"Terima kasih nana, sakit ini memang parah"

Sepenggal kalimat di atas adalah akhir dari percakapan komunikasi  via wa antara saya dengan Pakde pada 4 Juli 2021 yang lalu. Pakde terpapar Covid-19. Sejak mengalami demam sampai sesak napas, seluruh keluarga sudah dikabari tentang kondisinya. Berdoa lantas jadi jalan terbaik, termudah dan tercepat mendamaikan suasana hati dan pikiran yang seketika menanjak tegang. 

Koq bisa Pakde kena Covid? Kapan dan di mana? Bukankah Pakde sudah lockdown mandiri nyaris dua tahun terakhir ini di rumahnya yang asri?

Setelahnya kami semua hanya menerima terusan pesan wa dari nakes di ICU hingga akhir hayatnya. Sedih, marah dan perasaan tidak berdaya semua menyatu dalam kesendirian duka yang hening. Iya sendiri tanpa keluarga dan orang-orang terdekat.

Penghiburan satu-satunya adalah menyadari fakta kami tidak sendiri. Ada puluhan ribu keluarga lain di Indonesia yang mengalami kedukaan dalam hening yang sama di pekan itu. Pandemi Covid-19 telah menumbuhkan memori buruk bagi kita semua bahwa kemungkinan kematian itu nyata. Dan kesendirian menerima berita kematian orang-orang terkasih sepertinya akan terus terjadi di ranah domestik kita masing-masing.

Loh, koq saya seperti mendoakan itu terjadi?

Ingat kawan, kita sedang berperang melawan Covid-19? Catat, kita sedang berperang. Dan sebagaimana layaknya perang, korbannya pasti ada. Para korban akan bisa ditemui dan dihitung di barak-barak Rumah Sakit, parit-parit perlindungan rumah kita, atau di makam-makam itu. Itu korban meninggal mudah dihitung. Akumulasi jumlah korban seplanet bumi ini pun diupdate dalam waktu cepat oleh lembaga paling berpengaruh saat ini.

Sampai dengan Bulan Juli ini, WHO umumkan Covid 19 sudah membunuh 4 juta lebih manusia di seluruh dunia. Statistik ini tentu saja akan bertambah dalam sejam berikutnya, sehari dan beberapa waktu ke depan. Kita menyadari ini dengan sangat yakin melampaui keyakinan Pak Trump dulu pada Tiongkok sebagai produsen virus ini. Sedihnya, ada Pakde saya di dalamnya mungkin orang-orang terdekat pembaca juga.

Selanjutnya tak terhitung pula korban luka keputusasaan akibat kehilangan pekerjaan, luka kesepian akibat jauh dari kehangatan keluarga, luka ketakberdayaan karena terpisah beda negara atau sedang isoman dan di shelter-shelter karantina.

Anda dan saya pun sebenarnya sudah terluka sejak pandemi ini muncul di halaman bermain kita masing-masing. Kita mengambil jarak fisik dari yang bukan warga serumah. Silaturahmi keluarga beda rumah kemudian pindah ke halaman media sosial kita. Dan prakk...."Terima kasih nana, sakit ini memang parah", tanpa pernah menjenguknya untuk terakhir kalinya.

Apakah anda merasakan kacaunya kita menghadapi bahaya Pandemi ini?

Yang kita rasakan selama Pandemi adalah perang Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Bansos Covid. Makin banyak orang atau keluarga yang mau jadi penerima BLT karena banyaknya jenis dan jumlah BLT yang disiapkan Pemerintah. Penerima BLT-nya melonjak tajam seiring penambahan jumlah indikator penerima selama dalam masa Pandemi. Orang berbondong-bondong mendatangi Kantor Urusan Cetak KTP lalu berkerumun dalam antrian panjang di bank-bank penyalur BLT.

Sengkarut berikutnya adalah masifnya data fiktif penerima BLT di berbagai front perang lawan Covid-19. Googling saja dengan keyword "Kasus BLT Covid" dampak dari perang BLT ini. Anda akan langsung nrimo bahwa untuk urusan apapun di negeri tercinta ini, wajib ada "oli pembangunannya". Varian oli untuk BLT jenis ini bisa muncul dalam beragam rupa. Ada pungli, ada korupsi bansos, ada penggelapan dana, ada penyelewengan dana, dll. Anda silahkan urutkan saja sendiri. Itu semua generik Indonesia koq baik istilah, sebutan dan seperti apa kasusnya akan berakhir.

