"With great power comes great responsibility." ~ Paman Ben dalam film "Spiderman"

Apa bahaya terbesar yang dihadapi umat manusia? Kepunahan akibat keserakahan sebagian kecil manusia lain.

Lihatlah sekeliling. Pabrik-pabrik kimia berdiri di Kota Cilegon. Bayangkan bila bahan kimia itu meledak. Hancurlah. Minimal Kota Cilegon dan Anyer terdampak. Ratusan bahkan ribuan orang akan mati. Musnah. Punah.

Tahukah kita akan bahaya itu? Berapa persen dari kita yang tahu tentang bahaya itu? Mungkin tidak akan mencapai 50 persennya.

Sungai Ciujung setiap saat "dikencingi" limbah pabrik-pabrik. Air Ciujung digunakan oleh petani di Pontang-Tirtayasa untuk mengairi sawah. Tanaman padi menyerap air sungai Ciujung yang tercemar itu. Racun dalam air Ciujung diserap tanaman padi lalu menjadi buah. Padi itu digiling menjadi beras lalu dijual di pasar. Kita membeli lalu memakannya.

Apakah kita tahu masalah ini? Seberapa banyak warga Banten yang tahu soal ini? Rasanya 50 persen pun tidak.

Lalu di luar sana ada begitu banyak masalah lingkungan yang mengancam hidup manusia (paling tidak mengancam kesehatan) yang sebenarnya ada di depan mata, namun tidak kita sadari.

Mikro plastik yang dimakan ikan (saya pernah membaca di Kompas), PLTU Batubara yang menimbulkan polusi dan kerusakan lingkungan akibat penambangan (banyak disuarakan agar ditolak oleh Green Peace), kebakaran hutan (yang menghilangkan tanaman pangan dan obat serta satwa) demi perluasan perkebunan kelapa sawit, barang elektronik yang kemudian menjadi onggokan sampah, tercemarnya air tanah akibat penggunaan deterjen, sabun mandi, dan lainnya, dan masih banyak lagi masalah lingkungan yang dihadapi umat manusia.

Masih banyak orang yang tidak tahu masalah lingkungan itu. Lebih banyak lagi yang tidak peduli pada masalah itu. Makin lebih banyak lagi yang mau bergerak menyelamatkan bumi atau setidaknya memperlambat kerusakan bumi.

Di sinilah peran pers diperlukan. Pers sebagai institusi yang memiliki fungsi memberi tahu (to inform), mendidik (to educate), dan menghibur (to entertain) wajib memberi pengetahuan tentang ancaman-ancaman kerusakan lingkungan itu kepada masyarakat. Agar lebih banyak masyarakat yang tahu, lebih banyak yang peduli, dan lebih banyak yang tergerak menyelamatkan lingkungan dengan apa yang bisa mereka lakukan.

Membangun kesadaran manusia agar peduli pada masalah lingkungan, apalagi tergerak melakukan aksi, memang tidak mudah. Tetapi di situlah tantang bagi seorang jurnalis.

Agar orang mau bergerak melakukan sesuatu, harus ditumbuhkan pengetahuan tentang masalah lingkungan. Bagaimana orang mau mengurangi penggunaan plastik bila tidak tahu bahwa plastik baru akan hancur 100 tahun bahkan sampai 400 tahun kemudian. 

Bagaimana orang mau peduli dan tidak menggunakan sedotan bila tidak pernah menonton ada seekor penyu yang hidungnya mampat akibat menelan sedotan. Bagaimana orang mau risi membuang sampah ke sungai dan laut bila tidak pernah melihat ada paus yang mati akibat menelan berton-ton sampah.

Maka, beri mereka pengetahuan dengan mengungkapkan fakta, data, hasil riset, aturan, komentar ahli, yang mampu menjelaskan secara rinci tentang masalah lingkungan yang ada. Baik dalam skala lokal, regional, maupun dunia. 

Fakta dan data akan membuat berita yang ditulis terhindar dari hoaks dan fitnah. Hasil riset akan memberikan argumen kuat tentang kerusakan yang dialami bumi. Aturan memberikan pijakan bagaimana seharusnya lingkungan atau alam dikelola secara baik dan benar. Komentar ahli akan membuat berita berbobot karena argumen yang disampaikan berasal dari para ahli yang kompeten di bidang, bukan isapan jempol.

Tapi menyampaikan data dan fakta saja tidak cukup bila tidak mengindahkan cara menyampaikannya. Data dan fakta harus disampaikan dengan cara yang runut, tidak njelimet, dan mudah dipahami. 

Dalam bahasa majalah Tempo, tulisan harus "enak dibaca dan perlu". Hanya dengan cara inilah membaca berita akan terasa seperti membaca ceriita pendek atau novel. Tidak membosankan. Tahu-tahu sudah di titik terakhir buku. 

Hanya dengan cara seperti ini pembaca akan tersentuh perasaan mereka sehingga diharapkan setelah mereka membaca berita yang kita tulis memiliki pengetahuan dan kesadaran baru akan masalah lingkungan. Syukur-syuur bila memiliki sikap baru dalam menyikapi masalah lingkungan.

Harus diakui, jurnalisme lingkungan merupakan tugas mahaberat. Perlu kehati-hatian, kecermatan, dan ketelitian dalam membuat laporan jurnalistik mengenai masalah lingkungan. Sebab bila salah menyebut pihak yang bertanggung jawab, maka akan menjadi masalah serius.

Bahkan ketika laporan jurnalistik sudah melalui tahapan yang ketat dan cermat pun, dan setelah menjadi produk jurnalistik, risiko yang dihadapi wartawan masih sangat besar. Selain menggunakan jalur hukum (dengan cara somasi bahkan laporan pencemaran nama baik), kematian pun dapat dialami oleh jurnalis yang membuat laporan jurnalistik lingkungan. Sebab masalah lingkungan biasanya tidak melibatkan orang-orang kecil. 

Masalah lingkungan kerap kali berkaitan dengan perusahaan-perusahaan atau orang-orang besar yang memiliki sumber daya ekonomi tinggi. Bila mereka terusik, maka cara-cara jahat pun akan ditempuh agar tidak merusak bisnis mereka. Termasuk cara keji dengan menyingkirkan si wartawan.

Pada saat perusahaan terancam oleh pemberitaaan yang mengungkapkan kebobrokan mereka, maka cara yang akan ditempuh guna menyelesaikannya selain jalur kekerasan adalah jalur halus. Memengaruhi perusahaan pers bahkan memengaruhi jurnalis secara langsung dengan harta dan jabatan. Idealisme perusahaan pers dan idealisme wartawan akan diuji pada tahap ini.

Pada akhirnya, semua dikembalikan pada si jurnalis sebagai pribadi, akan menjadi jurnalis yang membela masyarakat banyak (termasuk anak cucunya kelak, karena menyelamatkan bumi sama dengan menyelamatkan sumber daya untuk anak dan cucu kelak) atau menjadi jurnalis yang ABS, asal bapak senang.

Jurnalis memiliki peran besar karena ia juga diberikan kewenangan yang besar pula. Seperti halnya Piter Parker yang ditakdirkan memiliki kekuatan besar dan memiliki tanggung jawab yang besar pula guna menumpas kejahatan dengan menjadi Spiderman, begitulah juga jalan takdir jurnalis.