Kadamban adalah film yang dirilis tahun 2017, berkisah tentang kehidupan masyarakat primitif yang masih sangat alamiah dan jauh dari kehidupan modern.

Film yang bergenre action/drama ini dibintangi oleh Arya, Catherine Tresa, Subbarayan, dan Ragava sebagai Direktur. Alur cerita dalam film ini berkisah mengenai masyarakat yang tinggal jauh di dalam hutan harus berkonflik dengan korporasi untuk  menyelamatkan rumah dan lingkungan mereka dari keserakahan korporasi.

Dalam film Kadamban dikisahkan mengenai bagaimana manusia primitif hidup bermasyarakat dan mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papannya dari alam. Masyarakat ini sangat menjunjung tinggi ajaran nenek moyang mereka untuk hidup berdampingan dengan alam.

Pekerjaan mereka tiap harinya bercocok tanam, mengambil madu, dan berburu ikan dengan alat-alat yang masih sangat tradisional. Mereka sangat mengecam perburuan liar seperti pengambilan kulit harimau dan gading gajah. Dalam hal bermasyarakat, mereka hidup sederhana, keakraban sesama warga begitu kuat dan tidak adanya kelas-kelas sosial.

Permasalahan di film ini mulai muncul ketika korporasi menginginkan wilayah masyarakat primitif untuk dieksploitasi sumber daya alamnya secara ilegal. Wilayah itu dikenal memiliki batu kapur yang sangat melimpah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan semen.

Namun usaha korporasi ini tidak berjalan dengan lancar sebab mereka mendapat tantangan dari warga setempat yang enggan meninggalkan rumahnya. Sehingga proyek tersebut menjadi terhambat.

Berbagai upaya dilakukan oleh korporasi untuk melancarkan usahanya. Mulai dari bekerja sama dengan polisi hutan untuk mengajak warga pindah hingga mengutus para relawan HAM untuk memodernkan pola pikir primitif masyarakat.

Namun dari berbagai usaha yang dilakukan oleh korporasi belum mampu menggoyahkan hati nurani masyarakat primitif. Masyarakat setempat tetap menolak untuk pindah dari wilayahnya. Hal ini memicu korporasi memakai cara-cara yang represif.

Mereka memerintahkan para polisi hutan untuk mengusir secara paksa masyarakat dari kediamannya. Sehingga konflik antarwarga dan polisi tidak dapat dielakkan. Polisi dengan bersenjatakan kayu rotan memaksa warga untuk meninggalkan rumahnya. Peristiwa ini menyebabkan tidak sedikit warga setempat luka-luka bahkan terbunuh.

Akhirnya korporasi berhasil menjalankan tambang illegal tersebut. Sementara masyarakat Kadamban hanya bisa pasrah dan mengungsi di tengah hutan dengah penuh kesedihan.

Namun usaha masyarakat ini tidak berhenti sampai di situ. Kadamban (Arya) salah satu warga yang pemberani mengambil inisiatif untuk melakukan perlawanan terhadap korporasi tersebut. Mereka menyerang tambang batu kapur hingga membuat para buruh tambang lari ketakutan.

Hingga puncaknya terjadi bunuh-membunuh antara pihak korporasi dan masyarakat. Pada akhirnya konflik ini berhasil dimenangkan oleh masyarakat setempat dan berhasil merebut kembali wilayah mereka.

Dari film ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana rakusnya sistem kapitalisme. Demi memburu keuntungan sebesar-besarnya kaum kapitalis melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya, bahkan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.

Pola pikir kaum kapitalis hanya berburu pada laba. Mereka bahkan menyebabkan konflik di kalangan kelas bawah dan menengah sementara mereka kaum kapitalis hanya diam di tempat dan meraup keuntungan.

Hal menarik di film Kadamban adalah mengingatkan kita tentang kehidupan masyarakat primitif yang sederhana dan masih sangat menjaga alam mereka. Orientasi hidupnya hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup saja tanpa berpikir untuk hidup lux (leisure time).

Dalam bermasyarakat, mereka sangat komunis di mana tidak adanya kepemilikan individu. Segala sumber daya adalah milik bersama. Mereka sangat egaliter, tidak adanya hierarki kelas sosial dan saling bergotong royong satu sama lain.

Hal ini mematahkan asumsi bahwa manusia tidak dapat hidup berdampingan dengan alam. Bahwa manusia hanya memanfaatkan alam namun tidak memikirkan dampak lingkungan dan kemanusiaan itu hanyalah pola pikir kaum kapitalis.

Degradasi lingkungan disebabkan oleh sistem kapitalisme. Hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan Engels (1880). Ia menjelaskan bahwa para kapitalis secara individual terlibat dalam produksi dan perdagangan demi mendapat laba yang cepat dan instan.

Selama manufaktur atau pedagang menjual komoditas yang dibuat atau yang dibelinya mencapai laba sesuai target, maka mereka puas dan tidak memusingkan diri dengan dampak yang terjadi setelahnya, baik terhadap komoditas atau pembelinya, termasuk juga dampak terhadap alam.

Pemahaman dan kesadaran masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk peduli terhadap dampak yang ditimbulkan dari sistem kapitalisme. Pemahaman yang menyeluruh bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya disebabkan oleh lingkungan itu sendiri. Namun ada hal yang mendorong pada level sistemik sehingga mengubah pola pikir masyarakat yang hanya berorientasi pada laba tanpa mempertimbangkan efek samping sosial dan lingkungan.

Dari permasalahan di atas, Kadamban merupakan sebuah film yang memproyeksikan bagaimana sistem kapitalisme mengubah pola pikir masyarakat primitif yang hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup menuju masyarakat kapitalis yang berorientasi pada laba. Bila degradasi lingkungan disebabkan oleh level sistemik, maka sudah seharusnya dalam rangka memperbaiki itu haruslah pula dengan perubahan sistem.

Sejalan dengan di atas,  sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx bahwa untuk menghancurkan kapitalis maka perlu adanya kesadaran kelas pada setiap individu. Kesadaran bahwa mereka mengalami penindasan dan teralienasi dari alamnya.

Dengan adanya kesadaran ini akan memicu lahirnya gerakan revolusi dari kaum proletariat untuk menentang kaum kapitalis yang mempertahankan status quo. Sehingga pada akhirnya prediksi Karl Marx bahwa akan lahir kembali suatu masyarakat Komunisme Primitif dapat diwujudkan. Masyarakat yang hidup egaliter tanpa adanya kelas-kelas sosial yang menindas dan segala sumber daya menjadi milik bersama untuk saling menyamankan satu sama lain.

Sumber