Sayangnya, kita seperti tidak sedang memacu semua sumber daya untuk berperang dengan serius lawan wabah menular Covid-19. BLT digelontorkan untuk memacu meningkatkan daya beli masyarakat di tengah kelesuan kegiatan ekonomi. Pada akhirnya, yang kita sadari dari masifnya BLT ini adalah bukan seberapa bertahan kita dari efek pandemi, tetapi seberapa banyak oknum pejabat dan lingkarannya yang ditangkap KPK atau disidik Kejaksaan karena salah urus BLT atau Bansos Covid.

Jujur saja, perang kita menghadapi pandemi Covid-19 ini kurang fokus mengatasi masalah menghentikan penyebaran virus. Sejak awal Panglima Perang kita memilih mengatasi masalah kesehatan dan dampak ekonominya sekaligus. Markas besar penanganannya adalah Komite Penanganan Covid -19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). 

Jelas saja, energi kita terbagi pada dua front utama; kesehatan dan ekonomi. Dua hal berbeda, tetapi dalam rangka Covid-19, kita semua diajak sepakat bahwa keduanya bisa berjalan berbarengan. Itu semacam sama integralnya dengan terus menjaga stabilitas keberadaan "oli pembangunan" di setiap kegiatan Pemerintah. Jadi, jika ada korupsinya di bansos ya, itu wajar saja biar lancar distribusinya ke seantero negeri.

Pada front kesehatan, masyarakat bersama Pemerintah di setiap levelnya tentu saja mendukung prokes 3M dan 3T. Prokes wajib diketahui dan dijalankan oleh lebih dari 270juta warga bangsa ini. Apakah telah berhasil mengalahkan Covid-19? Sampai jam ini kutengok Peta Sebaran Covid-19 di halaman bermain KPCPEN,  grafik kematian menunjukkan kecenderungan terus meningkat di atas 1000 orang per hari. Ini grafik kematian loh. Mengerikan.  

Grafik penularan baru per hari, tentu saja lebih masif lagi peningkatannya. Seorang teman menggambarkan suasananya dalam keputusasaan. "Di Jakarta Covid itu macam arisan, menunggu lotre kapan dikocok dan nama siapa yang keluar. Ibarat ngejar tikus, ruang gerak tikus semakin sempit untuk lolos".

Eskalasi penyebaran varian-varian baru Covid-19 dicurigai sebagai biang tidak terkendalinya jumlah korban dalam peperangan ini. Itulah pesan yang kita terima. Bagi saya, ini pesan bagus artinya kita diajak kembali fokus pada masalah kesehatan. Titik. Kita perkuat semua hal terkait ketahanan sektor kesehatan menghadapi pandemi ini dan menegakkan dengan serius prokes 3M/3T. Kita serentak diajak untuk kembali ke jalur perang yang sebenarnya. Mengatasi wabah penyakit dan bukan mengatasi ekonomi.

Ketika semua pasien Covid-19 bisa ditangani secara cepat oleh ahlinya lengkap dengan dukungan nakes dan faskesnya yang memadai. Akhir perang ada dalam kendali kita. Tentu saja, saya sepakat front perjuangan di sektor ekonomi juga penting. Tapi tidak di saat genting ini. Saya dan anda butuh sehat dulu untuk mencari penghidupan lagi.

Oya, hampir lupa Kampanye Pilpres itu masih lama. Jadi Panglima, mohon tidak perlu tergesa-gesa memburu statistik pertumbuhan ekonomi positif saat ini. Itu nanti saja jelang 2024 kita cocok-cocokkan angkanya sehingga positif. Hari ini, perang kita hanyalah menghadapi wabah penyakit Covid-19. Kita hanya perlu disiplin menjalankan 3M/3T. Harapan publik sederhana saja, tiada lagi kedukaan dalam kesendirian. Kedukaan model ini bukan Indonesia banget.