Saya memiliki pemahaman bahwa kafir merupakan sebuah kata sifat, yang berarti menutup. Utamanya ialah menutup diri dari kebenaran. 

Implikasinya, penyematan kata kafir tidak dapat melulu diidentikan dengan suatu agama tertentu, melainkan bisa terjadi di dalam diri setiap manusia, pada kamu, dia, mereka, bahkan saya sendiri.

Sayangnya, pemahaman umum seakan telah memvalidasi bahwa istilah kafir melekat pada identitas suatu agama tertentu, bahkan yang lebih ekstremnya satu sekte/mazhab agama tertentu dengan mudah mengafirkan mazhab lainnya hanya karena memiliki perbedaan pendapat. 

Pada tulisan ini, alih-alih untuk menghakimi atau mengafirkan orang lain, saya mencoba untuk mengantarkan pembaca budiman untuk merenung, apakah jangan-jangan kekafiran itu sebenarnya sedang menempel di dalam diri karena enggan menerima kebenaran dari luar kelompok identitas atau lingkungan di mana kita hidup.

Saya memiliki seorang teman (senior) tetapi umurnya sudah di kepala lima. Orangnya baik dan semangat belajarnya pun masih sangat tinggi, gemar membaca buku, serta militan dalam beragama, baik secara pemahaman maupun praktik. 

Suatu ketika obrolan kami masuk ke ranah dunia tulis-menulis. Saya dapati ternyata di masa mudanya ia termasuk orang yang amat produktif menulis dan menggambar ilustrasi. Karyanya terbentang lebar di berbagai surat kabar ternama di zamannya. Kompas, Bola, dan Suara Muhammadiyah adalah salah tiganya.

Hingga sampailah pada satu titik ketika saya melayangkan pertanyaan mengenai apa penerbit buku favorit bacaannya. Pustaka Al-Kautsar, katanya.

Ding dong! Saya menelan ludah. Tetapi bodohnya, tanpa tendeng aling-aling pemaparannya itu saya respons dengan berkata, “Kalau saya suka baca buku-buku (penerbit) Mizan.” Ia kaget sejadi-jadinya. “Itu kan yang punya (adalah) orang Syiah!” Saya membantahnya dengan memberikan beberapa klarifikasi, tentu dengan sopan. Tapi ia tetap ngotot. “Ya itu karena mereka sedang bertaqiyah (berbohong untuk melindungi diri).”

Sekali lagi saya mencoba untuk memberikan penjelasan sembari mendinginkan suasana yang sudah mulai agak memanas tetapi tak bisa, ia telah kadung menggebu-gebu, sangat ofensif, bahkan saya terasa tersudutkan. 

Berkali-kali ia mengatakan bahwa umat Islam seharusnya menilai atau menjalankan sesuatu berdasarkan Alquran dan As-sunnah―sebagaimana pemahamannya golongan Ahlus-Sunnah wal Jamaah―di mana ia merasa bahwa ajaran Syiah tidaklah berlandaskan pada kedua sumber sakral agama Islam itu. 

Kali ini saya memotong tuturannya dengan berujar bahwa kita harus menyadari bahwa Islam itu, sebagaimana juga dengan agama lain, memiliki banyak wajah (tidak monolitik). Dan Syiah atau kelompok lain (dalam internal Islam) adalah wajah-wajah lain dari satu wajah yang dipahami oleh teman saya ini.

Belum selesai menjelaskan, ia kembali “menyerang”, terus-terusan dan selalu melarang saya untuk mengajukan argumen. Untungnya azan isya berkumandang, menolong saya pada situasi yang tak menyenangkan ini.

Tak jauh berbeda dengannya, tutor bahasa Arab saya sering kali menyesatkan genre keislaman kelompok yang berbeda dengannya. Dalam sebuah kesempatan, ia sedang sedikit membahas mengenai hukuman dera 80 kali cambuk bagi siapa saja yang menuduh seseorang berzina. Lalu ia bertanya kepada kami, “Tahukah kalian siapa yang menuduh Aisyah telah melakukan perbuatan keji tersebut?”

Semua terdiam sampai ia mengatakan bahwa itu adalah perbuatannya orang Syiah. Jujur, saya amat terkejut mendengar ucapannya itu. Dalam kasus lain, ia juga sering “menghina” orang-orang sufi, tradisi-tradisi NU dengan perkataan atau pernyataan yang saya sendiri tak tega untuk menuliskannya di sini meski ia selalu mengakhirinya dengan sebuah guyonan “Tapi ga usah geger. Ga usah geger!”

Dua contoh di atas hanyalah sekadar sampel nyata untuk memberi gambaran bahwa umat manusia itu cenderung “kafir”, tidak mau mencoba untuk membuka diri terhadap sesuatu pandangan asing di luar dirinya. Ia telah puas terhadap pemahaman yang telah diraihnya yang jika ada perbedaan dengan kelompok lain tentu merasa bahwa pendirian merekalah yang benar, sedang yang lain salah.

Tetapi lucunya, setelah dipikir-pikir, ternyata dalam batasan tertentu, saya sendiri pun masih tak luput dari sikap “kafir” ini. Merasa diri paling benar dan tidak berani untuk memahami perspektif orang lain. Bahkan sering kali menilai paham lain dengan kacamata atau kerangka berpikir kelompok sendiri.

Padahal seharusnya manusia itu berfokus pada apa yang benar dan apa yang salah, bukan siapanya sebab probabilitas kebenaran pada hakikatnya bisa ditemukan di mana saja dan pada apa saja (manusia, binatang, tumbuhan, alam, dll).

Dalam menyikapi persoalan ini, secara personal saya menyarankan supaya sebaiknya kita dapat menempatkan diri sebagai seseorang yang rendah hati, selalu merasa kalau ilmu yang dimiliki masih amat sedikit, sehingga perlu membuka peluang yang seluas-luasnya bagi sebuah kebenaran yang sifatnya cakrawala sembari menyadari bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang sedang dalam keadaan berproses terus-menerus menuju kematangan sehingga masih amat mungkin pemahaman keagamaannya untuk dibantah, dibatalkan, dikurangi, atau ditambah, dan direvisi.

Caranya ialah dengan mengoptimalkan penggunaan akal sehat (rasio) dan hati nurani melalui upaya timbang-menimbang suatu ajaran, pemahaman, atau praktik secara jernih tanpa emosi.