Semesta punya cara sendiri untuk mendewasakan seseorang. Ya mungkin melalui hal-hal yang tak disukai dan tak menyenangkan.

Setelah dipikir-pikir, kok rasanya mustahil juga seseorang mendapatkan kesenangan full dalam hidupnya. Dan, ternyata aku pernah semustahil itu.

Di sini (ketidaksenangan), ada kado kebaikan dari Tuhan. Aku sebut kado, sebab ketidaksenangan yang kurasakan hanya bungkusnya saja. Ada kebaikan yang entah bagaimana lagi harus kusyukuri keadaannya.

Apa kebaikan yang diberikan Tuhan itu?

Sebuah panggilan. Jika panggilan dari kekasih saja cepat-cepat diangkat, apalagi panggilan Tuhan? Sempat kehilangan kata-kata. Berkali-kali Tuhan menyelamatkanku dari segala sesuatu yang tidak baik.

Sebuah panggilan agar aku dekat dengan-Nya. Rupanya Dia cemburu aku lebih banyak mengingat makhluk-Nya. Yah, padahal belum tentu juga si makhluk itu adalah jodohku.

Sebab, dulu aku pernah sangat angkuh dan yakin seseorang itu akan menjadi jodohku. Lalu, yang terjadi kita tak lebih dari sekadar apa-apa. Pengalaman ini menjadi penampar panas di pipiku.

Aku bagai terbangun dari mimpi panjang. Perihal siapa yang akan menjadi teman hidupku, tidak bisa ditebak-tebak begitu saja. Itu rahasia Dia. Untunglah, Dia Maha Penyayang. Hingga kesombonganku tak terlampau jauh dan menyesatkan.

Perjalanan panjang membawaku kepada-Nya. Aku sendiri masih kebingungan, "Kenapa harus melalui hal tak menyenangkan dulu baru berusaha menemui-Nya?"

Astaga. Jawabannya adalah kurangnya syukur dalam hidup ini. Aku lebih banyak menghitung duka daripada sukanya. Saat-saat (yang kusebut) berduka seperti ini, baru terasa nikmatnya hari kemarin. Sungguh, menyesal pun tiada artinya.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari hidup ini sebelum kita kembali lagi kepada Pemilik hidup. Berawal dari mencari bekal untuk "kembali", kebaikan akan muncul pada segala aspek. Baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Kemarin aku sempat down, gegara melihat foto pernikahan di media sosial. Wajarlah, sifat manusiawi yang bertanya-tanya "aku kapan?" Dan ini sebagian dari ketidaksukaan itu.

Setegar-tegarnya pendirian bahwa aku-pasti-menikah-pada-waktunya, pasti juga pernah tumbang. Justru dari situ belajar lagi dan belajar lagi. Bahwa jodoh itu bukan kuasa kita. Mau salto-salto bagaimanapun, ya kalau belum waktunya kita bisa apa (aku merasa hampir ingin salto, sih, hehe).

Lumayan greget. Dalam hati sempat membatin, "Nih, jodohku mukanya kaya apa, sih. Pengen nyubit kalo ketemu." Ya begitulah kira-kira, saking gemasnya.

Sampai kulepaskan perlahan. "Tuhan, aku percaya Kau telah siapkan yang terbaik untukku." Meskipun pasrah, proposal jodoh telah kurincikan kepada-Nya.

Ya kan tidak mungkin kita pesan makanan dengan modal "terserah deh, Mbak". Pasti kita menyebutkan, dong, mau makan ini-itu dengan detail.

"Pesen bakso satu, ya Mbak. Nggak usah pake daun sop dan bawang goreng. Kuahnya agak dibanyakin dikit."

Nah, begitu kan jelas. Kira-kira jodoh harus diminta dengan detail juga. Soalnya, nanti kalau dikasih Tuhan tak sesuai dengan kriteria kita, nanti menyalahkan Tuhan pula.

"Nah, kan kemarin bilangnya terserah." Mungkin begitu kali, ya, jawaban Tuhan. Hehe.

Memang, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Tapi, kita juga harus berusaha. Minimal menyebutkan karakter jodoh impian, deh.

Ya kali mentang-mentang Tuhan pasti tahu yang terbaik terus kita masa bodoh begitu.

Selain panggilan, aku diingatkan "kematian". Jujur, kemarin-kemarin aku terlalu angkuh. "Ah, aku masih muda."

Ternyata ajal tak menyoal usia. Bisa saja aku menemui ajalku sedetik kemudian. Bisa saja. Tapi, semoga Tuhan memberi kesempatan untuk memperbaiki bekalku. Dan, semoga diberi penerang di jalan-Nya.

Membicarakan kematian lebih menyeramkan daripada menonton film horor. Yah, padahal fitrah yang bernyawa pasti mati. Tidak harus tua dulu, tidak harus sakit dulu. Dengan berdalih masih muda, terkadang terlena. Apalagi masih sehat, justru tidak siap dengan "mati".

Yang paling pasti dari segala di dunia ini adalah kematian. Sekarang aku sadar, bahwa membicarakan kematian bukan untuk menakuti semata. Tapi, mengingatkan agar bekal kita cukup untuk menghadap-Nya.

Satu lagi estafet perenungan subjektifku, jika tujuan akhir kita adalah menemui-Nya, lantas untuk apa seolah manusia ingin nguntal jagad (menelan dunia)? Yang menyuruh hidup adalah Dia, pasti segala macamnya sudah ditanggung.

Tulisan ini adalah wujud syukurku atas kasih sayang-Nya memanggilku mendekat. Memang melalui ujian hidup bertubi-tubi, tapi insyaAllah banyak kebaikan untukku.

Dan, tiada maksud untuk menggurui siapa pun. Ini tidak lebih curahan rasa syukur saja. Tidak ada kepentingan pribadi dalam tulisan ini. Hanya saja, semoga kita semua sama-sama merenungi "kehidupan" setelah di dunia. Sebagaimana yang terlihat, yang kemarin berbagi tawa ternyata hari ini sudah tiada. Semoga bermanfaat.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal amat baik bagimu. Dan, boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)