92220_62784.jpg
Politik · 5 menit baca

Kader HMI Terserang Sakit Bisu

Orang kerdil angkat kejayaan masa lalu untuk dipamerkan masa kini. Manusia seperti itu bersembunyi di balik bayang-bayang, takut jumpai dirinya yang kalah dan minder bersaing. Tidak ada lagi dipunyai selain cerita-cerita lampau. Itu pun bukan dia yang hebat, tapi senior dan pendahulunya.

Perpusakaan nasional menjulang setinggi 27 lantai, menghabiskan setengah triliun rupiah. Berdiri megah, puluhan ribu koleksi buku, tapi tak satu pun kader HMI melirik. Hidupnya dibelenggu rutinitas semu, yang menjerat pelan-pelan sampai tersadar kalau dirinya menua. Sesal pun datang karena sia-siakan waktu.

Mereka ditipu, seolah dengan menenggelamkan diri bersama tugas-tugas kuliah, bakal dijamin masuk kerja dan sukses masa mendatang. Tiap minggu berseliweran proposal LKII, LKK, SC, semua dibiarkan menguap tanpa dicoba, lalu diikuti. Kalau jenjang pelatihan diabaikan, bagaimana bisa seorang menyebut diri kader HMI?

Orang yang sudah sarjana, tahu betul ilmu di perkuliahan hanya berguna kurang dari 20% di dunia kerja. Idealisme akademik omong kosong menghadapi realita kehidupan. Pengajar kebanyakan tumpul inovasi, bisanya hanya menjadi corong buku, tapi mandul cipta formula implementatif.

Sesetia apa pun kalian memuja tugas dari dosen, tidak membantumu dapat kerja usai lulus. Aku tidak mengerti, mengapa mahasiswa anggap dunia akademik dunianya? Padahal dunia sebenarnya, ya, dunia nyata. Kuliah itu masa pelatihan, kehidupan nyata, ya, ada di luar kampus.

Mahasiswa baru menolak berorganisasi, katanya ingin melihat dulu hasil nilai. Ketika masa pertengahan kuliah, alasannya nanti-nanti karena banyak tugas. 

Pada tahun akhir, tidak mau juga karena sedang skripsi. Lalu kapan bebas dari belenggu semu akademik? Kalau begitu pola hidup Anda, lalu yang membela petani digusur pabrik semen siapa?

Pejabat tentu saja sibuk memperkaya diri. Dosen sibuk mengajar. Orangtuamu sibuk bekerja. Lalu, ribuan anak terlantar, ratusan pengemis, jutaan anak yatim, pedagang digusur itu yang membela siapa? Tidak peduli Anda salat berapa kali sehari, selama orang teraniaya kau acuhkan, Anda tidak pantas menyebut diri bertuhan.

Banyak yang klaim tobat. Uang yang biasanya habis untuk rokok, nonton, mabok, dialihkan untuk membeli jilbab. Berharap dengan pakaian khas Arab, ia dianggap agamis. Jangan merasa islami kalau Anda tidak peka sosial. Pakaian seindah apa pun, kalau tuli derita oranglain, itu kepalsuan keimanan.

Tuhan tidak butuh pakaian indah atau salatmu. Dia hanya ingin Anda peka, mau berkorban, prihatin, ikut serta mengurus derita yang dialami kaum dhuafa. Seribu kali salat pun tidak mengurangi uang rakyat yang digarong pejabat. Kaum terlantar wajib diurus negara. Kalau pemerintah ingkar, kenapa Anda diam dan melulu duduk di masjid?

Kampus katanya dunia para akademikus. Seorang cendekia mampu memberi solusi sesuai persoalan yang terjadi. Orang lapar tidak butuh doa, tapi makanan. Menghentikan korupsi pejabat bukan dengan baca kitab, tapi dilaporkan. Kalau hukum tidak berjalan, saatnya demonstran melawan dengan gugatan.

Omong kosong kalau negara tidak punya uang. Anda berderma seribu tahun sekalipun tidak mungkin mampu hilangkan kemiskinan. Itulah dasar pemikiran kenapa organisasi negara dibentuk. Jika Anda peduli sesama, serius ingin menghapus kemelaratan, bukan menjauhi politik caranya. Berorganisasilah, rebut, kuasai gelanggang perpolitikan.

