35535_18967.jpg
Koleksi Pribadi
Cerpen · 7 menit baca

Kadodo

Seperti biasanya, pada hari ini, Aminah kembali menjajakan jualannya di pinggir jalan dekat rumahnya. Hari ini dia menjual kadodo. Kadodo adalah penganan khas Bima yang terbuat dari beras ketan, kelapa, dan gula merah serta beberapa bumbu sebagai penyedapnya. Kadodo dalam bahasa Indonesia berarti dodol, kadodo sebagai makanan tradisional Bima memiliki kekhasan dari dodol daerah lain, baik dari segi rasa, cara penyajian, maupun cara pembuatannya.

Kadodo, kadodooo....”

“Mari bapak ibu, beli kadodo

Demikian beberapa kali Aminah meneriakan dagangannya kepada orang-orang yang lalu lalang di jalan untuk menarik perhatian pembelinya. Menanggapi teriakan Amina tersebut, ada yang tersenyum dan ada pula yang hanya sekedar menoleh ke arah Aminah. Namun sejauh ini belum ada yang datang menghampiri untuk membeli kadodo jualan Aminah.

Walau belum ada pembeli yang datang, Aminah tetap sabar menanti pembeli yang datang. Sesekali dia merapikan letak tatakan kadodo jualannya, walau sebetulnya sudah dirapikan. Sesekali pula dia mengipas-ngipas jualannya untuk membersihkan debu jalanan yang menghampiri jualannya.

Seperti janjinya kemarin, hari ini Adi datang lebih cepat dari biasanya. Sambil berlari Adi datang menghampiri Aminah yang sedang berjualan.

“Sudah lama, Aminah?” sapa Adi ketika sampai di tempat Aminah.

“Belum lama, Adi” sambut Aminah sambil tersenyum.

“Sudah ada yang laku?” tanya Adi.

“Belum” jawab Aminah singkat.

Kadodo yang dijual Aminah pada hari ini disajikan dalam bentuk persegi dan persegi panjang. Yang berbentuk persegi berukuran sekitar 6 cm x 6 cm, sedangkan yang berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 5 cm x 10 cm. Kadodo jenis persegi dijual dengan harga seribu, sedangkan kadodo jenis persegi panjang dijual dengan harga dua ribu.

“Bagus sekali bentuk kadodo jualanmu, Aminah!” ujar Adi memuji bentuk kadodo yang dijual Aminah.

“Iya, ibuku membuat dua bentuk kadodo agar menarik perhatian pembeli” terang Aminah.

“Iya, seperti bentuk bangun datar yang kita pelajari di sekolah, ada persegi dan ada persegi panjang” ucap Adi.

“Betul, Adi” jawab Aminah.

Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang menghampiri mereka.

“Kalau yang ini berapa?” tanya ibu itu sambil menunjuk kadodo persegi.

“Seribu, bu” jawab Aminah.

“Yang ini?” tanya ibu itu lagi sambil menunjuk kadodo persegi panjang.

“Dua ribu, bu” jawab Aminah lagi.

“Aku beli yang ini sepuluh ribu” kata pembeli itu sambil menunjuk kadodo persegi panjang.

“Baik, bu” jawab Aminah yang langsung membungkuskan lima buah kadodo persegi panjang.

Setelah ibu itu menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribu, langsung Aminah menyodorkan bungkusan kadodo kepada ibu itu. Sesaat setelah itu, ibu tersebut langsung pergi meninggalkan mereka.

“Kamu nggak mau makan kadodo jualanku? Tanya Aminah pada Adi yang sedari tadi memperhatikan Aminah melayani pembelinya.

“Masih kenyang, tadi sebelum ke sini, aku makan dulu” jawab Adi.

“Malu ya maka kadodo di pinggir jalan?” kilah Aminah.

“Bukan begitu, benar, aku masih kenyang, nanti sore-sore saja kalau ada yang tidak laku” jawab Adi.

“Aku senang sekali, tiga hari ini selalu ada kamu yang menemaniku berjualan” papar Aminah.

“Aku juga senang menemanimu Aminah, aku kagum akan keuletan dan kerja kerasmu” ujar Adi.

“Apalagi kalau ada masalah seperti kemarin-kemarin, aku semakin tertantang untuk mencoba memecahkan masalah-masalah itu” Adi melanjutkan perkataanya.

