Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang, dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, ulos pangihot ni holong, yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak, ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api, dan ulos.

Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Dahulu, nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung. Demikian sebutan yang disematkan sejarah pada mereka, mengingat suku Batak berada di antara gunung Toba.

Letak geografis yang memengaruhi perilaku penghuninya membentuk perilaku berladang di kawasan pegunungan bagi suku Batak. Keputusan untuk mendiami dataran tinggi berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Dari sinilah sejarah ulos bermula.

Pada zaman dahulu, suku Batak masih memakai kulit kayu sebagai pakaian. Bahkan di masa penjajahan, ulos belum sepopuler saat ini, suku Batak masih banyak memakai kulit kayu saat itu.

Kemudian orang tua Batak di Sianjur mula-mula, Samosir belajar menjadi penenun. Mereka mulai bertenun dan terciptalah ulos dengan motif yang sederhana seperti ulos suri-suri (Bentuk Sisir).

Makin bertambahnya kebutuhan, maka terciptalah ulos lainnya untuk para raja dan juga untuk upacara adat suku Batak. Zaman dahulu, ulos dipakai orang Batak untuk menghangatkan badan seperti selimut tidur dan pakaian sehari-hari.

Jadi, dari kain ulos yang dipakai suku Batak, ke mana pun mereka pergi, orang lain akan mengenal kalau orang tersebut adalah suku Batak. Inspirasi motif yang ada di dalam ulos pun banyak berasal dari alam, contohnya dari Danau Toba, biji mentimun, paru burung, panah, kuku elang, tombak, rotan, andor-andor (ubi jalar), bintang, daun beringin, dan lain-lain.

Seperti motif rotan sendiri menjadi simbolik yang banyak digunakan, karena rotan merupakan tumbuhan kuat, yang dapat hidup di air pun di darat. Sama halnya dengan orang Batak yang memiliki pribadi yang kuat (tegas) dan dapat hidup di mana saja.

Begitu sama halnya dengan simbol masyarakat Batak yang identik dengan seekor “cicak” mampu hidup di mana saja. Pada jaman dulu pewarnaan untuk ulos pun berasal dari alam. Contohnya dari getah kayu, batu alam, kerang dan sangat identik dengan warnah putih merah serta hitam seperti bendera Batak.

Kain ulos pun tidak begitu saja menjadi benda sakral sedari kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam, ulos pun telah melalui proses yang cukup panjang serta memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti saat ini.

Berbeda dengan ulos yang akrab kita kenal saat ini, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Dewasa ini menurut laman resmi pariwisata Indonesia, kain ulos saat ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi masyarakat adat Batak.

Kain ulos tak hanya digunakan untuk pakaian, tapi juga digunakan dalam beberapa ritual dan rangkaian upacara seperti kelahiran, kematian, dan pernikahan. Bahkan, kini kain ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.

Seminggu belakangan ini saya digugah untuk banyak melakukan senam pipi saat mengkonsumsi berbagai seliweran akan perdebatan kain “ulos” yang bergulir di timeline Facebook. Saya pun yakin pengguna lainnya merasakan itu.

Saya tertawa sendiri sembari “tepuk jidat”, untung jidat ngak sampai lecet. Bisa urusan panjang nantinya. Saya tidak berada diposisi “Pro” atau “Kontra”, jika ada perempuan Batak berpose sembari menyematkan kain ulos di tubuhnya.

Pun saya tidak melabelkan “setiap perempuan Batak yang menggunakan ulos saat berpose harus tau jenis-jenisnya, harus paham partuturan atau silsilah Batak. Karena tidak ada ketentuan yang mengikat kalau kita harus dan harus paham segala sesuatunya. Ibarat kita tidak diwajibkan untuk paham semua pelajaran apa saja sewaktu sekolah kan?

Hingga sampai saat ini, saya tidak paham indikator seksi itu sampai ke titik mana. Sebagaimana komentar yang dilontarkan dikolom Facebook baru-baru ini. Beberapa diantaranya mengatakan, “kalau mau pose pake ulos itu ngak usah seksi-seksilah, pake nampakkan belahan itunyalah, ngak pake dalamanlah dan ntah apalah itu.”

Saya bingung dan terkejut, untung tidak gagal jantung. Hemat saya, kita berada diantara kata yang begitu abstrak dengan persepsi beragam. Ukuran seksi itu relative, mungkin bagi saya pose mu itu seksi, tapi bagi orang lain biasa saja. Apakah kita bertugas untuk menyamakan persepsi kepada yang lain dalam hal ini? tentu tidak.

Kita berada di arena keberagaman dan labil. Mungkin bagi saya untuk mengetahui segala hal tentang Batak ialah respon terhadap lingkungan yang begitu beragam. Saya tidak dituntut untuk tau segalanya, tapi ada rasa malu ketika tidak banyak tau dan itupun bukan tugas orang lain untuk mengukurnya.

Sejarah panjang kain ulos pun tidak bercerita tentang keseksian. Karena seksi pun bukan ukuran kita untuk menyimpulkan kepribadian seseorang. Hingga dari itu, kiranya tak perlu kita perdebatkan sesuatu yang relative, apalagi sampai melakukan body shaming. Karena si Covid-19 pun tidak membedakan yang seksi dan tidak.