Jangan ada lagi orang memuja masa lalu. Sejarah biarlah jadi kenangan. Mereka yang jual nama besar dan tokoh histori hanya pengecut yang kalah bersaing. Jangan andalkan orang mati, karena masalah tidak pernah takut pada arwah. Jantanlah, hadapi musuhmu sendiri.

Tidak ada orang besar habiskan waktunya dengan bermain game. Tidak ada kekasih Tuhan yang sia-siakan hidupnya dalam hubungan asmara kekanak-kanakan. Tidak ada revolusioner sejati tenggelam dalam kekalutan karena diputus kekasihnya. Omong kosong bangsa ini maju kalau pemudanya jadi budak bedak dan sampah rumpi.

Hei, kader HMI se-Indonesia, jangan pernah andalkan PB HMI. Tidak ada yang dibisai Pengurus Besar selain buka tutup LK II. Mengandalkan PB HMI untuk memimpin idealisme pergerakan, sama saja menunggu kambing bertelur. Tiada guna dan sia-sia belaka.

Kenapa kita harus kritisi PB HMI? Karena, bagaimana mungkin kader HMI punya duit ratusan juta untuk biayai tiket pesawat para tuan utusan kongres, kecuali ada yang danai? Pertanyaannya, siapa saja yang menyumbang? Berapa nominal pastinya? Berapa ratus juta? Berapa miliar?

Hari gini, apa ya mungkin orang keluarkan ratusan juta untuk berikan cuma-cuma? Kalau tahu tidak ada makan siang gratis, lalu duit itu ditukar dengan apa? Membeli sikap kritis? Menyewa marwah pergerakan? Menyandera mulut-mulut aktivis? Membungkam mereka yang takut lapar? Atau memanjakan mereka yang mengaku pimpinan organisasi?

Saya berani tantang ketua PB HMI terpilih. Beranikah saudara buka-bukaan, terima duit berapa, dari siapa saja, sisa berapa, dan untuk motif apa dana itu cair? Kalau seorang pemimpin berani transparan dan jujur tanpa didesak keras terlebih dulu, berarti dia benar-benar khalifah fil ard’.

Jangan sampai karena abang-abang pejabat biayai, HMI berhenti mengkritisi. Selagi mulut masih bisa keluarkan suara, jangan pernah bisu. Tuhan telah anugerahkan moncong untuk teriak, jangan dipensiunkan karena mengunyah uang tutup mulut.

Ratusan kali kakanda PB HMI pidato tentang degradasi kader, tapi tidak satu pun yang menengok kondisi BPL. Omong kosong bicara keprihatinan regenerasi, manakala uang dengan mudah terhambur ratusan juta demi menang kongres, tapi sepeser pun tidak cair demi perkaderan. Mulai saat ini, tidak perlu ada basa-basi. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak ada gunanya PB HMI diisi puluhan orang kalau setelah dilantik tidak ada yang kerja. Otaknya hanya berisi embat jabatan, tapi tidak ada yang peduli program dan perkaderan. Kalau sudah dikritik berkali-kali masih diteruskan, bagaimana bisa kader komisariat percaya PB HMI?

Saat yang lain bisu dan tuli, mesti ada yang teriak-teriak ingatkan. Jangan sampai mental kompromi dengan penguasa membuat nalar kritis tercemari. Akhirnya praktik korupsi terjadi gila-gilaan di mana-mana, HMI diam seribu bahasa. Giliran isu Palestina naik, semua koar-koar seolah pejuang kemanusiaan.

Agus Harta bilang, "perkuat otak untuk berontak." Ya, tapi kalau ada otaknya, memangnya PB HMI punya? Syahrul Rizal bilang, "Jangan diam. Mari terus melawan." Ya, sebenarnya tidak perlu ada yang dilawan kalau PB HMI peka persoalan. Tidak baik adik-abang gontok-gontokan seolah kita malaikat dan setan.

Aku percaya akan ada suatu masa di mana orang diam. Bukan karena tidak peduli, tapi cintanya pada HMI tidak dihargai. Aku yakin tidak ada satu pun manusia yang dapat mengubah manusia lain. Perubahan ialah proses yang terjadi di dalam individu masing-masing.

Cinta tidak mungkin terus menyala jika dibalas dengan luka. Mulut untuk bicara, bukan pelengkap muka. Pikiran untuk melawan, bukan pajangan. Kuliah untuk melatih jujur, bukan meracik benar dan salah menjadi kabur. Mumpung cuma terserang penyakit bisu, mari kita obati sebelum terserang sakit jiwa.