Sabtu malam di sebuah kedai kopi di bilangan Braga, Bandung, aku duduk bersamanya berhadapan. Itu setelah hampir tujuh tahun tidak bertegur sapa, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sejak ia memutuskan untuk pergi bermukim di Kota Santri Depok Raya. Menjadi siswa yang bangga atas ke-maha-an yang di sandangnya.

“Maaf, aku gugup,” katamu.

Aku pun demikian. Gugup, kikuk, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya di hadapanmu. Tidak seperti dirinya, yang sejak pertama muncul di balik pintu dan melihat ku, raut wajahnya mulai memperlihatkan kegugupannya.

“Bagaimana kabar ibu bapak?” kau membuka pertanyaan setelah 30 menit hening. Saat kopi pesananmu akhirnya datang.

“Baik, mereka masih sama seperti dulu yang masih menolak kehadiran anaknya. Bagaimana denganmu, ibu, bapak dan adikmu?”

“Baik, sebelum ke sini, aku sempat bertemu dengan mereka di rumah.”

Halim mulai bercerita tentang hidupnya tujuh tahun terakhir. Beragam kegiatan yang ia lakukan selama berdiri di kampus. Pekerjaan yang saat ini dikerjakannya. Sampai rencananya yang akan menjadi imigran.  Aku akan menceritakan ulang ceritanya. Dan apa yang terjadi setelahnya.

Kamar kosnya berada di daerah Kukusan. Fakultas paling dekat ialah teknik yang konon banyak menghasilkan para teknisi handal yang bergaji di atas rata-rata. Halim tidak kuliah di situ, jika malas biasanya ia akan menaiki bis kuning, naik dari halte teknik dan turun di halte Fisip. Jika masih pagi dengan udara sejuk, melewati hutan kampus, biasanya ia akan berjalan kaki ke gedung perkuliahannya.

Dua semester awal ia lalui dengan baik. Kuliahnya penuh, tidak ada kolom yang kosong dalam absen, nilainya pun cukup baik, walaupun tidak sempurna. Itu saat ia setiap hari hanya pergi dari kos ke kampus pergi-pulang. Tidak ada tempat lain, kecuali perpustakaan.

Semester ketiga ia mulai mengenal adik tingkatnya. Beberapa diantaranya, laki-laki perempuan, bertanya tentang subjek perkuliahan kepadanya. Itu membuatnya harus menambah durasi di kampus, sebelum kembali meringkuk di kos dengan buku-bukunya.

Semua berjalan seperti biasa, ia pun tidak merasa terganggu dengan interaksinya dengan adik tingkat. Pemikiran tokoh-tokoh dunia biasanya bisa ia jelaskan dengan baik: singkat, padat, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Apalagi jika sudah menyangkut perbandingan mazhab satu dan lainnya.  Tak heran jika beberapa senior dan dosen mengajaknya terlibat dalam suatu proyek penulisan.

Selama melakukan kegiatan itu, ia begitu menikmatinya. Saking menikmatinya ia mengaku sempat lupa terhadap masa lalunya. Masa lalu yang sudah mencapai titik nadir, termasuk masa lalu nya bersamaku.

Memang sejak kepergiannya aku terasa berat. Bukan karena tidak akan bertemu, sebab selama di Bandung pun, kita jarang untuk bertemu. Paling 3-4 kali sebulan, itu pun kalau lagi mujur. Jika tidak, sebulan pun pernah kita tidak bertemu. Aku khawatir sebab di kota santri itu bisa saja ia tidak di terima masyarakat. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa ia akan mengalami hal serupa yang pernah aku rasakan sebelumnya.

Dari ceritanya untung ia tidak mengalami hal yang aku khawatirkan. Di lingkungannya ia bersikap seperti biasa orang lainnya. Ia tidak terus mengurung dirinya di kamar, sesekali ia keluar untuk sekedar membeli rokok atau makan. Dan saat itu biasanya ia berbincang dengan tetangga kamarnya atau orang lain yang ia temui di jalan.

Di kampusnya rutin diselenggarakan olimpiade, perlombaan olahraga antar fakultas. Waktu itu ia terpilih untuk bergabung bersama tim basket fakultasnya. Entah siapa yang merekomendasikannya, tiba-tiba namanya muncul dalam daftar nama tim basket di papan pengumuman, yang akan mewakili fakultasnya. 

Memang basket adalah hobinya. Dengan tinggi 185 sentimeter ia cukup untuk bisa menjadi pebasket profesional, jika saja ia menerima tawaran salah satu kampus di Bandung yang terkenal sebagai kampus basket.

