Pelajaran telah usai siang itu, namun sebagian siswa kelas VI SD Kutowinangun IV masih belum beranjak dari ruangan kelas. Sebenarnya ruangan itu bukanlah ruangan kelas pada umumnya, tetapi berupa bangunan yang awalnya difungsikan sebagai bangsal, namun karena terbatasnya ruangan kelas maka bangsal itu beralih fungsi, sebagian menjadi ruangan kelas, sebagian lagi menjadi ruangan guru. 

Sangat tidak nyaman  memiliki ruangan kelas yang bersebelahan langsung dengan ruang guru tanpa sekat kedap suara, karena itu berarti di dalam kelas murid tidak boleh berisik, meskipun pada saat pelajaran telah usai seperti siang itu.

Blauran, nama tempat dimana SD ku berdiri terdiri dari 3 SD yang berbeda dan menempati ruangan kelas yang sudah dibangun sejak jaman Belanda dengan daun jendela yang sangat lebar sehingga hampir menyerupai daun pintu dan dinding bata merah yang sangat tebal bercat biru muda. Dikelilingi oleh lapangan luas yang biasa digunakan untuk upacara bendera di hari Senin atau senam kesegaran jasmani setiap hari Jumat. Ada kolam ikan yang menjadi semacam oase di tengah-tengahnya tempat anak-anak biasa main lempar batu karena kolam itu jarang diisi ikan.

Karena ruangan yang ada hanya cukup untuk 2 SD atau hanya ada 12 ruangan kelas, maka salah satu SD bergantian ruangan kelas dengan SD lainnya. Pembagiannya cukup adil, yaitu masing-masing bergantian setiap bulan masuk pagi dan bulan berikutnya masuk siang. Seingatku pembagian itu hanya berlaku sampai aku kelas dua, karena tahun berikutnya lapangan luas yang dipakai untuk upacara mulai digali pondasi dan dibangun menjadi ruangan kelas. Pada tahun ajaran berikutnya, kami sudah memiliki enam ruangan kelas tambahan (termasuk bangsal yang disekat menjadi ruang kelas enam) sehingga semua SD di komplek blauran kini bisa menikmati jam pelajaran di waktu yang sama, tanpa perlu bergiliran memakai ruangan kelas.

Pada jam istirahat, sebagian siswa bermain drama yang sebenarnya adalah visualisasi drama radio yang biasa didengar oleh orang tua mereka setiap sore, kalau tidak salah judulnya adalah Misteri Gunung Merapi yang diputar berseri.  Aku ingat siswa yang paling ganteng di kelas selalu dipilih berperan sebagai ‘Brama Kumbara’, tokoh utamanya. Jangan dikira aku juga terpilih sebagai pemain, karena aku dulu sangat pemalu dan kurang popular di antara teman-temanku. Boleh menonton mereka bersandiwara saja aku sudah sangat senang. Apalagi temanku yang berperan sebagai Brama Kumbara itu diam-diam aku taksir.

Dalam ingatanku yang remang tepat 33 tahun yang lalu, aku masih sebelia kelas tiga SD ketika aku mulai tertarik padanya. Dia adalah teman sekelasku yang bermata jernih,  berambut ikal, sangat pintar tetapi sekaligus juga jahil. 

Pada saat pelajaran ketrampilan, ketika murid-murid yang lain membuat tangkai bunga dari kawat tipis yang mudah dibentuk, dia membuat bingkai kaca mata. Pada waktu itu rasanya keren sekali bisa berkaca mata.  Dia memakai kaca mata kawat buatannya itu kemana-mana dan mengantonginya seakan itu benda pusaka. Aku suka menatapnya diam-diam, dan segera menundukkan kepala begitu dia balas menatap. Entah dia tahu atau atau tidak.

Pada saat kelas V, Ibu guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Kami membuat replika buah durian dari balon yang dibalut kertas semen warna coklat. Duri-durinya yang berbentuk kerucut kecil juga dibuat dari kertas semen dan ditempelkan di sepanjang permukaan balon. 

Ketika secara sembrono dia menempelkan kerucut kecil kertas semen itu di bibirnya, diam-diam aku menyimpan kerucut kecil itu di kotak pensilku alih-alih menempelkannya di balon berbalut kertas semen seperti kerucut kecil lain yang dibuatnya. Setelah kerja kelompok selesai dan  teman-temanku sudah pulang, aku mengambil kerucut kecil itu dari kotak pensilku dan menempelkannya di bibirku ketika aku sedang sendiri. Aku tak paham mengapa aku melakukannya, tapi waktu melakukan itu, hatiku terasa hangat.

Setelah itu aku selalu menanti tugas kelompok berikutnya yang diberikan oleh guru. Sayangnya ketika tugas kelompok berikutnya tiba, nenekku meninggal dunia. Aku melihat teman-temanku lewat di depan rumah ketika aku sedang menangisi nenekku. Sejak saat itu aku tak lagi suka tugas kelompok.

Kembali ke siang usai pelajaran di kelas bangsal yang telah beralih fungsi sebagai ruangan kelas VI. Seingatku waktu itu ada enam orang yang masih tinggal di kelas karena mendapat giliran piket membersihkan ruangan kelas. Semua bangku harus diangkat ke meja, lantai disapu bersih dan dipel. Kami berenam berbagi tugas. Aku kebagian mengepel lantai bersama teman yang sejak kelas tiga SD diam-diam kutaksir. Atau mungkin tidak sepenuhnya diam-diam, karena ternyata sebagian temanku mengetahuinya.

Bangku sudah dinaikkan, lantai sudah disapu dan ketika giliranku mengepel lantai, empat orang temanku yang lain yang sudah selesai menyapu diam-diam mengunci pintu dari luar dan membiarkanku berdua saja dengan teman yang kutaksir. Aku pura-pura tidak tahu kalau pintu terkunci. Aku terus mengepel dengan rajin sambil sesekali meliriknya diam-diam. Dia nampak cuek sekali, hanya mengepel lantai dengan cepat dan setelah seluruh ruang kelas sudah mendapat usapan kain pelnya, dia bergegas menggedor pintu. Teman-temanku yang masih ada di luar kelas dan iseng mengunci pintu tertawa terbahak-bahak menertawakan mukaku yang merah. Aku memang pias, rasanya malu sekaligus senang mendapat kesempatan berduaan saja dengannya.


Setelah kami di luar kelas, dia mengeluarkan kacamata kawat dari saku dan memakainya. Sekilas aku melihat sudut tajam di sambungan kacamata kawatnya dan khawatir kawat tajam itu menggores wajahnya. Reflek aku berteriak menyuruh dia membuang kacamatanya. Aku mengatakan kacamata kawat itu berbahaya. Dan dia pun melemparkan kaca mata kawat itu ke kolam ikan yang jarang diisi ikan di tengah komplek sekolah. Wajahnya susah dilukiskan. Dan bersama dengan tenggelamnya kaca mata kawat itu di air kolam yang berwarna kehijauan karena bercampur lumut, rasanya aku sudah tidak naksir lagi padanya. Mungkin karena melihat wajah marahnya yang baru sekali itu muncul tak terduga. Lagipula kami sudah kelas VI, sebentar lagi lulus dan mungkin tak akan pernah sekelas lagi.    

Jakarta, 030220