Saya seorang Katolik. Dan jika ada yang mengatakan bahwa saya adalah kafir, saya tak akan tersinggung. Saya tak akan marah. Atau mengumpulkan massa hanya untuk membela saya, lalu berdemo untuk menghilangkan penggunaan kata kafir.

Toh juga saya bahagia menjalani hidup dengan ajaran agama impor itu. Lalu di mana masalahnya hingga orang ribut kafir-mengkafirkan, sementara yang kafir masih bahagia lahir dan batin?

Sejauh pengamatan saya di dunia maya, mulai dari tulisan yang panjang sampai pada komentar singkat – yang hanya menyebut nama binatang, satu-satunya kerugian ‘kafir’ semacam saya hanyalah tak masuk surga. Itu pun surga versi mereka yang suka mengkafirkan orang lain. Selain itu? Tak ada. Sumpah, tidak ada!

Saya punya cukup uang untuk makan, punya istri cantik, rutin nongkrong di warung kopi, dan punya teman-teman dari lintas agama dan suku yang sama-sama suka menghabiskan waktu dengan main domino atau uno. Lalu nikmat apa lagi yang tak saya dapatkan?

Sekarang mari kita berbicara tentang keuntungan orang yang suka mengkafirkan orang lain. Apa keuntungannya? Sejauh ini saya hanya bisa menuliskan satu alasan. Tapi karena masalah agama sensitif di negeri kita ini, alasan itu akan saya jabarkan dalam tulisan lain – itu pun kalau tulisan ini lolos dari seleksi redaksi (sambil mengatupkan kedua tangan ke arah langit).

Dalam tulisan ini, saya akan fokus menjelaskan kepada khalayak bahwa meskipun mereka meneriaki saya dan saudara se-tanah air kita yang lain sebagai bagian dari kafir, kami tetap bahagia. Dan yang terpenting, tetap berkarya. Jika memang alasannya hanya karena surga, biarlah itu urusan saya sama Sang Pemiliknya.

Meskipun kelak saya tak masuk, tak ada ruginya bagi yang lain. Apalagi mereka yang berteriak sampai urat leher membengkak. Toh juga kita gak akan saling tolong-menolong di sana karena semua sudah tersedia. Semua di surga sudah indah. Jadi untuk apa saling kenal di sana? Makanya kalau saya tak masuk surga tak perlu bersedih, dan karena itu tak perlu capek-capek mengajak saya.

Biarlah saya masuk surga dengan cara saya sendiri. Setiap orang punya pandangan yang berbeda tentang surga dan punya cara masing-masing pula.

Lagi pula, dengan meragukan kemampuan orang menemukan surganya, bukankah sama saja dengan meragukan Penciptanya? Mungkin dengan secara tidak langsung mengatakan bahwa Sang Pencipta salah cetak, misalnya.

Atau tidak usah bersusah payah mencari cara agar saya beralih iman. Urusan iman biarlah urusan antara seseorang dengan Tuhan-nya. Bila kita berusaha meng-intervensi kehendak-Nya, bukankah sama saja dengan memperkecil kuasa-Nya? Dan kurasa, Dia tak akan berkenan ciptaanNya bertindak demikian.

Sang Maha Kuasa juga tak akan mudah tertipu oleh orang-orang yang suka atau terpaksa mengganti imannya. Karena kalau Dia tertipu, maka bukan Yang Maha Kuasa. Dengan kata lain, memaksakan seseorang mengimani suatu ajaran, hanyalah kesia-siaan belaka.

Makanya kita tak usah menghabiskan energi mengkafir-kafirkan orang lain. Bagi saya memang itu tak masalah, tapi kita tak tahu apa yang dirasakan orang lain.

Negeri kita ini diisi jutaan orang yang berbeda keyakinan, yang bisa saja salah seorang diantaranya tersinggung, untuk kemudian dimanfaatkan orang lain yang punya kepentingan. Bukankah cerita ‘aktor intelektual’ di balik banyak kerusuhan sudah menjadi rahasia umum?

Dengan kata lain, mengkafirkan orang lain, sama saja menyalakan api dalam sekam. Atau kalau peribahasa itu sangat halus dan maknanya susah ditangkap orang zaman now, bisa kita katakan bahwa tindakan mengkafirkan orang lain adalah BOM WAKTU.

Coba bayangkan bila di antara kita ada bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bukankah kita yang dirugikan? Sehari-hari hidup was-was. Takut. Energi habis hanya untuk mengalahkan rasa takut.

Kita susah mengembangkan diri sebab waktu habis untuk mencari cara mengalahkan rasa takut. Akibatnya, kita berputar di situ-situ saja: rakyat miskin yang ditolak rumah sakit, ribuan anak putus sekolah, seorang kakek yang mencuri karena tak sanggup beli beras.

Dan bayangkan bila sebaliknya. Di antara kita hanya ada keinginan untuk hidup damai dan memperbaiki kehidupan. Pelayanan kesehatan menjadi prima, mutu pendidikan tak hanya berorientasi bisnis, dan tak perlu lagi ada lansia yang bersusah payah di ujung usia.

Dalam keadaan seperti itu, kita juga lebih bisa mendalami ajaran agama. Keadaan tenang membuat kita lebih khusyuk. Bukankah Sang Pencipta lebih suka dengan kedamaian? (ini bukan kata saya, tapi coba cek di semua agama, pasti selalu ada kata damai dalam ajarannya).

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Yang terpenting sekarang ini, kita sama-sama bekerja dan berkarya. Apa pun karya itu. Sekecil apa pun manfaatnya bagi masyarakat.

Bila kesadaran ini tumbuh dan berkembang di masyarakat, paling tidak kita bisa melakukan sesuatu untuk anak-anak kecil yang terpaksa berkelahi dengan waktu dan tak sempat menikmatinya, bahkan ia terpaksa pecahkan karang, lemah jarinya terkepal #QuoteOmIwan #BukanTereLiye.

Dan yang tak kalah penting, kita harus memastikan negeri kita ini tak tenggelam dalam perang seperti yang menimpa banyak negara di Timur Tengah. Sebab kita sama-sama tahu bahwa mereka perang saudara karena termakan provokasi. Provokasi bangsa asing yang akan menjadi penguasa saat penduduk setempat mengungsi atau mati.

Di tengah perang, di dalam kebisikan desing peluru dan ledakan bom, penyandang status kafir atau tidak, tak berarti apa-apa. Apalagi di surga atau neraka ada pemutaran ulang tentang hidup kita (semacam menonton film yang berisi perjalanan hidup kita), tak terbayang sesal yang menyesakkan bila melihat hidup yang indah ini tersia-siakan – hanya dilewati dengan marah dan menghakimi orang lain.