Singkat cerita, setelah olimpiade selesai ia menemukan teman berbincang yang asyik dan nyambung. Tidak melulu soal subjek perkuliahan, tapi hal lain yang selama ini tak pernah ia temui selama lebih dari 3 tahun bermukim di kota santri. 

Temannya itu kuliah di rumpun kesehatan, kosnya berada di dekat stasiun Pondok Cina. Lebih bagus dari kamar kosnya di Kukusan. Kamarnya berada di lantai 3, ber-AC, ia betah berada di sana. Beberapa kali ia pun menginap di tempatnya.

Semakin lama mereka semakin akrab. Sampai suatu ketika, temannya menawarkannya pindah untuk tinggal bersama di kosnya. Selain menghemat pengeluaran bulanan, hal itu juga akan menambah keakraban mereka, katanya. Ia pun menyetujuinya, awal semester tujuh ia pindah, hanya membawa pakaian, laptop, dan buku-buku dari kosnya di Kukusan.

Setelah lulus mereka tetap hidup bersama. Mereka pindah ke sebuah apartemen di daerah Patal Senayan, Jakarta. Keduanya kini sudah bekerja, penghasilan mereka cukup untuk membayar sewa apartemen tersebut. Ia bekerja di stasiun televisi di bilangan palmerah, sedangkan temannya bekerja di sebuah rumah sakit.

Jika mereka pulang dalam keadaan yang capek. Biasanya mereka akan memanggut satu sama lain. Dengan begitu, penat akibat pekerjaan bisa di atasi. Dari ceritanya aku tau mereka pasti bergumul hebat.. Seperti yang pernah sering aku dan dia lakukan tempo hari.

Aku begitu cemburu mendengarnya, marah, tapi aku tidak bisa berbuat banyak . Sebab, di awal kepergiannya aku sudah berpesan jika memang ia menemukan yang lebih baik dariku maka silahkan untuk bersamanya, tapi jika kau masih setia  dan kembali kepadaku aku akan sangat senang sekali.

Kedatangannya kali ini tidak hanya suatu tamasya bertemu teman lama. Sebab, ia sudah memutuskan untuk pamit, bukan saja dariku melainkan dari keluarganya di Bandung. Sebelum bertemu dengan ku ia telah berbicara tentang rencananya kepada keluarga. Sudah di tebak bagaimana hasilnya, mereka menolak rencananya. Keluarganya geram, ibu dan bapaknya tak kuasa menerima pilihan sang anak. Satu telapak tangan ia rasakan menghunjam pipi kirinya.

Aku sedih mendengarnya, meskipun kini ia akan bersama orang lain tapi kebersamaannya beberapa tahun yang lalu bersamaku masih membekas dalam ingatan. Ingin rasanya menahannya untuk pergi, tapi itu urung dilakukan.

Hampir dua jam kami di kedai kopi milik salah satu youtuber itu. Sebelum pergi aku mengajaknya ke tempatku. Tempat di mana kita dulu menghabiskan waktu bersama. Sebuah apartemen di bilangan Kosambi. Di sana kita melakukannya untuk pertama kali setelah tujuh tahun dan untuk terakhir kali sebelum ia pergi.

“Terima kasih Maria, maaf aku harus kembali meninggalkanmu.” Ia biasa memanggilku Maria, katanya itu lebih cocok dari pada memanggil nama asliku, Mario.

Hampir dua tahun setelah pertemuan itu, aku tidak mendapat kabar darinya. Dari ceritanya yang terakhir, dia mengatakan akan pergi dan hidup di luar negeri. Di tempat di mana ia bersama pasangannya bisa di terima dan hidup seperti manusia lainnya.

Seekor merpati hinggap di balkon apartemen ku. Itu sore hari saat aku sedang menanti detik-detik matahari tenggelam di balik cakrawala dari lantai 22. Merpati itu datang dengan membawa kabar buruk. Merpati mengabarkan bahwa ia sudah mati di tangan pasangannya. Saat ia tengah bercumbu dengan seorang laki-laki lain yang juga imigran dari Indonesia. Dengan beberapa tusukan di perut dada dan punggungnya.

Aku begitu sedih. Dulu aku khawatir kematiannya akan diambil di kota santri oleh orang-orang yang berteriak menegakan hukum syariat. Tapi kini ia mati oleh pasangan hidupnya sendiri yang membersamainya sejak menimba ilmu di kota santri. Malangnya nasibmu.