Legal Officer
2 minggu lalu · 106 view · 5 min baca menit baca · Olahraga 21434_65861.jpg
Foto: Indosport

Juventus Ingin Juara dengan Identitas

Dari London, Maurizio Sarri akhirnya mendarat di Turin pada Rabu (19/7). Pelatih pemenang Europa League musim 2018/2019 bersama Chelsea tersebut telah menandatangani kontrak melatih Juventus. Kontrak tersebut berjangka waktu hingga tahun 2022. 

Sarri resmi diperkenalkan pada Kamis (20/7). Kepastian penunjukan Sarri mengakhiri spekulasi sejak Mei 2019 lalu. 

Setelah sepakat mengakhiri kerja sama dengan Massimiliano Allegri, rumor calon pelatih baru Juventus terus bergulir. Nama-nama seperti Zinedine Zidane, Antonio Conte, Didier Deschamps, Simone Inzaghi, Jurgen Klopp, bahkan Pep Guardiola sempat beredar.

Pep Guardiola malahan sempat digosipkan telah menandatangani kontrak melatih Juventus. Rumor itu dikabarkan oleh Agi Agensi sekitar akhir Mei lalu. Namun akhirnya, Maurizio Sarri yang resmi melatih Juventus musim depan.

Pemilihan Sarri pun tidak mulus. Pavel Nedved, direktur Juventus, kabarnya lebih menyukai Simone Inzaghi, pelatih Lazio. Namun, Andrea Agnelli, presiden Juventus, lebih tertarik pada Maurizio Sarri. Lalu apakah alasan Juventus memilih Sarri dari segi taktik?

Pragmatisme Allegri

Juventus terkenal sebagai tim yang adaptif secara taktik di bawah Allegri. Si Nyonya Tua masih tetap menerapkan formasi 3-5-2 warisan Antonio Conte pada periode pertama Allegri melatih, musim 2014/2015.

Kecerdikan taktis Allegri terbuktikan lebih lanjut kala di tengah musim pertama ia melakukan eksperimen. Mantan pelatih AC Milan tersebut beberapa kali menukar pola 3-5-2 dengan 4-3-1-2, 4-4-2 dan 4-3-3. Pada musim-musim terakhirnya di Juventus, Allegri cenderung mapan menggunakan formasi empat bek.


Kreativitas Allegri dalam merancang skema kembali teruji saat tiga pemain vital Juve hengkang di awal musim 2015/2016. Pirlo, Vidal, dan Tevez adalah tulang punggung Juve sejak zaman Antonio Conte. Kepergian mereka ternyata tidak jadi masalah bagi Allegri.

Dominasi Juventus di Italia pada musim 2015/2016 tetap bertahan. Mereka memenangkan scudetto Serie A dan Copa Italia sekaligus. Paul Pogba menjadi andalan musim itu. Setelah itu, kepergian pemain bukan masalah. Kala Pogba pindah ke MU, Allegri dengan cerdik menggantinya dengan Pjanic.

Bukti lain ketajaman taktik Allegri adalah ketika ia memfungsikan Mario Mandzukic sebagai ujung tombak yang melebar. Kedatangan Gonzalo Higuain di awal musim 2016/2017 otomatis menggeser posisi Mandzukic sebagai ujung tombak di tengah.

Pilihan di depan mata bagi Allegri adalah membangkucadangkan Mandzukic. Mengingat Higuain adalah top skor Serie A dengan 36 gol pada musim 2015/2016. Mandzukic yang, di awal kariernya, bermain sebagai sayap kiri, segera dikembalikan ke posisi itu oleh Allegri.

Kejelian Allegri mampu mengeksploitasi kekuatan, fleksibilitas, dan kekuatan fisik Mandzukic. Striker Korasia itu tetap bermain gemilang di posisi baru. 

Dengan posisi baru yang ditemukan kembali oleh Allegri, Mandzukic tidak tergeser ketika Ronaldo datang awal musim lalu. Malah Higuain yang harus pindah ke AC Milan kemudian Chelsea.  

Sarrismo

Bila Allegri terkenal dengan pragmatismenya, Sarri adalah pelatih pencipta taktik sendiri. Filosofi taktik tersebut dikenal dengan nama Sarrismo di Italia. 

Secara sederhana, Sarrismo adalah filosofi sepak bola menyerang menekan lawan. Berpola dasar 4-3-3, Sarrismo menekankan dominasi penguasaan bola yang dialirkan kilat ke depan dan pergerakan tiga penyerang yang cair.

Pada fase menyerang, Sarrismo memulai dari belakang. Oleh karena itu, bek tengah yang lihai memainkan bola menjadi bagian penting. Bola dialirkan secara vertikal dengan cepat. 

Sarri membentuk segitiga kecil pemain. Umpan-umpan pendek di antara unit segitiga pemain itu yang mengalirkan bola ke garis depan.  

