulah yang menentukan. Dari situ, Adam lebih merujuk pada kebebasan individu dalam menghadapi dunia dengan meminimalisir peranan negara.

Kemiskinan dan Permasalahan ekonomi lainnya

Perkembangan perekonomian menjadi acuan untuk mengetahui pertumbuhan suatu negara. Perkembangan tidak hanya menyoal beberapa banyak jumlah Gross Domestic Product, akan tetapi ada segmen tertentu seperti indeks pembangunan manusia yang juga harus diperhatikan bagi pemegang kebijakan.

Pembangun inklusif bisa jadi andalan dalam menyongsong kembali konsep perekonomian pancasila yang sedang hilang tajinya. Segmen masyarakat miskin dan kurang terberdaya harus jadi garapan utama untuk tidak terbelenggu di dalam lembah kesengsaraan. Begitulah harapannya.

Untuk mendapatkan itu semua, peranan pemerintah diharapakan menjadi momok penting bagi pembuat regulasi disamping masyarakat yang produktif. Dengan itu semua akan tercipta tatanan kuat bagi pemegang kebijakan dan pelaku kebijakan.

Peranan hutang luar negeri untuk memberdayakan masyarakat sering dilakukan oleh beberapa negara termasuk Indonesia. Pengamatan hutang luar negeri acap kali dipandang secara negatif, dengan alasan mampu membuat bangkrut negera yang berhutang. Akan tetapi secara teoritis kadang masyarakat menggap salah dalam hutang luar negeri –secara makro, dengan melihat hutang hanya pada nilai nominalnya saja dan tidak melihat aspek debt ratio sebagai aspek makroekonomi.

Jefry D. Sach salah satu perancang millennium Development GoalsI (MDGs), memandang hutang sebagai aspek penting dalam mempercepat pembangunan sebuah negara disamping kebijaksanaan negara atas hutang yang didapatakan oleh pemegang kebijakan. Dengan hutang diharapkan mampu membangun infrastrukstur fisik dan sosial untuk masyarakat.

Akan tetapi seorang professor ekonomi Wiliam Easterly menganggap sinis, bahwasannya hutang akan mengkerdilkan masyarakat sehingga tak cakap dalam mengatasi problematika perekonomian secara mikro, juga masalah ketidakjujuran yang melahirkan korupsi dan persaingan rente sehingga membuat menderita masyarakat.

Kemiskinan merupakan masalah multidimensi dalam perekonomian, dan sangat bervariatif dalam mengatasi dan mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan. Ada pengaruh mengapa masyarakat sering kali terjebak dalam kemiskinan, salah satunya dikutip dari (Eka Sastra, 2017) diakibatkan oleh kurang aktif dan tertinggalnya masyarakat dalam mengamati informasi terbaru.

Informasi adalah aspek penting untuk mengamati celah untuk sebuah kemajuan. Acap kali, masyarakat menggunakan informasi hanya pada tujuan hiburan bukan kepada tujuan-tujuan pemberdayaan. Disinilah pentingnya pengaruh edukatif bagi masyarakat guna melek dan cerdik dalam mengamati setiap peluang.

Kemiskinan terjadi atas melebarnya angka kesenjangan sosial. Kesenjangan sering juga dihitung melalui angka ratio gini. Penyebab kesenjangan sosial, diakibatkan penyebaran pendapatan untuk kesejahteraan sering terhambat dikarenakan pertarungan rente, sehingga terkesan monopolistis, berkabiat –hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan kekayaan.

Kesenjangan sosial menjadi bahan kritik dari pemikiran Adam Smith dengan menghalalkan kebebasan pasar dengan meminimalisir peranan pemerintah. Kebebasan pasar ala Adam Smith membuahkan sebuah mala petaka berupa kesenjangan dan ketertinggalan.

Dalam perekonomian ada sebuah asimetri dalam menangkap segala bentuk perubahan. Tidak semua masyarakat tanggap terhadap sebuah perubahan. Individu atau kelompok yang kurang bisa menyesuaikan perubahan inilah, akan berakibat sebagai permasalahan dalam pemerataan kue ekonomi.

Bila kita tilik kembali teori dari Simon Kusnets bahwasannya kesenjangan dalam perekonomian merupakan sebuah gejala yang wajar. Kesenjangan adalah sebuah penyesuain dari masyarakat ketika merasakan sebuah perubahan. Keberuntungan dari pihak the have memang akan menimbulkan gejala paling mencolok, alias pendapatan paling kuat dibanding dengan masyarakat menengah ke bawah. Suatu saat masyarakat akan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terus berkembang dan menurunkan kurva ke arah bawah.

Sosial Politik dan Ekonomi

Jacob Mincer selaku ekonomi yang fokusnya bidang ekonomi buruh, mengatakan bahwasannya fokus kajian ekonomi pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) sudah berlangsung hampir dua abad. Peranan SDM memang masih selalu dipertimbangkan karena bila kita tilik secara politik. SDM adalah bagian dari subjek politik elektoriat atau sejenisnya.

Penguatan sumber daya manusia tidak pernah lepas dari pengaruh penguasa atau pemerintah dalam menentukan kebijakannya. Kebijakan yang baik, diharapkan mampu mengantarkan pemerintah pada good governance dan terhindar dari baying-bayang bad governance.

Benhabib dan Spiegel (1991) menyampaikan bahwasannya disamping dalam pembangunan pada sektor ekonomi berupa ekonomi mikro, harus ada sebuah benteng khusus dalam kestabilan politik. Dengan kestabilan politik, maka akan terciptak rasa aman dan kemudahan masyarakat untuk menentukan karakter dan kapasitasnya.

Kumpulan manusia yang melahirkan sumber daya manusia adalah bagian dari sistem politik. Kestabilan politik mampu mempengaruhi iklim kedamaian dan produktifitas manusia. Produktifitas inilah yang akan menciptakan modal manusia. Mincher (1985) menyampaikan bahwasannay modal manusia sebagai bentuk karakteristik yang dipelajari dan diturunkan apalagi kondisi sosial politik stabil. Micher memberikan klasifikasi proses pembentukan modal sosial sebagai berikut; diturunkan dan didapatkan.

Proses penurunan kualitas melalui pelatihan akan didapatkan bila kondisi sosial stabil dan dapat ditemukan dengan mudah, pelbagai macam pelatihan bagi modal sosial. Modal sosial akan mendapatkan pengetahuan guna diimplementasikan untuk membentuk kemapanan kelompok menerjang pasar yang terkesan likuid.

Penyakit kronis korupsi masih menjadi bayang-bayang di Indonesia. Dinukilkan dari Global Corruption Barometer Asia, Indonesia bertengger pada posisi ketiga paling korup di Asia. Efek yang ditimbulkan dari korupsi berupa ketidakstabilan masyarakat terhadap penguasa dengan melalui beberap geliat, salah satunya aksi unjuk rasa dan kemelut berujung ketidakstabilan sosial.

Pasar akan bergerak dengan sendirinya akan tetapi sering mengalami dampak ketika kondisi sosial dan politik tak stabil. Ekonomi dan politik adalah satu paket melahirkan kebijakan yang memang diperuntukan bagi masyarakat. Apabila pincang salah satunya, akan berimbas ketidakstabilan sosial.