Semboyan ‘Mens Sana in Corpore Sano’ atau ‘Di dalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa yang sehat’ menurut saya sudah kurang relevan. Kalau pun masih, harus ada sedikit penyesuaian. Yang lebih tepat dengan situasi terkini adalah ‘Mens Sano in Corpore Sana’, Di dalam jiwa yang sehat ada tubuh yang kuat.

Bagaimana bisa? Begini penjelasannya.

Sebenarnya sudah cukup lama orang meyakini bahwa kondisi psikis manusia sangat mempengaruhi kondisi fisiknya. Contohnya:  saat kita stress, kita jadi gelisah, susah tidur nyenyak, kemudian timbul sakit kepala atau tidak enak badan. 

Kadang dibarengi dengan kehilangan selera makan mengakibatkan berat badan turun dengan cepat begitupun kondisi kesehatan. Karena pada saat banyak pikiran dan tidak bahagia, daya tahan tubuh seseorang akan menurun, sehingga berbagai macam penyakit mudah menyerang.

Bahkan ada penelitian yang menunjukan bahwa kebanyakan penderita kanker adalah orang yang biasa memendam emosi-emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, kebencian yang menyebabkan sel-sel kanker mudah berkembang. 

Begitupun dengan orang yang kurang sabar mengendalikan emosi, kebanyakan jadi mudah terserang hipertensi atau tekanan darah tinggi. Pantas saja ‘marah’ di idiomkan dengan ‘naik darah’.

Contoh lainnya yang sedang populer belakangan ini adalah sakit Gerd. Gerd adalah penyakit lambung dan saluran pencernaan kronis, yang kerap dihubungkan dengan kecemasan (Anxiety). Secara fisik penderita Gerd sering mengalami naiknya kembali (refluxs) asam lambung dari perut ke kerongkongan. Rasanya pasti tidak nyaman. 

Apalagi bila dibarengi kecemasan. Gejalanya bisa berupa detak jantung tidak beraturan, sesak nafas dan nyeri dada yang kemudian sering ditenggarai sebagai sakit jantung. Dan masih banyak gejala tak biasa lainnya yang membuat kecemasan bertambah

Akhirnya penderita Gerd biasanya meyakini bahwa dirinya sedang menderita penyakit yang berat dan membahayakan jiwa. Sebenarnya tidak salah juga, karena saya pernah punya teman yang meninggal mendadak dan katanya penyebabnya adalah sakit Gerd. Sedikit tidak percaya, masa sakit lambung bisa mematikan? Mungkin itu yang menyebabkan belakangan ini, Gerd termasuk kategori informasi yang paling sering dicari melalui mesin pencaharian di internet.

Di Facebook bahkan ada grup komunitas Gerd Anxiety Indonesia. Karena ingin tahu, saya bergabung disana. Para anggotanya berbagi cerita untuk bertukar informasi dan saling menguatkan. Kalau membaca cerita dan keluhan yang dibagikan, kadang saya bertanya-tanya, ini penyakit lambung atau penyakit jiwa ya? 

Karena hampir sebagian besar keluhannya berkaitan dengan kecemasan, kepanikan, ketakutan yang secara nalar terlihat tidak beralasan. Tapi ketakutan dan kecemasan itu nyata adanya, gejala fisiknya juga jelas kentara. Keduanya saling terkait dan saling mempengaruhi. Yang pasti tingkat kecemasan yang tinggi, membuat sakit Gerd semakin susah diatasi.

Di situasi pandemi seperti sekarang ini, ternyata faktor mental juga sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan pasien Covid-19 dengan gejala sedang-berat. Dari hasil pengamatan, kebanyakan pasien yang tidak bertahan, selain orang yang rentan, usia lanjut dan mempunyai penyakit bawaan (komorbid), adalah orang-orang yang mempunyai tingkat kecemasan dan ketakutan luar biasa atas situasi yang dihadapi.

Walikota Bogor Bima Arya, saat positif covid dan menjalani isolasi mandiri, pernah dikabarkan kondisinya langsung drop setiap membaca berita tentang corona. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak membaca berita dulu. Menutup akses pada berita dan media sosial dan fokus pada penyembuhan. Bima Arya akhirnya sembuh dan pulih lebih cepat.

Sebaliknya, hal yang berbeda terjadi pada teman saya. Saat terkonfirmasi covid dan ada gejala, dia cukup tenang pada awalnya. Bahkan masih sempat berbagi cerita dan berpesan untuk lebih berhati-hati.  Kami menerima sarannya dengan baik dan terus memberi semangat dengan optimis. 

