All the president’s men adalah sebuah film yang menceritakan kembali sebuah kisah nyata tentang skandal Watergate di Amerika. Pada film ini terdapat dua tokoh utama yaitu Woodward dan Bernstein, jurnalis pada harian Washington Post. Woodward menulis tentang penangkapan  5 orang yang menyusup masuk ke gedung Watergate.

Pada proses penulisan ia didukung oleh rekan seniornya Bernstein. Dalam penelusuran fakta yang dilakukan oleh mereka, terungkap bahwa kasus penangkapan tersebut berujung pada sebuah konspirasi besar yang mengaitkan banyak tokoh dan institusi berpengaruh di Amerika saat itu.

Kelima orang yang tertangkap di gedung Watergate memiliki latar belakang yang tidak biasa, salah satunya adalah mantan agen CIA. Hasil dari penelusuran Woodward menunjukkan bahwa kelima orang tersebut juga terkait dengan aliran dana gelap. Woodward memiliki sumber khusus yang memberi banyak informasi rahasia. Ia dan rekannya Bernstein juga melakukan pencarian fakta dengan menemui puluhan narasumber yang didapat dari sebuah daftar nama penting.

Pekerjaan sebagai jurnalis adalah menata jadwal setiap hari: sumber adalah hal yang dijadwalkan. Karena beberapa cerita membutuhkan penjadwalan yang penting dan rumit, baik karena deadline atau kesediaan sumber.

Isu kebebasan pers di negara demokrasi juga tidak lepas dari adanya perlindungan terhadap kebebasan pers yang didukung oleh “The First Amandment.”  The First Amendment merupakan pernyataan pertama yang menyuarakan kebebasan berpendapat di Amerika Serikat dengan mengangkat pentingnya freedom of speech, di mana setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat, aspirasi, maupun informasi, terutama bagi media, tanpa adanya campur tangan pemerintah.

Akan tetapi, tetap ada batas bagi kebebasan tersebut untuk menjamin tidak ada pihak yang dapat dirugikan serta untuk menjaga keamanan dan stabilitas Negara dari informasi yang beredar. Maka dibuatlah Limitations of First Amendments, yang mencakup pembatasan akan hal-hal berbau seksualitas, kekerasan, pemberitaan krusial, dan lain-lain.

First Amendments menjadi batu loncatan bagi perkembangan pers. Karenanya, saat ini kita dapat menikmati berbagai perkembangan informasi, termasuk memiliki hak bersuara di bidang politik. The First Amendment terus digodok dan disesuaikan sehingga muncullah The Fourth Amendment yang membahas makna luas kebebasan media sebagai kebebasan yang bertanggung jawab dengan tidak merugikan orang lain. The Fourth Amendment mulai memperhatikan masalah hak privasi, hak paten, dan hak atas kekayaan intelektual.

Film ini juga menunjukkan bagaimana sebuah kantor surat kabar cetak menentukan konten apa yang akan diterbitkan. Situasi kamar berita ditampilkan cukup sering. Woodward dan Bernstein berusaha keras agar tulisan mereka dapat dicetak, hal ini dikarenakan isu yang cukup sensitif dan keinginan pemimpin  redaksi agar mereka benar–benar mendapatkan data yang valid.

Pada beberapa kali penerbitan, isu yang diangkat oleh Woodward dan Bernstein mendapat banyak reaksi dari pihak – pihak yang mereka cantumkan. Beragam reaksi ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi atasan mereka.

Aksi keduanya pun mendapat dukungan dari editor senior yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam pengungkapan kasus presiden Lyndon Jhonson. Bahkan setelah sumber rahasia Woodward menyebutkan resiko besar yang akan mereka terima karena pemberitaan ini.

Isu yang mereka hadirkan begitu penting sehingga kebanyakan dari narasumber mereka menolak untuk berbicara. Salah satu alasan yang mencolok adalah bahwa mereka sedang diawasi oleh beberapa pihak. Namun, Bernstein berhasil berbicara dengan salah satu sumber yang mengungkapkan banyak hal yang merujuk pada rangkaian fakta yang menguatkan tulisan mereka. Meskipun harus melalui konfirmasi yang rumit dengan sumber lainnya.

