Pembatas judul di atas berupa kritik sastra alih bahasa penerbit Bentang Pustaka pada novel karya Dan Brown yang berjudul Origin.

Sebelum melakukan alih bahasa sebuah karya sastra, hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengetahui karakter pengarangnya atau penulisnya lewat berbagai cara. Titik terpentingnya adalah paham sisi ideologis dan nalar politis pengarang.

Sedang hal lainnya, semisal kemampuan Cross Cultural Understanding (CCU), seorang penerjemah, terutama yang  berbentuk sebuah tim penerjemahan, wajib menguasainya agar mempunyai kesamaan visi dan output ujaran.  

Novel-novel karya Dan Brown kaya diksi mutakhir dan idom-idiom klasik. Kalau tidak memberikan perhatian intensif hingga tingkat terkecil, misal ujaran atau idiom, maka siap-siaplah terperosok. 

Perpaduan keduanya cukup membingungkan penerjemah. Jika tidak dibantu dengan kemampuan CCU tadi, maka akan menghasilkan terjemahan yang kaku dan sesat.

Memandang novel-novel karya Dan Brown, paling tidak, harus sudah terbiasa dengan karya-karya Dee Lestari (walau terlihat memaksakan diri Dee Lestari) untuk lingkup sastra Indonesia.

Kalau masih mbulet di lingkaran karya-karya Tere Liye, misalnya, siap-siaplah menabrak dinding benteng yang kokoh saat menerjemahkan atau membaca novel Dan Brown versi Bahasa Inggris-nya.

Dan Brown adalah penulis libertarian, mengerti tuntas tentang kabbalah (sufisme Yahudi), teknis, dan taktikal. Dia sering melakukan desakralisasi nilai-nilai ketuhanan dalam karya-karyanya. 

Apa yang dilakukan bukanlah sebuah pelecehan. Namun, sekadar memberi perlawanan yang seimbang dari sebuah arogansi para pembela Tuhan yang sering berlebihan, tak nalar, tak logis, dan terkadang juga tak manusiawi.

Setelah paham sisi ideologis, nalar politis pengarang, CCU, maka langka selanjutnya adalah memahami analisis diskursus setingkat kalimat majemuk. Dengan begitu, seorang penerjemah tidak akan melakukan reduksi isi dan makna cerita. Termasuk jungkir balik dalam menata terjemahan kalimat majemuk bertingkat. 

Menjaga kualitas, keaslian, keutuhan komponen isi beserta makna sebuah karya sastra merupakan kode etik utama dalam bidang penerjemahan. Seorang penerjemah tidak boleh masuk secara pribadi, baik batin ataupun ideologisnya ke bahan terjemahan. 

Penerjemahan juga bukan merupakan kegiatan atau proses adaptasi yang biasa terjadi di dunia perfilman yang sering merusak makna sebuah cerita.

Menghormati visi dan misi penulis adalah yang paling utama. Idealisme ini tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan, bisnis, ataupun jiwa korporat bengis lainnya. Pemaksaan sebuah terjemahan karena faktor ketidaktahuan, kurang terampil, hingga kebodohan yang berlipat; adalah sesuatu yang harus segera dihentikan.

Pemaksaan ini tak lebih dari sebuah keculasan dan tindakan banci terhadap sebuah karya sastra. Kenapa sampai sejauh itu? Karena menerjemahkan sebuah karya sastra bukanlah sebuah keberisikan pendapat pribadi di sebuah ruang opini.

Kritik saya terhadap penerjemahan yang dilakukan oleh tim penerjemah dari penerbit Bentang Pustaka pada novel Origin karya Dan Brown ini tiada maksud negatif apa pun. Kritik ini hanyalah secuil usaha pendewasaan wacana-wacana yang membangun dari sebuah tradisi melestarikan budaya literasi anak negeri yang jantan, berani, beradab, dan bertangung jawab.

Koreksi akan saya berikan dengan bentuk uraian sistematis dalam korpus-korpus yang singkat dan padat. Korpus akan menunjukkan halaman, frasa, klausa, ataupun kalimat yang kurang tepat terjemahannya. Serta, memberikan fokus koreksi dan penerjemahan yang semestinya.

Saya hanya mengambil bagian depan (prolog) dan beberapa halaman yang perlu dikritisi. Tak mungkin juga saya tulis semua koreksi novel yang berjumlah halaman hingga 695 ini. 

