Dia, 'Mas bro coba lihat trending topic di Twitter deh, ada nama Kaesang tuh anak Presiden yang gemar ngevlog.'

Aku, 'Ada apa emang?'

Dia, 'Dari yang kubaca sih Kaesang dilaporkan oleh salah satu warga Bekasi terkait penistaan Agama?'

Aku, 'Waduh, kok bisa? wah aku gak update di Twitter e.'

Dia, 'Coba deh baca beritanya disini.'

Aku, 'Astaga, kok bisa-bisanya ya Kaesang dilaporkan, ada kepentingan apa sih tuh orang. Jadi jengkel sendiri mendengarnya.'

Dia, 'Itulah mengapa aku ngajak kamu ngopi, sekalian ngajak diskusi. Kamu free kan?'

Aku, 'Owalah, oke, oke. Aku mah sibuk orangnya, tapi sesibuk-sibuk apapun ngopi tetap harus ditunaikan. Ya gak bro?'

___ke warung kopi___

Dia, 'Mang pesen kopi hitam satu sama kopi susu tetangga satu ya?'

Aku, 'Susu tetangga? maksudmu?'

Dia, 'Ni orang bener-bener ketinggalan berita atau memang gak punya gadget sih, kan kemarin pak Jokowi habis ngopi susu tetangga di kedai Kopi Tuku.'

Aku, 'Oh ya? baru tahu aku. Tapi keren juga sih namanya, susu tetangga. Kenapa gak susu tante saja ya, hehehe. Canda bro.'

Dia, 'Kalau susu tante mah ngopinya bukan di kedai kopi, tapi di..' Belum selesai ngomong langsung aku potong, dari pada jorok.

Aku, 'Bro, bro, bro, kayaknya ada yang kurang lengkap deh. Kopi tanpa udut rasanya seperti ..' Eh belum selesai ngasih perumpamaan dia sudah mesenin rokok sebungkus, hehehe.

Dia, 'Ya, ya aku tahu 'dapor' mu Fi, Fi.'

Aku, 'Jadi gimana ini terkait kasus penodaan agama.'

Dia, 'Menurut kamu pasal penodaan Agama perlu gak sih, coba deh kritisi pasal tersebut.'

Aku, 'Gimana ya, Indonesia ini kan negara plural bro, banyak suku, banyak budaya dan banyak pula agamanya. Sekalipun agama yang diakui di Indonesia semuanya impor dari luar, tapi kan agama lokal juga tetap ada.'

Aku, 'Dari sini saja sudah kelihatan kritik sederhananya, yang disebut sebagai pasal penodaan Agama itu apakah hanya ditujukan atas agama yang diakui saja atau semua agama yang ada di Indonesia, termasuk agama lokal seperti Kejawen, Sunda Wiwitan dan lain-lain?'

Dia, 'Sejauh ini sih aku hanya tahu kalau pasal tersebut hanya berlaku pada agama-agama yang diakui di Indonesia. Entah agama lokal aku gak tahu. Menurutmu gimana?'

Aku, 'Ini juga masalah bro. Kalau pasal tersebut hanya mengacu pada agama yang diakui saja, lantas mau dikemanakan agama-agama lokal Indonesia yang sampai hari ini masih eksis dan masih banyak pengikutnya.'

Aku, 'Ini jelas-jelas diskriminasi kalau seperti ini. Pemerintah Indonesia dalam melindungi dan mengayomi warganya terkesan pilih-pilih. Kalau kamu mau menelisik, saudara kita yang menganut agama lokal juga rada kesulitas dalam mengisi kolom agama di KTP. Pasalnya Indonesia hanya mengakui beberapa agama saja. Ya kan?'

Dia, 'Ya juga sih. Mau tidak mau kalau saudara kita yang ingin administrasinya lancar dan gak ribet, mereka harus pura-pura dalam beragama. Aslinya sih bukan Islam, tapi karena ingin administrasinya lancar dan merasa kesulitan memasukkan agama yang dianut oleh karena tidak diakui Indonesia, alhasil mereka jadi terpaksa menulis kolom agamanya jadi Islam.'

Aku, 'Ini masih soal administrasi loh ya, belum tempat ibadah, ritual dan beberapa yang lain. Alih-alih soal penodaan Agama, terkadang ada saja orang yang sok mengerdilkan saudara kita yang menganut agama lokal oleh karena agama dia sudah diakui di Indonesia.'

Aku, 'Jadi kalau boleh dibilang, ketika ada orang yang mendiskriminasi atau mengucilkan saudara kita atau agama saudara kita yang kebetulan agamanya tidak diakui di Indonesia, apakah hal itu bisa dikatakan sebagai penodaan agama?'

Dia, 'Wah kurang tahu si bro. Tapi kalau hal itu menimpa agama-agama yang diakui di Indonesia pasti sudah diklaim sebagai penodaan Agama.'

Aku, 'Ini nih yang dinamakan diskriminasi. Pilih-pilih dalam mengayomi, pilih-pilih dalam menerapkan hukum.'

