Pandemi Covid-19 telah memberi dampak kepada banyak sektor, salah satunya ekonomi. Aktivitas ekonomi menjadi terganggu karena aktivitas manusia menjadi terbatas akibat pandemi coid-19. Dampaknya dunia sekarang mengalami resesi ekonomi.

Banyak negara yang mengonfirmasi terjadinya resesi. Resesi tak pandang bulu, negara maju hingga negara berkembang tak bisa selamat dari jurang resesi. Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Malaysia, hingga Indonesia sudah resmi mengalami resesi ekonomi.

Apa Itu Resesi?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan resesi adalah kondisi ketika PDB atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Resesi juga bisa dimaknai sebagai pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi. Penurunan pengeluaran yang signifikan umumnya mengarah ke resesi. Pelambatan dalam kegiatan ekonomi dapat berlangsung selama beberapa kuartal sehingga benar-benar menghambat pertumbuhan ekonomi.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya resesi, yaitu guncangan ekonomi secara tiba-tiba, hutang yang berlebihan, gelembung aset, inflasi terlalu tinggi, deflasi berlebihan, dan perubahan teknologi. Resesi yang terjadi tahun ini disebabkan oleh guncangan ekonomi secara tiba-tiba yang berupa pandemi covid-19 yang mematikan ekonomi diseluruh dunia.

Dampak Resesi Untuk Indonesia

Indonesia akhirnya resmi mengalami resesi ekonomi pada kuartal III-2020 ekonomi Indonesia minus 3,49 persen, melanjutkan laju ekonomi di kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32 persen.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bima Yudhistira menyebutkan bahwa dampak yang terjadi dalam resesi bisa lebih besar dan luas dibandingkan dengan krisis. Selain itu, dari sisi waktunya pun lebih panjang.

Menurut Bima Yudhistira, proses pemulihan resesi yang diperlukan pun relatif lebih sulit. “karena krisis biasanya adalah parsial. Tahun 2008 lalu memang ada gagal bayar Bank Century, tapi saat itu UKMM masih cukup menopang ekonomi. Buktinya pertumbuuhan ekonomi 2008 masih 6,1 persen,” kata Bima.

Dampak paling nyata dari resesi adalah meningkatnya jumlah pengangguran akibat gelombang PHK dan turunnya daya beli masyarakat. Melonjaknya jumlah pengangguran ujungnya adalah bertambahnya masyarakat miskin di Indonesia dan akan berimbas kepada dampak sosial non-ekonomi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Dr. Willem A. Makaliwe menjelaskan bagaimana dampak resesi bagi masyarakat.  Menurut Willem, keadaan resesi membuat masyarakat mengalami kemunduran yang disebut dengan penurunan aktivitas. Hal itu dijelaskan melalui kanal Youtube OVIS UI yang berjudul "Dampak dari Resesi Ekonomi?".

Dosen FEB UI ini menganalogikan resesi dengan sebuah perusahaan yang misalnya biasa memproduksi kursi dalam satu tahun sebanyak 10 kursi. Masing-masing kursi tersebut, lanjutnya, dikerjakan oleh satu orang yang berarti terdapat 10 orang atau karyawan yang dipekerjakan.

"Namun, karena terjadi penurunan aktivitas akibat resesi, perusahaan ini dalam satu tahun hanya bisa menjual delapan kursi yang menyebabkan penurunan penjualan dari tahun lalu," ujar Willem seperti dikutip Bisnis, (5/11/2020).

Akibatnya, perusahaan hanya mempekerjakan delapan orang dan dua orang lainnya akan kehilangan pekerjaannya. Oleh karena itu, katanya, dua orang pekerja tentu akan mengurangi porsi belanja sehari-hari.

"Yang bekerja 2 orang yang kehilangan pekerjaan pastinya akan mengurangi belanjanya katakanlah ya biasanya mungkin sore-sore iseng-iseng ya makanya kue, siomay dan sebagainya. Wah, terpaksa ditahan belanjanya. Belanja beli sepatu baru ditahan," terang Willem.

Tidak berhenti sampai disana, pedagang kue atau siomay ini nantinya juga akan mengalami penurunan penjualan yang kemudian juga mempengaruhi pendapatannya. Penurunan pendapatan itu, lanjutnya, bakal mempengaruhi daya beli penjual siomay. Kondisi tersebut berlaku seperti efek domino atau akan mempengaruhi perekonomian lain. Hal ini kemudian juga dikenal dengan istilah multiplayer effect dalam bentuk negatif.

"Membuat permintaan masyarakat mengalami penurunan dan itu yang kita sedih karena bisa berlanjut pada berbagai macam sektor atau berbagai macam kegiatan," ungkap Willem melalui akun Youtube OVIS UI.

Ayo Beli Produk Lokal

Ekonom senior Indef Enny Sri Hartati mengingatkan bahwa resesi bukan akhir dari kehidupan.  Pasalnya,Indonesia pernah menghadapi situasi resesi pada periode krisis 1965-1966 dan krisis 1997-1998.

Enny meminta pemerintah segera mengeksekusi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara efektif dan efisien untuk meminimalisasi dampak resesi. Salah satu kebijakan yang perlu diperbaiki, yaitu efektivitas jaring pengaman sosial (bansos) untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Sejauh ini pemerintah Indonesia sudah memberi bansos untuk masyarakat terdampak covid-19, yaitu BLT usaha mikro, BLT Dana Desa, subsidi gaji karyawan, dan Kartu Prakerja.  Adanya bantuan tersebut diharapkan akan meningkatkan daya beli masyarakat ditengah pandemi. Hal tersebut bisa membuat transaksi ekonomi bisa berjalan dan pelan-pelan membuat kondisi ekonomi akan membaik.

Mulai sekarang konsumsi masyarakat harus beralih kepada produk-produk lokal dalam negeri.  Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat untuk membeli produk pertanian, perikanan, dan serta produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri daripada produk impor agar dapat meningkatkan pendapatan para petani, nelayan, dan para pelaku usaha kecil.

“Bukan hanya pada penguatan daya beli petani, nelayan dan UMKM, tapi akan menjadi mesin penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga 2020 ini,” kata Presiden dilansir dari Antara, Jakarta, (8/8/2020).

Presiden meminta kerja sama untuk membangkitkan pelaku ekonomi kecil yang sangat terdampak oleh kontraksi ekonomi akibat pandemi virus corona baru atau COVID-19. “Ekonomi rakyat, ekonomi UMKM itu juga harus kita bangun, bangkitkan. Roda perekonomian harus bisa kita gerakkan lagi dengan cara apa? Dengan cara membeli produk-produk buatan dalam negeri,” ujar Presiden.

Untuk sementara kita rem dulu membeli produk luar negeri. Kita yang biasanya makan ayam goreng merk luar negeri, beralihlah makan di warteg, nasi padang, atau warmindo. Biasanya beli pakaian merk luar negeri, kita beralih ke brand fashion produk daam negeri.

“Ayo beli produk lokal, buang gengsi kita ditengah resesi ekonomi. Gengsi tidak akan membuatmu selamat dari resesi ekonomi”.