Jelas, ini akan memakan waktu dan tempat. Semoga secuil usaha ini akan menjadi pelecut pihak terkait untuk meningkatkan mutu tim penerjemahnya.

Langsung saja, silakan simak beberapa koreksi penerjemahannya di bawah ini:

Special vocabulary

Halaman: lembar kata mutiara

Kalimat: We must be willing to get rid of the life we’ve planned, so as to have the life that is waiting for us.

Penerjemahan: Kita harus rela membuang kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kita.

Fokus koreksi: get rid of (kata khusus ranah ekonomi yang berarti: cuci gudang/mengikis habis).

Semestinya: Kita harus rela mengikis habis kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kita.

Uraian: “get rid of” masih memperhitungkan besaran nilai-nilai yang mau diobral, walaupun pada akhirnya habis kuantitasnya, artinya: mengikis habis itu juga memperhitungkan gesekan dan residu kikisan. Berbeda dengan “membuang” yang sifatnya “habis-habisan”, tanpa menarik pelajaran.

Adjective intension 

Halaman: prolog

Klausa : the dizzying incline.

Penerjemahan: tanjakan curam yang memusingkan

Fokus koreksi: dizzling (konsep bidang miring paku ulir yang berarti: berkelok)

Semestinya: tanjakan curam berkelok

Penjelasan: dengan mengikuti kaidah bidang miring pada paku ulir, sebuah tanjakan di pegunungan mudah dibuat dan dilalui dengan solusi kelokan yang panjang.

Totally utterance omitting

Halaman: prolog

Kalimat: “Edmond Kirsch, I assume?” the bishop intoned as Kirsch exited the train. 

“Guilty as charged, Kirsch said, smiling as he reached out to shake his host’s bony hand. 

Penerjemahan: “Edmond Kirsch?” sapa sang Uskup ketika Kirsch turun dari kereta api.

“Benar sekali.” jawab Kirsch seraya tersenyum dan menjulurkan tangan untuk menjabat tangan kurus tuan rumahnya.

Fokus koreksi: penghilangan ungkapan, “I assume” adalah cukup fatal. Termasuk kesalahan mengartikan frasa “guilty as charge”.

Semestinya: “Endmond Kirsch, Benarkah?” sapa sang Uskup ketika Kirsch turun dari kereta api.

“Salah dihukum.” jawab Kirsch seraya tersenyum dan menjulurkan tangan untuk menjabat tangan kurus tuan rumahnya.

Penjelasan: sebuah suasana bertemunya dua orang yang sama sekali belum pernah ketemu, sebagaimana dijelaskan pada paragraf sebelumnya; bahwa identifikasi keduanya hanya lewat foto. 

Maka, ungkapan yang sering keluar adalah seperti di atas dengan intensi humor ringan, plus senyuman sebagai penetral “Salah dihukum”.

Passive voice

Halaman: prolog

Kalimat: “It is not often we are consulted by men of science…..”

Penerjemahan: Kami jarang diajak berkonsultasi oleh orang-orang sains……

Fokus koreksi: terbaliknya mana subjek dan objek dalam kalimat pasif tersebut.

Semestinya: “Kami jarang dimintai konsultasi oleh orang-orang sains…….”

Special vocabulary as proper name

Halaman: prolog

Frasa: Barker ostrich shoes

Penerjemahan: sepatu kulit burung unta Barker

Fokus koreksi: penggunaan proper name yang kurang tepat

Semestinya : sepatu kulit burung unta merek Barker

Simple present

Halaman: prolog

Kalimat: “My filters fail me from time to time.”

Penerjemahan: Terkadang filterku gagal berfungsi

Fokus koreksi: kurang paham tentang idiom dan penganekaragaman verba dari sebuah adjektiva.

Semestinya: Agamaku menjatuhkanku dari waktu ke waktu.

Penjelasan: Dialog tentang kekecewaan tentang agama yang selalu gagal mengatur pemeluknya.

Word order relationship

Halaman: prolog

Kalimat: Kirsch raised his eyes to the ornately balustraded walkway that encircled the second story ……

Penerjemahan: Kirsch mendongak memandang rampa dengan langkan berhias rumit yang mengintari lantai dua…

Fokus koreksi: urutan kata yang tak efisien dengan beberapa kosakata yang sulit dimengerti.

Semestinya: Kirsch mendongak pada tangga melingkar berdinding yang penuh ornamen di lantai dua….

Sentence distraction 

Halaman: prolog

Kalimat: The bishop, Kirsch now realized, had not even set out a chair for him.