Kami yakin dia survive dan sembuh, karena selama ini pola hidupnya sehat, rajin olahraga, tidak merokok, selalu tidur cukup dan tidak mempunyai penyakit bawaan sebagai penyerta.

Namun  setelah memasuki minggu kedua, dia sangat susah dihubungi bahkan oleh keluarganya sendiri. HP nya lebih sering di non aktifkan. Menurut istrinya, teman kami berusaha mengurangi informasi dari luar yang bisa menambah beban pikiran. Sama seperti yang dilakukan Walikota Bima Arya.

Keputusan tersebut ada benarnya juga. Di satu sisi dia berusaha memutus informasi-informasi yang terkadang terlalu membanjiri hingga membuat kelelahan. Di sisi lain dia jadi kehilangan kesempatan untuk tetap terhubung dengan dunia luar yang bisa menyemangati dan memberikan dukungan.

Dirawat di dalam ruang isolasi yang tertutup  pasti membuat tertekan. Apalagi biasanya sepanjang waktu selalu sendirian, tidak ada teman berbincang. Sungguh bukan situasi ideal untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang diperlukan untuk mengusir virus. Entah ada hubungannya atau tidak. Si teman akhirnya tidak bisa bertahan dan menjadi tambahan angka jumlah kasus positif yang berujung kematian.

Kalau memang terbukti demikian, bahwa kesehatan jiwa lebih mempengaruhi kesehatan raga, perlu ada revolusi pada metode pengobatan di rumah sakit-rumah sakit. Perlu ada perubahan dalam metode perawatan. Bukan hanya pada pasien covid tapi juga pada pasien penyakit lainnya.

Kamar rawat harus dibuat lebih terang agar bisa mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Disediakan musik lembut yang menenangkan seperti di mal-mal yang mahal. Perlu dipastikan agar pasien tetap bisa terhubung dengan dunia luar. Kamar isolasi covid  harusnya tidak membuat pasien di dalamnya merasa terkungkung dan makin stress.

Tenaga kesehatan juga perlu dibekali dan ditingkatkan lagi pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan suntikan semangat dan kegembiraan pada pasien juga keluarganya. 

Sebenarnya cukup banyak tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat yang karena kepribadiannya, memang terbiasa memberikan perhatian personal yang menyenangkan dan menenangkan. Tapi harus diakui sebagian besar lainnya hanya berkonsentrasi pada pengobatan fisik untuk mengurangi gejala yang dirasakan tubuh dengan cara biasa yaitu memberikan obat-obatan kimia.

Bila pun ada keluhan psikis, misalkan merasa cemas atau kesulitan tidur, Biasanya yang diberikan adalah obat penenang atau obat tidur saja. Mungkin sudah waktunya layanan psikolog di RS dan tempat layanan kesehatan lain -untuk menangani pasien dengan keluhan mental yang sedang dan berat, dipastikan ketersediaanya.

Singkat kata, sebagai teman atau keluarga orang sedang sakit baik terkena covid atau bukan. Kita harus membantu menyelesaikan permasalahan yang muncul tanpa banyak pertanyaan atau saran-saran tanpa solusi nyata. Sehingga pasien tetap semangat dan level kebahagiaan tetap terjaga. Bahkan protokol Covid harusnya ditambah jadi 4 M; memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan dan membahagiakan diri sendiri maupun orang lain.

Bayangkan, berada dalam situasi orang yang baru tahu bahwa ternyata positif Covid. Umumnya akan langsung kuatir bahkan mungkin ketakutan. Apalagi kalau positifnya itu bergejala, misalnya ada demam, batuk dan lain-lain. 

Pada saat demikian apabila bermunculan pertanyaan-pertanyaan seperti: Ketularan siapa, dimana? Anak-anak dan orangtua gimana? Rumah sudah sterilisasi? Ada sesak nafas nggak? Kalau sesak nafas nanti bla bla bla. bla, jangan mau dipasang ventilator ya, nanti malah makin sesak bisa mati. Lha baru juga masuk kamar perawatan, sudah membahas kematian. Stress.

Kita perlu memastikan teman atau kerabat yang sedang sakit, tidak mendapatkan tambahan beban pikiran dari seharusnya. Agar proses penyembuhan bisa lebih cepat dan tanpa kendala. Karena sudah terbukti bila hati senang penuh semangat dan daya juang, tubuh akan merespon lebih kuat melawan segala penyakit yang datang.