Sejak Joko Widodo menjadi presiden, saya perhatikan “para wartawan” di Indonesia mengembangkan “jurnalisme ketidakpastian”. Salah satu cirinya, judul berita yang mereka tulis dibubuhi dengan tanya tanya (?).

Tanda tanya yang digunakan bisa mengandung makna bahwa berita yang mereka tulis belum tentu benar. Tanda tanya seolah menjadi simbol pembenar jika suatu saat berita yang mereka tulis benar-benar tidak benar, tidak akurat, dan (maaf) mengawur.

Tanda tanya di belakang judul berita juga mengandung pesan: “Maafkan kalau kami salah,” atau “Harap maklum jika berita kami tidak menjawab rasa ingin tahu Anda.”

Kalau ada pihak yang marah karena dirugikan dengan berita tersebut, wartawan bisa berkelit: “Lho, kan, berita tersebut memang belum jelas kebenarannya dan sudah kami beri tanda tanya, jangan sewot dong!”

Celakanya, banyak anggota masyarakat yang terpedaya dengan berita bergenre “jurnalisme ketidakpastian” tersebut dan dengan bangga menyebarluaskannya melalui media sosial. Apalagi jika berita yang mereka sebarkan mengandung informasi yang mereka tidak sukai menyangkut tokoh-tokoh tertentu.

Berita sejenis itu belakangan marak saat musim pemilihan kepala daerah (pilkada), terutama di DKI Jakarta dan melibatkan Ahok, sosok yang tidak disukai sementara kalangan. Saya perhatikan, begitu ada informasi yang dianggap bisa merugikan atau menohok Ahok, berita bombastis pun bermunculan, terutama di media online (saya tidak tahu persis portal-portal berita semacam ini berbadan hukum atau tidak).

Beberapa hari lalu saya menemukan berita berjudul seperti ini: “Marak Dukungan, Rizal Ramli Siap “Kepret” Ahok Dalam Pilgub DKI 2017?”

Berita berkonsep jurnalisme ketidakpastian itu dijawab lewat lead berita yang ditulis secara amburadul seperti ini:

“Paska pendeklarasian menyokong mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli maju dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 untuk melawan petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok Selasa (2/8) kemarin, Presiden Kongres Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, menilai, dengan ketegasan Rizal dalam memimpin, dirinya yakin jika Rizal akan mampu membangun DKI Jakarta. ‘Namun sayang, belum ada kepastian dari Rizal Ramli, akan maju atau tidak di Pilgub 2017 nanti,’ kata Iqbal.”

Jurnalisme ketidakpastian itu akhirnya terjawab setelah Rizal Ramli menjelaskan bahwa ia tidak berpikir untuk mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta guna menumbangkan Ahok. Rizal memang sukses melambungkan namanya lewat polemik proyek reklamasi Teluk Jakarta. Tapi sayang ia jeblok saat diminta Jokowi membereskan proses keluar masuk barang dari pelabuhan Tanjung Priok.

Masih ingat? Rizal Ramli-lah yang minta agar beton di dermaga Tanjung Priok dibongkar dan rel kereta api yang ada di sana dihidupkan lagi. Sampai sekarang tidak jelas permintaan Rizal sudah terealisasi atau belum. Sangat mungkin Rizal Ramli tahu diri, sehingga ia tidak berpikir untuk “nyalon” di Jakarta. Lagipula kalau mau “nyalon”, partai apa yang akan mengusung?

Wow! Ada lagi berita dengan tanda tanya: “PDI-P Sinyalir Ahok Bayar Mahar Nasdem 100 M, Benarkah?”

“Sinyalir” mengandung makna belum tentu benar; masih pula ditambah dengan kata “benarkah?”, ya silakan tebak sendiri berita itu bisa dipercaya atau tidak?

Maka wajar kalau Partai NasDem tidak marah apalagi menggugat meskipun di dalamnya ada kalimat seperti ini: “ .... sebagai salah satu dari tiga partai pendukung Cagub Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, disinyalir telah menerima mahar sebesar Rp 100 M dari petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk mendukung dirinya dalam Pilgub DKI 2017 mendatang.”

Perhelatan pilkada Jakarta semakin dekat. Saya perkirakan hari-hari ini akan semakin banyak berita berkonsep jurnalisme ketidakpastian bertebaran di dunia maya dengan judul-judul seperti ini:

1. Risma Maju Ahok Risau? (Catatan: Judul berita/acara seperti ini sudah ditayangkan TV One).

2. Heru Batal Jadi Calon Wakil Ahok?

3. Ahok Takut Melawan Kambing PDIP?

4. Ahok Bakal Diperiksa KPK Lagi?

5. Jokowi Dukung Risma ke Jakarta?

6. Partai Pendukung Minta Mahar ke Ahok Rp 10 Triliun?

7. Dana Kampanye Ahok dari Pengembang Reklamasi?

8. Teman Ahok Pecah, Dukung Rizal Ramli?

9. Teman Ahok Kocar Kacir, Jadi Tim Sukses Lulung?

Silakan tambahkan sendirilah. Bagi Anda, terutama yang tidak menghendaki Ahok kembali memimpin Jakarta, bersiap-siaplah menyebarluaskan berita-berita “gaya baru” tersebut ke media sosial. Jika akhirnya Ahok kalah, maka itu pasti berkat peran Anda. Percayalah!