3 minggu lalu · 113 view · 4 min baca menit baca · Ekonomi 39294_16276.jpg
Twitter @jokowi

Kado Ulang Tahun untuk Jokowi

Ulang tahun dimaknai secara filosofis bahwa bertambah satu usia seseorang, maka harapan orang tersebut akan lebih bijaksana dalam memandang persoalan pada setiap sendi kehidupan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Juni, adalah ulang tahun Jokowi.

Sebagai seorang state-man, dapat dibayangkan betapa kompleksnya permasalahan negara yang harus dipecahkannya dengan berbagai keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat dihasilkan dari komprehensifnya informasi yang diolah menjadi berbagai pertimbangan sebagai aneka pilihan yang akan diambil dengan bijaksana.

Seseorang dapat dikatakan bijak bilamana mengedepankan objektivitas pada kedua sisi sehingga senantiasa dapat berlaku adil dan benar. Seorang state-man haruslah bijak karena akan merepresentasikan wajah suatu negara dan bertindak untuk membawa pada kemajuan bangsa. 

Salah satu modal penting seorang state-man adalah informasi yang holistik sebagai senjata dalam membuat keputusan terbaik di waktu yang tepat.

Cara Jokowi untuk terjun langsung ke masyarakat dan melihat realitas yang terjadi adalah salah satu cara yang efektif, di samping memperoleh informasi dari bawahannya sehingga memudahkan untuk melakukan cross check mengenai kebenaran akan substansi permasalahan yang sedang terjadi.

Selain itu, diperlukan enrichment mengenai point of view yang berbeda. Hal itu tentunya bukan dengan tujuan membenturkan perbedaan pandangan satu dengan yang lain, namun melihat titik temu serta masukan-masukan yang dapat dijadikan landasan untuk membuat keputusan.

Sebagai contohnya, keputusan Jokowi untuk memberdayakan kemampuan dalam negeri dengan peningkatan produk kandungan lokal (local content) agar mampu melepaskan diri dari ketergantungan impor.

Indonesia belajar 'Develop Ourselves' dengan mengurangi off the shelf atau pembelian-pembelian dari luar negeri. Tentunya dengan mengembangkan dan membuat sendiri itu sangat krusial, namun harus dicoba. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?


Develop Ourselves dapat dilakukan secara mandiri maupun bersama-sama. Misalnya: industri lokal yang satu bekerja sama dengan industri lokal yang lain dalam rangka mewujudkan produk nasional sehingga di sini diperlukanlah sinergitas antarindustri sehingga tidak saling bersaing dan bahkan bahu-membahu untuk menciptakan kesuksesan melakukan inovasi produk dalam negeri.

Hal ini tentu tak mudah karena ketika bersinergi dan berkoordinasi, masing-masing pihak akan membuka dapurnya sendiri. Pada sesama industri lokal saja masih terasa enggan untuk saling terbuka sehingga sinergitas sering mengalami kemandekan dan berakhir menjadi wacana semata.

Oleh karena itu, dengungan Develop Ourselves harus dijadikan leverage bahkan dapat menjadi strategi agar pintu kerja sama tidak hanya sebatas Memorandum of Understanding (MOU) atau aspek legalitas saja, namun berwujud praktik nyata di lapangan.

Saya sebagai orang awam memiliki rasa optimisme yang tinggi mengenai sinergitas antarindustri lokal. Karena pada dasarnya kita ini memiliki kultur kerja yang hampir sama. 

Mungkin saja kita perlu adaptasi, misalnya: karena kesibukan masing-masing perusahaan atau prosedur dan mekanismenya yang agak berbeda, tetapi hal semacam itu bukanlah restriksi yang berat dan menghambat.

Berbeda halnya apabila kita melakukan development dengan pihak luar yang mempunyai kultur berbeda dengan kita, jelas-jelas terasa lebih sulit karena bukan hanya masalah substansi yang dikerjasamakan akan menjadi fokus masing-masing pihak, namun juga perihal adaptasi budaya, kebiasaan kerja, kepercayaan, kompensasi, bahkan agama, dan lain-lain. 

Yang merupakan sesuatu yang sangat jauh dan berada di luar konteks tersebut, namun ternyata dapat mewarnai setiap lika-liku kerja sama, malahan sering kali menghambat.

Apabila terjadi imbesilitas pada kerja sama, lantas menjadi stagnan, ujung-ujungnya akan bermuara pada Develop Ourselves, misalnya: dikarenakan oleh mitra kita tidak mau membagi pengetahuannya secara proporsional, kita akan mengalami kuldesak sehingga satu-satunya jalan adalah Develop Ourselves sebagai kunci bahwa kita tidak menyerah dan terus belajar agar mampu membuat sendiri, meski mitra tak banyak membantu.

Stagnansi itu memang perlu disikapi dengan strategi lain, sebagai contohnya: kita bisa mengusahakan technical assistant dari pihak lain dan tentunya akan sangat menguntungkan apabila hal itu dilakukan oleh sesama industri lokal karena bukan hanya dilihat nilai ekonomisnya saja, melainkan perihal yang lebih luas lagi, yaitu menciptakan konstruksi lingkungan dan iklim bisnis yang kondusif dengan persaingan yang sehat.

Alangkah harmonis apabila antarindustri lokal dapat bersinergi dan menciptakan inovasi produk dalam negeri. Tentu itu akan menambah kebanggaan kita sendiri di dalam mempergunakannya.

Apabila kita semua belum atau tidak bisa berinovasi, maka kita dapat melakukan kerja sama dengan pihak asing, namun jangan sampai kita terbelit dalam alur permainannya.


Perlu diingat bahwa tidak semua pihak luar itu jelek dan jahat, banyak pihak yang baik dan mau membantu kita. Hanya saja, kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam ketergantungan atau bahkan terbelit seakan-akan tidak bisa lepas dari pihak tersebut. Padahal kerja samanya dirasa sudah sangat merugikan. 

Oleh sebab itu, kita harus senantiasa bijaksana dalam menilai objektivitas suatu permasalahan. Jangan sampai kita hanya terpaku pada nilai ekonomis semata, namun ada hal yang seakan tak tampak yang dapat memengaruhi kerja sama, namun diabaikan begitu saja, padahal cukup essensial.

Menurut opini saya, Industrial Local Collaboration terasa lebih elegan untuk diberdayakan lebih luas lagi oleh pemerintah karena kita dapat belajar kepada industri lokal lain yang ilmunya di atas kita, ataupun kita bisa sama-sama belajar karena dalam level yang sejajar untuk terus berinovasi dalam menciptakan produk dalam negeri yang unggul dan tak kalah di dalam persaingan.

Sekali lagi, kalau tidak sekarang, kapan lagi kita akan memulainya? Mungkin kita jangan terlalu utopis bilamana mengharapkan produk yang dihasilkan secanggih negara maju, kita akan berawal dari step by step

Apabila terasa kurang sempurna hasil produk ciptaan dalam negeri, kita akan secara kontinu dan berkala melakukan perbaikan dari waktu ke waktu sehingga kualitasnya nantinya meningkat dan akhirnya tak kalah dari produk-produk luar.

Di sinilah perlunya sokongan penuh dari pemerintah untuk mewujudkan secara bersama-sama kemandirian industri lokal tersebut dengan makin menggemakan Develop Ourselves ke seluruh penjuru Indonesia.

Semoga Develop Ourselves bisa menjadi kado ulang tahun bagi Presiden RI ke-7. Selamat Ulang Tahun, Jokowi.

Artikel Terkait