Penerjemahan: Dan sang Uskup, Kirsch menyadari, bahkan tidak menyiapkan kursi untuknya.

Fokus koreksi: Ketimpangan penempatan subjek, objek, sehingga mengganggu makna kalimat.

Semestinya: Bahkan sang Uskup tidak menyiapkan kursi untuknya, Kirsch menyadari hal itu.

Synthesis for gerund

Halaman: prolog

Kalimat: Pausing a moment to assert his power, Kirsch walked over to the window and gazed out at the breathtaking panorama below.  

Penerjemahan: Kirsch diam sejenak untuk menegaskan kekuatan, lalu berjalan ke jendela dan memandang panorama menakjubkan di bawah.

Fokus koreksi: sintesis gerund (Ing-form) yang kacau dan beberapa kata yang kurang tepat.

Semestinya: Untuk mencairkan suasana tersebut, sambil menenangkan diri, Kirsch berjalan ke jendela dan memandang panorama menakjubkan di bawah.

Word substitutes and word meaning

Halaman: prolog

Kalimat: A sunlit patchwork of ancient pastoral lands stretched across a deep valley, giving way to the rugged peaks of the Collserola mountain range. 

Penerjemahan: Petak-petak padang rumput kuno yang diterangi matahari membentang melintasi lembah yang dalam, lalu digantikan oleh puncak-puncak bergerigi pegunungan Collserola.

Fokus koreksi: substitusi kata-kata yang tak teratur.

Semestinya: Hamparan terang tanah pastoral kuno yang membentang di lembah dalam, seakan membimbing ke puncak-puncak bergerigi pegunungan Collserola.

Composition, posisition, order and drafting of sentences

Halaman: 17

Kalimat: Langdon pondered the creature a bit longer and then continued along a suspended walkway, 

descending a sprawling terrace of stairs whose uneven treads were intended to jar the arriving visitors from his usual rhytm and gait. 

Penerjemahan: Langdon merenungi patung itu sedikit lebih lama, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri rampa yang ditata menggantung, menuruni teras tangga luas dengan anak tangga yang tidak rata yang dimaksudkan untuk mengejutkan pengunjung dari irama dan langkah biasa mereka.

Fokus koreksi: pembaca jelas bingung dengan konstruksi terjemahan ini.

Semestinya: Langdon merenungi patung itu sedikit lama, lalu dengan terhuyung ia menyusuri tangga berundak yang cukup menyulitkan baginya, hingga setiap langkanya, menjadi perhatian para pengunjung di sekitarnya.

Omitting adjective, verb and prepositional phrase

Halaman: 17

Kalimat: A towering black widow spider rose before him…..

Penerjemahan: Seekor laba-laba hitam raksasa

Fokus koreksi: hancur sudah sebuah kalimat lengkap (complete sentence) berkeping menjadi sebuah frasa saja.

Semestinya: Seekor laba-laba raksasa jenis black widow berdiri di depannya…

Aptronym fallacy

Halaman: 17

Kalimat: He wore black brocade sherwani and had an almost comical curling Salvador Dali mustache.

Penerjemahan: Dia mengenakan sherwani brokat hitam dan berkumis melengkung Salvador Dali yang nyaris menggelikan.

Fokus koreksi: penempatan aptronima yang kacau.

Semestinya: Dia memakai brokat hitam ala sherwani dan berkumis lengkung lucu ala Salvador Dali.

Disconnection of time signals and ommiting word of “regimen”

Halaman: 18

Kalimat: Langdon’s classic tails were almost thirty years old, preserved from his days as a member of the Ivy Club at Princenton, but thanks to his faitful daily regimen of swimming laps. The outfit stil fit him fairly well. 

Penerjemahan: Jas berekor klasik yang dikenakan Langdon sudah berusia hampir tiga puluh tahun, peninggaalan hari-harinya sebagai anggota Ivy Club di Princenton, Namun, berkat latihan renang hariannya secara rutin, pakaian itu masih cukup pas di tubuhnya.

Fokus koreksi: frasa-frasa adjektiva yang tak terhubung saat melukiskan subjek.

Semestinya: Jas menjuntai klasik yang dipakai Langdon sudah berusia hampir 30 tahun, peninggalan saat masih bergabung Ivy Club Princenton, berkat rutinitas melahap beberapa putaran renang selama di resimennya, setelan itu masih saja cukup bagi tubuhnya.