Peneliti
1 tahun lalu · 191 view · 5 menit baca · Pendidikan 76839_14997.jpg

Kacamata Freire dan Iqbal

Saya ingin memulai tulisan ini dengan warta insiden seorang murid SMA yang ditengarai telah membunuh gurunya sendiri. Beberapa hari yang lalu, dunia pendidikan kita dihebohkan dengan berita penganiayaan seorang siswa terhadap gurunya sendiri di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura.

Kasus ini berawal ketika proses pembelajaran Seni Rupa berlangsung di kelas XI, Sang Guru, Ahmad Budi Cahyono, menegur salahsatu muridnya, MH. Tak terima ditegur dengan cara Sang Guru, maka terjadilah sebuah insiden yang tak pernah diinginkan tersebut.

Guru sebagai sosok yang mendidik dan menanamkan nilai-nilai keluhuran, kebaikan, dan kebajikan harus meregang kehilangan nyawanya oleh muridnya sendiri. Kepergian Sang Guru menyisakan luka dalam dan pilu yang menyayat hati. Siapa yang salah? Pemerintah, sekolah, guru, atau siswanya? Ada apa dengan pendidikan kita? Jika kita mau mengurainya, semuanya saling berkaitan, berkelindan dalam sebuah lingkaran. 

Siapa yang masih belum kenal dengan dua tokoh hebat berikut; Paulo Freire dan Ivan Illich? Dekade tahun 70-an, dua orang tokoh besar tersebut melontarkan kritik yang sangat mendasar tentang asumsi pendidikan yang dianggap manusia sakral dan mulia.

Mereka berdua sangat berjasa sekali menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini disakralkan  dan  diyakini  mengandung  nilai-nilai  kebajikan ternyata mengandung penindasan (Mansour Fakih: Ideologi dalam Pendidikan, 2002).

Pendidikan adalah masalah krusial yang tidak  bisa  dipisahkan  dari    kehidupan  manusia. Pendidikan  bukan  hanya  proses belajar  mengajar sebatas mentransformasikan  pengetahuan  yang berlangsung secara sederhana dan mekanistik. Melainkan, pendidikan adalah keseluruhan yang mempengaruhi  kehidupan  perseorangan maupun kelompok masyarakat, yang seharusnya menjamin kelangsungan kehidupan budaya dan kehidupan bersama memantapkan pembinaan secara intelegen dan kreatif.

Pendidikan adalah perbuatan, tindakan, dan praktek. Pendidikan tidak dapat diartikan sebagai satu hal yang mudah, sederhana,  dan  tidak  memerlukan  pemikiran.  Karena  istilah pendidikan sebagai praktek, mengandung implikasi pemahaman akan arah  dan  tujuannya (Harry Noer Ali, 1992).

Pendidikan juga  bukan  hanya sekedar  pendidikan lahiriah yang terbatas pada pada definisi pendidikan konvensional. Pendidikan diartikan jauh melampaui masa kini sebagai sebuah modal perubahan melawan ketertindasan.

Pendidikan memiliki dimensi waktu ke depan. Ia diarahkan pada pengetahuan, sikap, prilaku, dan kemampuan lainnya yang berfungsi sebagai pegangan bagi anak didik dalam melaksanakan tugas hidupnya secara bertanggung jawab.

Proses pendidikan ini mencakup pembinaan diri secara integral untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiannya tanpa   mesti   terbatasi   oleh   sistem transformasi pengetahuan secara formal dalam lingkungan akademis. Pada akhirnya, pendidikan dalam arti luas mencakup penyelesaian masalah-masalah manusia secara umum dan mengantarkan manusia tersebut pada tujuan hidup yang mulia. 

Menurut Freire, pendidikan bukan hanya kegiatan pengembangan kognitif anak didik, melainkan pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan cinta dan keberanian. Sesungguhnya menurut Freire, pendidikan ialah tindakan cinta kasih dan karena itu juga merupakan tindakan berani.

Dalam kasus insiden Guru Sampang di atas, munculkah cinta kasih di sana? Bagaiamana seharusnya seorang guru menegur muridnya dengan cinta kasih? Bagaimana seorang murid menyikapi teguran gurunya dengan cinta kasih pula? Bagaimana menumbuhkan cinta kasih dalam setiap pembelajaran? Cinta kasih, kini, sangat mahal sekali harganya jika tidak dimulai sejak dini, saat berada di perut ibu.

Pembelajaran di kelas jangan hanya sekedar mencari angka tertinggi, miskin komunikasi yang menumbuhkan motivasi dan percaya diri bagi si anak. Menurut Muhammad Iqbal persis seperti pendidikan konservatif dan liberal yang dianut pendidikan Barat. Kegagalan yang terjadi dalam pendidikan Barat modern dikarenakan dalam pendidikannya hanya menekankan aspek transformasi  pengetahuan  belaka,  tanpa  dilandasi  aspek  ‘isyq  atau cinta.

