“…Setiap hati mendamba hati lain, hati yang bisa diajak untuk bersama-sama mereguk madu kehidupan dan menikmati kedamaian sekaligus melupakan penderitaan hidup…” (penggalan surat Kahlil Gibran kepada May Ziadah, 1-3 Desember 1923)

Kahlil Gibran, seorang penyair ternama yang telah melahirkan banyak puisi romantis yang sampai sekarang masih bisa dinikmati karya-karyanya yang sarat akan makna, membuat siapa pun pembaca terpesona bahkan ikut larut dalam untaian kata-kata, seakan ikut mengalami sensasi yang ditulis sedemikian rupa indahnya.

Banyak sisi Kahlil Gibran yang membuat siapa saja tertarik untuk mengetahuinya, namun saya sebagai penikmat puisi Sang Pujangga Cinta ini amat sangat tertarik dengan kisah percintaan long distance relationship atau LDR Kahlil Gibran dengan seorang sastrawan bernama May Ziadah.

Kisah cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah banyak menarik perhatian, karena mereka menjalin cinta tanpa pernah bertatap muka dan bertemu secara langsung. Kahlil Gibran yang berdomisili di New York dan May Ziadah di Mesir membuat mereka harus cukup berpuas diri dengan saling berkirim surat dan saling bertukar foto tanpa bertemu secara fisik hingga akhir hayat.

Soe Sudarjo, dalam tulisannya berjudul May Ziadah: Ironi Cinta Sang Pujangga yang dimuat dalam majalah Muslim Insani, menuliskan sebagai berikut:

Korespondensi antar-keduanya dimulai pada 1912, ketika May berkirim surat kepada Gibran mengenai tokoh Selma Karameh yang terdapat dalam Broken Wings. May sangat tersentuh dengan kisah dalam Broken Wings, yang menurut cita rasanya terlalu liberal. 

Menurut May, nasib yang menimpa Selma merupakan cerminan rasa ketidakadilan atas persamaan hak-hak kaum perempuan. Sejak itulah keduanya saling berkirim argument melalui surat. 

Di kemudian hari, saat Gibran menetap di Amerika, May sempat menjadi editor untuk tulisan-tulisan Gibran, menggantikan posisi Mary Haskell. Pada 1921, Gibran berhasil memperoleh foto May.

Tak hanya ‘curhat’ mereka berdua, Love Letters sebenarnya bisa dipahami sebagai ungkapan cinta yang universal, yang mendasari sebagian besar karya-karya Gibran. Dalam peta susastra dunia, nama Gibran memang layak digarisbawahi sebagai salah seorang penyair yang membawa “wahyu” cinta dan kedamaian. 

Meski dibesarkan sebagai penganut ajaran Kristen Maronite, Kahlil Gibran juga menyatakan keagungan Alquran dan potensinya bagi inspirasi spiritual, sosial, dan sastra. Dunia Barat dan Timur yang dia selami dan jelajahi menumbuhkan kesadaran rekonsiliasi antar-kutub itu, yang diwakili Islam dan Kristen.”

Sejak itulah kisah cinta 20 tahun tanpa pertemuan itu terjalin dengan indahnya, keduanya begitu bahagia hanya dengan membaca surat yang mereka dapatkan satu sama lain. Betapa halus cinta May kepada Gibran terlukis dalam surat wanita itu yang terdapat dalam buku Blue Flame: Love Letters of Khalil Gibran to May Ziadah:

 “…. tidak mungkin Bintang Johar itu seperti aku juga: ia mempunyai Gibran-nya sendiri — yang berada nun jauh di sana, tapi sebenarnya amat dekat di hatinya. Dan tidak mungkinkah pula Bintang Johar itu sedang menulis surat kepada Gibran-nya. 

Saat ini juga, saat senjakala bergetar di ujung cakrawala, karena tahu bahwa gelap akan melulur senja, dan esok terang pun akan mengusir gelap; ia pun sadar bahwa malam akan menggantikan siang, siang pun besok menggantikan malam, silih berganti terus-menerus, sampai kelak ia dapat bertemu dengan kekasihnya itu. 

Saat ini keheningan ujung senja pun telah memeluknya, diikuti dengan kesunyian malam. Ditaruhnya penanya, lalu berlindung dari kegelapan di balik tameng sebuah nama : Gibran….”

Kisah cinta yang dialami Kahlil Gibran dan May Ziadah yang terukir abadi dalam setiap lembaran-lembaran tulisan di atas kertas putih banyak membuat kagum.

Namun, hubungan jarak jauh yang mereka jalin dengan indah harus berakhir pada 10 April 1931 pukul 11.00 malam, Kahlil Gibran Sang Pujangga Cinta menghembuskan napas terakhirnya. Diceritakan bahwa Kahlil Gibran telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberculosis, tapi ia selalu menolak untuk menjalani pengobatan di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia.

Sepeninggal kekasih yang tak pernah dijumpainya itu, kesehatan May Ziadah mulai menurun hingga mengharuskan dirinya untuk mengadakan perjalanan tetirah ke Prancis, Inggris, dan Italia. Bahkan dikabarkan seorang teman bahwa May Ziadah pernah berusaha bunuh diri namun berhasil diselamatkan. 

Kesedihan mendalam itu bukan hanya karena dirinya ditinggalkan Kahlil Gibran kekasihnya, tapi karena ia juga ditinggal selamanya oleh Ibu, ayah, dan seorang teman dalam bidang sastra yang setia dan sepaham padanya.

Setelah 10 tahun May Ziadah ditinggal Kahlil Gibran, May Ziadah akhirnya menyusul Kahlil Gibran tepat pada 19 Oktober 1941. Ia meninggal dalam kesunyian setelah ditinggal belahan jiwanya dan orang-orang yang dikasihinya.

Dalam puisinya Kahlil berucap.

Dekatkan dahimu, Mariam, ya, dekatkan padaku. Ada sekuntum mawar putih dalam hatiku yang ingin kusemaikan di dekat dahimu. Betapa manisnya cinta bila mawar itu gemetar menahan malu …” (dari surat Kahlil Gibran kepada May Ziadah)