“Makasih ya, karena terus menemaniku, sekaligus membantuku untuk belajar memecahkan masalah” ujar Aminah.

Kemudian ada seorang bapak yang melihat-lihat dagangan Aminah.

“Beli kadodo pak!” sapa Aminah kepada bapak itu.

“Berapa harganya, nak? Tanya bapak itu.

“Yang ini seribu, dan yang ini dua ribu, pak” jawab Aminah sambil silih berganti menunjuk kadodo jualannya.

“Aku beli yang ini saja, lima” kata bapak itu sambil menunjuk kadodo persegi dan menyerahkan uang lima ribu pada Aminah.

“Baik, pak” tangkas Aminah sambil membungkus lima buah kadodo persegi yang dibeli bapak itu.

“Terima kasih, pak” kata Aminah sambil menyerahkan bungkusan kadodo yang dibelinya, dan bapak itupun langsung pergi meninggalkan mereka.

Setelah bapak tersebut pergi, mereka kembali terlibat obrolan. Kadang-kadang juga terlihat mereka tertawa sambil bercanda. Aminah pun banyak bercerita kepada Adi tentang kegiatan belajarnya yang semakin sungguh-sungguh serta tidak lupa pula untuk selalu berdo’a agar dimudahkan dalam belajarnya. Aminah pun bercerita bahwa ibunya sangat senang melihatnya yang semakin giat belajar dan beribadah. Ketika ditanya oleh ibunya tentang perubahan pada dirinya, Aminah menyatakan bahwa itu adalah saran dari sahabatnya Adi yang selalu menemaninya berjualan dalam dua hari ini.

“Ha...ha....” Adi terbahak-bahak mendengar cerita Aminah.

“Betul, Adi, aku bilang seperti itu pada ibuku” ucap Aminah melihat Adi yang terbahak-bahak.

“Terus, apa bilang ibumu?” tanya Adi.

“Baguslah kalau begitu, biar kamu bisa pintar seperti Adi” demikian kata ibuku terang Aminah.

“Apa ibu tidak marah karena kamu sering kasih jajan gratis padaku”  tanya Adi kemudian.

“Ya tidaklah, Adi. Kamu ini sensitif amat sih!” ucap Aminah.

“Malah ibuku memintaku untuk memberimu jajan untuk kamu bawa pulang ke rumahmu” Aminah melanjutkan perkataanya.

“Ini ada kadodo yang dibungkuskan ibuku untuk kamu” kata Aminah lagi sambil menunjukkan bungkusan kadodo yang diletakkannya tersembunyi dalam wadah jualannya.

“Wah.... baik banget ibumu” kata Adi melihat bungkusan itu.

“Tapi ngambilnya nanti pas kamu pulang ya” kata Aminah kemudian.

Tiba-tiba datang seorang pembeli yang membawa wadah berbentuk persegi. Wadah tersebut berukuran 50 cm x 50 cm.

“Aku beli kadodo sebanyak-banyaknya yang bisa masuk dalam wadahku ini, tetapi kadodonya jangan ditumpuk” demikian permintaan pembeli tersebut.

Aminah kebingungan, dia melirik pada Adi.

“Di, gimana nih?” tanya Aminah.

Adi mengangkat bahunya tanda belum tahu harus bilang apa.

“Jadi berapa belinya pak?” tanya Aminah kepada pembeli itu.

“Sebanyak-banyaknya yang bisa masuk dalam wadahku ini, tetapi kadodonya jangan ditumpuk” pembeli tersebut mengulangi lagi perkataanya.

“Gimana nih, Adi?” kembali Aminah bertanya pada Adi.

“Kita coba susun aja kadodonya” jawab Adi.

Kemudian mereka mencoba menyusun sejumlah kadodo persegi dan persegi panjang tersebut. Beberapa kali mereka mencoba, hingga akhirnya menemukan susunan yang paling sedikit tempat kosongnya.

“Usahakan tidak ada tempat yang kosong ya, soalnya ini untuk hadiah” kata pembeli itu melihat susunan yang dibuat mereka.

Aminah dan Adi jadi kebingungan.

“Gimana nih, Adi!” kata Aminah pada Adi.

“Gimana ya?” kata Adi sambil berpikir.

“Kita tolak aja, Adi” bisik Aminah pada Adi.