Pembelajaran seharusnya dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode yang efektif serta meberikan solusi terhadap persoalan kemanusiaan.

Realitas di atas adalah tantangan pendidikan bangsa ini. Pemerintah bertanggungjawab sepenuhnya. Pun, para pendidik, orang tua, masyarakat dan seluruh elemen mempunyai andil untuk kepentingan dan keluhuran akhlak manusia seluruhnya.

Tindakan seorang murid SMAN 1 Torjun, Sampang, di atas yang gagah berani melawan teguran gurunya sendiri hingga gurunya meninggal dunia adalah bukan tindakan berani dimaksudkan oleh Freire. Yang dimaksud Freire adalah pendidikan tidak boleh membuat orang yang akan menganalisis realitas apapun bentuknya menjadi takut.   

Pendidikan Pembebasan

Paradigma pendidikan kritis menurut Henry Giroux dan Arronnawitz adalah paradigma pendidikan yang menganut pendidikan sebagai refleksi kritis terhadap sistem dan struktur sosial yang menyebabkan terjadinya berbagai ketimpangan. Paradigma pendidikan kritis mengarahkan peserta didik pada kesadaran kritis, yaitu jenis kesadaran yang melihat realitas sebagai satu kesatuan yang kompleks dan saling terkait satu sama lain.

Pendidikan kritis atau yang populer disebut pendidikan pembebasan adalah sebuah paradigma pendidikan alternatif yang digagas oleh Paulo Freire. Ia mengkritik paradigma pendidikan konservatif dan liberal yang dianggapnya telah gagal menjalankan visi dan misi pendidikan sebagai proses humanisasi. Implikasi yang dihasilkan oleh paradigma pendidikan yang dominan tersebut tidak mampu membawa ke arah perubahan yang konstruktif bagi realitas kemanusiaan.

Kegagalan paradigma pendidikan konservatif dan liberal dalam menjalankan visi dan misi pendidikan tersebut menarik perhatian para tokoh pendidikan Islam kontemporer.  Salah satu yang tertarik adalah Sir Muhammad Iqbal. Konsep pendidikan Barat modern yang  semula ditiru karena kehebatannya oleh  dunia  Islam,  namun  kenyataannya,  seiring perjalanan waktu, telah  gagal mencapai tujuan arti pendidikan Islam sejati. Terdapat banyak kelemahan di balik kemoderenannya.

Sir Muhammad Iqbal adalah pemikir Islam sekaligus penyair termasyhur dari Pakistan. Dalam menggagas paradigma    pendidikan   Islamnya,   ia terlebih   dahulu memberikan  kritiknya terhadap  paradigma  pendidikan  Barat  modern yang  telah  menghasilkan  krisis  kemanusiaan  yang  berkepanjangan.

Menurut Iqbal, kegagalan yang terjadi dalam pendidikan Barat modern dikarenakan dalam pendidikan Barat modern hanya menekankan aspek transformasi  pengetahuan  belaka,  tanpa  dilandasi  aspek  ‘isyq  atau cinta.

Menurut Iqbal juga, pendidikan dalam Islam tidak hanya mencakup proses belajar mengajar untuk mentransformasikan pengetahuan belaka. Dalam  pandangan  Iqbal,  pendidikan  dalam  Islam  secara  umum, mencakup  aspek  pembinaan  diri  secara  integral  untuk  mengantarkan manusia pada   kesempurnaan kemanusiaannya.

Pada   akhirnya, pendidikan  dalam  Islam  berorientasi  pada  penyelesaian  masalah-masalah  manusia  secara umum  dan  mengantarkan  manusia  tersebut pada tujuan hidupnya yang mulia.

Paradigma pendidikan yang dibangun oleh Iqbal, pada dasarnya adalah upaya untuk menyempurnakan diri (secara individual). Adapun secara sosial, gagasan pendidikan   Iqbal,   adalah   upaya   untuk mengantarkan        manusia secara keseluruhan pada kemampuan menyelesaikan masalah-masalah  zaman  yang berkembang,  serta mengantarkan manusia secara kolektif pada tujuan hidupnya, sehingga hidup manusia menjadi begitu bermakna.

Dari orientasi pendidikan yang digagas oleh Iqbal dan paradigma pendidikan kritisnya Freire terlihat memiliki relevansi yang sangat jelas. Dimana keduanya mendasarkan paradigma pendidikan pada otokritik terhadap kegagalan paradigma pendidikan yang telah ada, serta memiliki orientasi yang secara umum sama, yaitu pencapaian humanisasi baik secara individu maupun sosial. Wallahu a’lamu bishawwaab!