Dia, 'Bener bro apa yang kamu bilang. Ketika Indonesia sudah mendeklarasikan diri sebagai negara plural, sudah seharusnya seluruh elemen yang ada di negara ini dilindungi dan diayomi oleh negara, bukan malah pilih-pilih. Masak iya, agama impor dari luar saja bisa diakui dan diresmikan di Indonesia, masak agama lokal sendiri tidak?'

Aku, 'Waduh, tumben temenku ini cerdas, sepakat bro, sepakat. Lebih lanjut lagi bro, setiap agama ini kan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Lantas bagaimana bisa pasal penodaan agama diterapkan bagi semua agama. Aku sih sepakat pasal itu dihilangkan bro.'

Dia, 'Loh, loh, loh. Kamu ini gimana toh, kita kan negara beragama, kenapa pasal itu harus dihilangkan?'

Aku, 'Ojo darah tinggi dulu, coba deh kita pahami secara terbuka. Dalam pasal penodaan agama hanya dijelaskan secara umum saja, alias masih memiliki lipatan-lipatan makna. Kalau boleh dianalogikan, pasal penodaan agama yang ada di Indonesia sifatnya sama seperti ayat mutasyabihat, alias terdapat banyak penafsiran.'

Aku, 'Namanya juga manusia, sekalipun dia beragama, tetap saja memiliki unsur subjektivitas. Misalnya saja, suatu pernyataan yang secara objektif bukan penodaan agama, tapi karena ada seseorang yang membenci dia, bisa saja pernyataan itu dianggap penodaan agama.'

Aku, 'Ini baru orang per orang loh ya, bukan antar agama. Kalau antar agama bisa lebih luas persoalannya. Bukan sesuatu yang mustahil, suatu pernyataan dinilai berbeda bagi beberapa agama. Ada yang menganggap itu penodaan agama, dan ada pula yang menganggapnya tidak. Ya kan?'

Dia, 'Oh ya, ya, betul juga ya. Alih-alih seperti apa yang kamu katakan bro. Kasus Ahok kemarin saja, sama-sama umat Islam memiliki pandangan yang berbeda terkait penistaan agama, apakah Ahok benar-benar menistakan Agama atau tidak.'

Dia, 'Ya ambil contoh sajalah pandangan Gus Mus dengan pandangan Habib Riziek. Sama-sama umat Islam tapi memiliki pandangan yang berbeda terkait kasus Ahok. Terlepas beliau berdua mendukung siapa ya..'

Aku, 'Ya paham. Aku hanya berpikir, lama kelamaan pasal penodaan agama ini justru akan menimbulkan perpecahbelahan antar warga Indonesia. Bukan hanya antar agama, dalam Islam sendiri saja kemarin kita terkotak-kotakkan.'

Aku, 'Tapi kalau semisal pasal penodaan agama ini dihilangkan, apakah bahaya yang ditimbulkan tidak kalah besarnya? Dengan adanya pasal penodaan agama saja masih banyak orang yang gemar menghujat agama lain secara terang-terangan.'

Dia, 'Aku sepakat bro kalau pasal penodaan agama ini sama sifatnya dengan ayat Mutasyabihat. Tiap orang bisa berbeda pandangan, dan pastinya setiap agama yang memiliki penilaian sendiri-sendiri terkait pasal tersebut.'

Aku, 'Kan aku sudah bilang, itulah problematika pasal penodaan agama. Kalau saja pasal penodaan agama dibuat mirip layaknya ayat Muhkamat, mungkin kita akan lebih tentram. Misalnya saja dalam agama Islam dilarang makan babi, titik. Kalau seperti ini kan jelas.'

Dia, 'Ya sih bro, aku sangat sepakat denganmu. Bagiku sekarang, orang atau kelompok yang menggunakan pasal penodaan agama untuk menjebloskan seseorang ke penjara, pasti ada kepentingan dibalik itu semua. Kecuali kalau orang yang dilaporkan benar-benar melakukan penodaan agama secara jelas dan terang layaknya Idhar Halqi. Kalau kayak Ikhfa' Hakiki kan susah.'

Aku, 'Ya intinya sih pasal penodaan agama yang ada di Indonesia harus terus dikaji, dikritisi dan tetap terbuka untuk didiskusikan. Apakah pasal penodaan agama tersebut juga melindungi agama-agama lokal? Siapa yang memiliki wewenang memberikan tafsir mutlak tentang maksud penodaan agama dalam pasal tersebut? lalu betulkan orang yang menggunakan pasal penodaan agama tidak memiliki kepentingan dibalik itu?'

Dia, 'Aku setuju dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu bro. Yah semoga Kaesang tidak kenapa-kenapa dan terbukti tidak bersalah bro, karena bagaimana pun juga dia salah satu Youtuber yang aku Subscribe, hehehe.'

Aku, 'Kalau agama saja ada pasal penodaan agama, lantas kenapa tidak ada pasal penodaan budaya, tradisi, atau sekalian lingkungan? padahal jelas-jelas banyak sekali diantara kita menodakan atau menistakan lingkungan hanya untuk kepentingan pribadi.'

Aku, 'Ya udah bro, pasti panjang kalau didiskusikan nanti. Makasih kopi dan rokoknya ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Assalamu alaikum.'

Dia, 'Waalaikum salam.'