“Kita katakan saja bahwa kita tidak bisa memenuhinya” lanjut Aminah berbisik pada Adi.

“Jangan, sayang kalau di tolak, lagian nanti pembelinya kecewa” ucap Adi emnanggapi permintaan Aminah.

“Kita pikirkan dulu” lanjut Adi.

“Iya, Adi. Bantu aku memikirkannya, aku juga tidak mau pembeliku kecewa” jawab Aminah.

“Begini, kita coba mengisi yang pinggirnya dulu” Adi mengutarakan idenya.

Kemudian mereka menyusun kadodo pada salah satu pinggir wadah, ternyata bisa ditempati oleh lima buah kadodo persegi dan empat buah kadodo persegi panjang.

“Terus bagaimana, Adi?” tanya Aminah.

“Kita ikuti pinggir yang ditempati oleh kadodo persegi panjang ini” kata Adi sambil menunjuk kadodo persegi panjang yang terletak memanjang sepanjang pinggir yang lain dari wadah tersebut.

Ternyata pada pinggir tersebut dapat diisi dengan empat buah kadodo persegi panjang yang diletakkan memanjang sepanjang pinggir tersebut. Selanjutnya setelah berpikir sejenak, Adi memasang 32 buah kadodo persegi panjang pada dua pinggir wadah yang diletakkan searah.

“Bisa Adi, sisanya ini bisa diisi dengan kadodo persegi” ujar Aminah melihat susunan yang dibuat Adi.

“Betul Aminah, ayo kita susun” ajak Adi.

Kemudian mereka menyusun tempat yang masing kosong dengan 25 buah kadodo persegi, sehingga tepat seluruh bagian wadah tertutupi seperti permintaan pembeli itu.

“Sudah?” tanya pembeli itu.

“Sudah, pak!” jawab Aminah tersenyum bangga.

“Mana?” tanya pembeli itu lagi.

“Ini, pak” jawab Aminah sambil menyodorkan wadah yang berisi kadodo yang telah diisi Adi.

“Bagus, berapa harganya? Tanya pembeli itu sambil memuji mereka.

“Yang panjang ada 32 buah, harganya 64 ribu, yang pendek ada 25 buah harganya 25 ribu, totalnya 89 ribu” jawab Aminah menerangkan banyak kadodo yang dibeli pembeli tersebut.

“Ini saya kasih 90 ribu, tidak usah dikembalikan, karena kamu pintar” kata pembeli itu sambil menyerahkan satu lembar uang 50 ribu dan dua lembar uang 20 ribu.

Lega sekali rasa hati Aminah karena dapat melayani keinginan pembelinya itu dengan sempurna. Dalam hati, berkali-kali dia memuji kepandaian sahabatnya Adi yang selalu mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

“Ini kembalian pembeli tadi, seribu” ujar Aminah pada Adi sambil tersenyum.

“Kok dikasih ke aku?” kata Adi menolak uang seribu yang dikasih Aminah.

“Kan pembeli tadi bilang sebagai hadiah karena kempintaranmu” jawab Aminah.

“Itu kan pemberian pembeli itu untuk kamu” bantah Adi.

“Iya, tapi yang pintar membuat susunannya adalah kamu” papar Aminah.

“Ini ambil!” kata Aminah sambil memaksa Adi dengan langsung memasukkannya ke kantong baju Adi.

“Terima kasih, ya” Adi tersipu karena senang dapat tambahan uang jajan.

“Nih kadodomu” kata Aminah mengambilkan kadodo yang dibungkus ibunya untuk Adi dan menyodorkanya pada Adi.

“Wah, aku beruntung sekali hari ini, dapat uang, dapat kadodo pula, terima kasih ya” ujar Adi sambil menerima bungkusan kadodo yang disodorkan Aminah.

Merteka berdua terlihat sangat senang. Tampak jelas wajah mereka penuh kebanggaan karena telah mampu memecahkan masalah pembeli tadi dengan sempurna.

“Hari sudah sore nih, ayo kita pulang” kata Aminah.

“Ayo” jawab Adi singkat sambil membantu Aminah membereskan wadah jaulannya.

Kemudian mereka pun berangkat pulang ke rumahnya masing. Mereka pulang membawa rasa bahagia karena telah berhasil menyelesaikan masalahnya hari ini.