2 tahun lalu · 454 view · 2 min baca · Budaya 83067.jpg
pribadi

Kain Pembalut Rambut

Di era moderan ini, kain pembalut rambut mulai digandrungi para remaja, tak hanya wanita paruh baya saja. Kain itu memenuhi mulai emperan jalan, kios pinggir jalan, hingga gedung retail kalangan borjuis. Modelnya pun beragam, mulai dari seleher hingga se-paha.

Perubahan sudut pandang pun berubah. Ah, entahlah saya tak sepenuhnya yakin. Saya hanya ingat sahabat laki-laki saya bilang, tak ingin mencari pasangan menggunakan kain pembalut rambut. Alasanya sepele, wanita pujaan terakhirnya yang setia menggunakan kain pembalut rambut tak ada bedanya dengan perempuan malam yang memenuhi saritem.

Apa makna kain pembalut rambut menurutmu? Hiasan? Identitas diri? Penenang diri? Atau kedok sebagai perempuan baik-baik? Tak jarang wanita enggan menggunakan kain pembalut rambut karena alasan gerah atau pun belum siap. Tak jarang pula lelaki menolak pasangannya menggunakan kain pembalut rambut dengan alasan tak sedap dipandang. Belum lagi dugaan pencuri dan teroris ramai menghardik kain pembalut rambut yang menutupi hingga pinggang.

Sehancur itukah makna kain pembalut rambut? Ah, tapi saya merasa bersyukur menggunakan kain pembalut rambut.

Tepat lima tahun yang lalu hasrat kecil saya ingin menggunakan kain pembalut rambut, tak ada paksaan dari seorang pun kecuali diri saya sendiri. Alasannya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, menutup sebagian aurat yang terlihat.

Pelan-pelan ketenangan menghampiri dan pelan-pelan cobaan pun menghampiri saya. Mulai dari pertanyaan sepele, “Gak panas ya pakai kain di kepala? Kayak pocong aja!” hingga kejadian terakhir yang cukup menghancurkan psikis saya. Saya hampir disetubuhi, kekasih saya!

Apakah dengan itu saya harus membuka kain pembalut rambut? Apakah dengan itu saya tak suci untuk menggunakannya? “Ah, benar-benar tak tau malu kau, Han!” kata-kata menggunjing dari pikiran saya kerap menghantui. Tapi bukankah jika saya melepasnya saya akan semakin terpuruk? Bukankah saya seharusnya bersyukur bisa menggunakan kain pembalut rambut di batas sadar saya sendiri, tanpa paksaan?

Sabtu kemarin pertanyaan retoris muncul dari teman sekamar saya, “Mbak, gimana sih mbak rasanya pakai kain pembalut rambut?” Saya melayangkan pandangan bingung ketika itu, karena dia juga sedang mengenakannya. Usut punya usut, dia menggunakan kain pembalut rambut sejak TK hingga saat ini. Lingkungan keluarganya seperti itu. Sementara ia mulai mempertanyakan ideologi penggunaan kain pembalut rambut yang dia kenakan.

Belum lagi perkenalan saya dengan seorang ibu muda beranak satu. Pengguna kain pembalut rambut pula. Di sela-sela ceritanya, ada ketidakikhlasan menggunakan kain itu. Bukan orangtuanya, bukan pula suaminya yang menuntutnya menggunakan kain pembalut rambut, namun anak semata wayangnya. Ya, anaknya yang ketika itu berumur dua tahun. Anaknya menangis sepanjang hari ingin melihat ibunya menggunakan kain pembalut rambut.

Sebenarnya ada rasa iri yang membeludak dari mendengar cerita dua orang itu. Bukankah menyenangkan ada seseorang kita sayang mengingatkan untuk berbuat baik? Bukannya menyenangkan ada seseorang yang peduli dengan kita? Ataukah saya yang kurang bersyukur tak pernah diminta ibu atau bapak menggunakan kain pembalut rambut?

Masih teringat jelas ketika kebebasan kakak untuk mengenakan kain pembalut rambut terenggut di tempat kerja pertamanya. Pergi ke kantor menggunakan kain pembalut rambut, sampai kantor dilepas, lalu pulang digunakan lagi. Ironis, bukan?

Atau saat teman kecilku yang memeluk Katolik erat, ingin sekali menggunakan kain pembalut rambut agar rambutnya tak kusam tersengat matahari, pun setidaknya terhindar dari kutu yang sering bersembunyi di balik rambut anak-anak yang memeluknya. Ironis, bukan?

Mengapa saya harus melepas kain pembalut rambut ketika membuat kesalahan fatal itu? Bukankah kain pembalut rambut itu sebagai pengingat? Bukankah kain pembalut rambut itu sebagai bukti kebebasan? Bukankah kain pembalut rambut itu sebagai bentuk peduli orang lain pada saya? Bukankah kain pembalut rambut setidaknya melindungi saya dari kutu atau sengatan matahari? Ah, jangan-jangan selama ini saya yang tak pernah bersyukur?!

Artikel Terkait