Film ini memberikan gambaran tentang cara kerja seorang jurnalis dan tantangan yang dihadapinya. Jurnalis digambarkan memiliki insting untuk memberikan kebenaran dan fakta segamblang mungkin pada khalayaknya. Beberapa kali ditampilkan bagaimana idealisme seorang jurnalis seringkali bertemu dengan aspek menjual tidaknya sebuah berita, dan bagaimana seorang jurnalis merasa bahwa tulisannya terlalu ‘kering’ sehingga ia membutuhkan lebih banyak informasi.

Namun, saya merasa pada film ini tidak ditampilkan motivasi kedua jurnalis tersebut untuk menyajikan kebenaran. Tidak tergambar bagaimana fungsi pers sebagai pelayan kebutuhan publik akan informasi yang benar. Yang menonjol di sini lebih kepada tanggung jawab jurnalis akan profesinya sendiri untuk mendapatkan tempat di halaman surat kabar.

Pada aspek etika, diperlihatkan bagaimana Woodward tidak menyebutkan siapa sumber rahasianya. Begitu juga ketika mereka berhadapan dengan narasumber, seringkali keduanya mengatakan bahwa mereka tidak akan mencantumkan siapa narasumber mereka.

Namun yang saya tidak ketahui dengan pasti adalah hubungan mereka dengan beberapa sumber yang juga diketahui oleh pimpinan redaksi mereka. Bahkan kemunculan nama “Deep Throat” dalam film ini telah menciptakan mitos tentang adanya sumber rahasia yang memberikan informasi kepada jurnalis. Seorang petinggi FBI, 36 tahun setelah peristiwa Watergate, mengakui bahwa dirinya adalah “Deep Throat”.

Dari beberapa literatur yang saya baca, terdapat opini menyatakan bahwa memang film ini hanya memberikan salah satu upaya pengungkapan konspirasi besar tersebut. Film ini menyoroti tentang penggunaan sumber rahasia yang menimbulkan pertanyaan bagi pihak – pihak yang merasa disudutkan oleh pemberitaan tersebut.

Anonimousity” menjadi topik yang banyak dibahas seiring dengan berjalannya kasus Watergate. Namun etika dalam jurnalisme adalah kerahasiaan sumber yang harus dijaga untuk mempertahankan kredibilitas berita dan kepercayaan publik terhadap pers.

Beberapa hal yang ditunjukkan oleh Woodward dan Bernstein berkaitan dengan permasalahan etika adalah di antaranya :

  1. Akurasi dan verifikasi: Bagaimana mengukur verifikasi dan konteks yang diperlukan untuk mempublikasikan sebuah cerita? Seberapa penting editing dan “gate-keeping”?
  2. Sumber dan kerahasiaan: Haruskah jurnalis menjanjikan kerahasiaan pada sumber? Sampai sejauh mana perlindungan tersebut? Haruskah jurnalis menggunakan kata “off the record”?

Pers menjadi pengamat (watchdog) dan pengontrol pemerintahan yang berperan aktif dan cenderung dipercaya oleh masyarakat bawah karena aspek proksimitasnya, ketimbang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pers menjadi pengawas dan pengontrol para pemegang kekuasaan seperti pemerintah, para pemilik modal, dan institusi-institusi lain yang sekiranya berpotensi mempengaruhi masyarakat. Fungsi pers ini seharusnya juga dapat meningkatkan kewaspadaan institusi-institusi tersebut dalam melakukan aktivitasnya.

Pers, kemudian menjadi jendela dunia yang menyebarkan informasi dan melakukan pemberitaan atas kejadian sehari-hari menyangkut hal-hal yang bersifat elitis seperti isu ekonomi, sosial-budaya, dan politik juga isu lokal seperti kriminalitas, daerah rawan dan lainnya. Oleh karena itu, pers menempati posisi penting karena menjadi rujukan dan, idealnya, dapat menjalankan fungsinya dengan benar.

Fungsi utama pers, sebagai pilar keempat demokrasi, bukanlah sekedar slogan, tapi juga beban. Karena, sekali pers tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka, praktek demokrasi di negara tersebut tidak akan berlangsung sehat.