Dalam keadaan kehilangan bola, tim Sarri akan menekan lawan langsung. Garis pertahanan tim sendiri tetap tinggi. Hal itu bertujuan agar lawan panik begitu menerima bola. 


Kepanikan tersebut akan menyebabkan lawan kehilangan bola atau mengoper bola ke belakang. Dengan demikian, serangan balik dapat dilakukan dengan kilat.

Keunikan Sarrismo terlihat pada susunan tiga penyerang. Sarri cenderung tidak membutuhkan striker bertipe ujung tombak. Sarrismo lebih mengandalkan trio penyerang yang bergerak secara cair. 

Pada musim-musim awal di Napoli, memang Sarri mengandalkan Gonzalo Higuain sebagai ujung tombak. Setelah Higuain pindah ke Juve dan Arkadiusz Milik cedera, pelatih terbaik Italia 2017 itu mengubah gelandang serang Dries Martens menjadi pendulang gol andal. 

Martens hanya bertinggi 169 cm. Namun pergerakan pemain Belgia tersebut tidak mudah ditebak lawan. 

Saat melatih Chelsea, Eden Hazard yang diandalkan Sarri untuk memainkan peran penyerang lincah tersebut. Di Juventus, Ronaldo, Dybala, atau Bernardeschi berpeluang diandalkan Sarri sebagai penyerang lincah.

Juara dengan Identitas

Kelenturan taktik Juventus di bawah Allegri memang terbukti mempersembahkan 11 gelar domestik bagi Juventus. Namun fleksibiltas taktik ini membuat Juventus tidak punya identitas. Juventus bukan tim juara yang akan dikenang karena punya ciri khas permainan tertentu.

Juventus di bawah Allegri memang memenangkan banyak gelar. Walaupun begitu, mereka tidak mewariskan gaya permainan khas bagi sejarah sepak bola. 

Juventus versi Allegri bukan Liverpool di bawah Jurgen Klopp yang terkenal dengan gegenpressing. Si Nyonya Tua juga kalah gaya dibanding tim-tim asuhan Pep Guardiola seperti Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City yang memainkan tiki-taka.

Fleksibilitas taktik Allegri pun akhirnya gagal memberi gelar Eropa buat Juventus. Bianconerri hanya mentok menjadi finalis Liga Champions musim 2014/2015 dan 2016/2017. Juve hanya sanggup jadi jago kandang.

Di musim 2018/2019 yang lalu, Juve hanya sanggup mempertahankan scudetto Serie A. Padahal di musim-musim sebelumnya, Juve minimal meraih scudetto dan Copa Italia. 

Pada periode terakhir, Juventus Allegri memang sudah menunjukkan sinyal penurunan prestasi. Sehingga, keputusan manajemen Juve dan Allegri untuk mengakhiri kerja sama menjadi masuk akal. 


Di luar dua faktor lain. Pertama, isu friksi Allegri dengan para pendukung. Kedua, timbulnya tindakan indisipliner pemain. Ketiga, perbedaan strategi transfer dengan manajemen.   

Oleh sebab itu, masuk akal bila Juventus ingin memperbarui siklus. Kali ini, manajemen Juve tampak hendak mencoba menjadi juara dengan identitas permainan yang jelas. Munculnya nama Guardiola sebelum penunjukan Sarri mengindikasikan hal itu. Bila Sarri punya Sarrismo, Pep Guardiola terkenal dengan tiki-taka.

Dengan menunjuk Sarri, Juventus sepertinya ingin mengadu peruntungan. Bila berhasil, Juventus akan menjadi juara lewat gaya permainan yang atraktif memukau dunia. Namun, Sarri bukan pelatih jaminan juara. Sekalipun ia jaminan mutu permainan. Sarri adalah antitesis dari Allegri.

Sarri lebih menekankan pada keindahan permainan dibanding hasil. Sarrismo pun bukan metode instan yang langsung bisa menghasilkan gelar. Taktik yang juga disebut tiki-taka vertikal itu memerlukan pergerakan cepat dan kekompakan pemain. Kesalahan kecil dalam menyerang maupun bertahan akan merusak struktur Sarrismo. Perlu waktu untuk memastikan kesepahaman dan soliditas antarpemain.  

Apakah manajemen Juve yang terbiasa menjuarai liga dan Copa Italia akan memberi waktu Sarri untuk dapat menerapkan metodenya dengan sempurna? 

Hal kecil unik yang dapat diingat para pendukung Juventus: bila Allegri datang ke Juventus hanya bermodal satu scudetto bersama AC Milan, Sarri datang ke Juventus dengan modal Europa League untuk Chelsea. Keduanya sama-sama hanya bermodal satu gelar saat datang ke Juventus.

Artikel Terkait