Jurnalisme sangat berperan bagi umat manusia. Setiap hari media mewartakan hal-hal yang terjadi di kehidupan manusia, termasuk agama. Di Indonesia, agama tak bisa dipisahkan dari masyarakat karena negara mewajibkan masyarakat untuk memeluk salah satu agama yang diakui oleh negara. Sehingga agama menjadi kebutuhan primer di Indonesia.

Posisi pentingnya agama di mata masyarakat Indonesia membuatnya tak luput dari pemberitaan di media. Dengan posisi penting sebuah agama di mata masyarakat dan peran media yang memproduksi berita-berita menarik minat masyarakat, seperti pemberitaan agama, seharusnya tak ada lagi diskriminasi kepada penganut agama minoritas.

Peliputan media terhadap kehidupan beragama sering kali hanya fokus pada kejadian yang sedang berlangsung, dibungkus rapi dalam bentuk straight news. Media yang semata-mata hanya menarik pembaca sebanyak-banyaknya, membuat headline bombastis yang cenderung membuat konflik kian meruncing.

Ada juga media-media yang mengaku bagian dari pers dan menjalankan praktik jurnalistik namun hanya mewartakan satu agama saja. Biasanya media-media seperti ini dibuat oleh orang-orang beragama yang tak ingin melepas latar belakang dirinya dengan jurnalisme, bahkan sengaja mencampurkan agama yang dipeluknya dengan jurnalisme. 

Saya bisa katakan, jika dianggap bagian dari jurnalisme, praktik seperti ini salah satu faktor ketidakadilan dan cenderung diskriminatif.

Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua elemen komunikasi adalah jurnalisme. Propaganda maupun dakwah juga bagian dari komunikasi. Namun menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan dakwah dengan jurnalisme, akan menciptakan kebingungan yang serius dengan daya rusak besar (Andreas Harsono, 2010:50).

Orang-orang penganut agama tertentu yang menjalankan media dakwah, tentu hanya berfokus pada agamanya. Sehingga produk-produk yang dihasilkan juga tentang agamanya. Penyebaran agama seperti ini bukanlah bagian dari jurnalisme.

Jika media dakwah dianggap bagian jurnalisme, maka akan menciptakan ketidakadilan bagi agama lain. Karena jurnalisme bersifat universal, bukan untuk agama tertentu. Sebaliknya, media dakwah tidak akan jadi persoalan jika bukan bagian dari jurnalisme. Karena setiap orang yang menganut agama tertentu dianjurkan menyebarkan nilai-nilai keagamaannya.

Hal ini berlaku di ranah pendidikan jurnalistik. Saya sangat menyayangkan jika dosen jurnalistik menganjurkan mahasiswanya menjalankan praktik-praktik jurnalistik sesuai dengan ajaran agama tertentu. Upaya ini kerap kali dilakukan dosen dengan dalih, bahwa dosen dan mahasiswa tersebut berada di bawah naungan institusi pendidikan keagamaan.

Saya merasa sangat egois jika harus menaruh kepentingan personal ke dalam wadah yang dimiliki banyak orang.

Saya memahami kesulitan untuk melepaskan latar belakang yang saya miliki saat menjalankan praktik-praktik jurnalistik. Lahir sebagai penganut agama mayoritas di Indonesia membuat banyak rasa nyaman melingkupi hidup saya, dan betapa susahnya melepas rasa kenyamanan itu.

Jurnalisme agama menyadarkan dan menuntun saya untuk keluar dari kenyamanan itu. Sehingga saya dapat berpikiran terbuka dan melihat bahwa ada banyak orang yang tak merasakan kenyamanan yang saya rasakan sejak lahir.

Jurnalisme agama adalah pemahaman mengenai praktik-praktik terbaik jurnalistik dalam meliput kehidupan beragama. Segala pakem jurnalisme harus diberlakukan, termasuk di antaranya akurasi dan proses verifikasi, serta bersikap adil dan cover both sides (Endy Bayuni, kata pengantar dalam Ahmad Junaidi, editor, 2006:xv).

Jurnalisme agama tentu berbeda dengan kegiatan dakwah atau propaganda suatu agama tertentu. Jurnalisme agama berfungsi menyuarakan ketidakadilan yang dialami penganut agama tertentu untuk disuarakan ke khalayak ramai. Jurnalisme agama tetap berfungsi sebagai kontrol sosial. Kontrol terhadap masyarakat yang beragama dan negara sebagai pertanggungjawaban.

Jika penganut agama minoritas mendapatkan perlakuan diskriminatif, jurnalis berperan menyampaikan dengan cara mewartakan hal tersebut. Jurnalis perlu mendorong penegakan hukum juga hak asasi manusia, sebagai upaya mendorong nilai-nilai demokrasi.

Dalam jurnalisme agama, peliputan tak hanya berfokus pada saat kejadian berlangsung lalu diberitakan dengan bentuk straight news. Jurnalis harus terbuka menggali dan mempelajari agama yang hendak diliput. Di sini guna melepaskan latar belakang yang dimiliki jurnalis, agar tak menjadi bias. Jurnalis harus melihat dari berbagai sisi, mengedepankan human interest.

Banyak berita-berita agama terbaik adalah tentang apa yang terjadi ketika orang menjalani keyakinan mereka dalam kehidupan sehari-hari, khususnya ketika mereka berinteraksi dengan orang yang menganut keyakinan berbeda (Diane Connolly, 2006:139).

Dengan begini, media tak hanya menjadi humas bagi agama tertentu seperti apa yang dilakukan media-media dakwah. Karena sejatinya fungsi pers adalah sebagai kontrol sosial, bukan alat propaganda.

Sebaiknya jurnalisme agama tak dianggap asing di Indonesia, mengingat agama menjadi salah satu hal yang sensitif dan kompleks. Maka seharusnya lebih sering dipelajari agar tak terjadi kekeliruan saat peliputan.

Di Indonesia, Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) adalah salah satu yang rutin dan memiliki perhatian lebih untuk peliputan agama dengan perspektif hak asasi manusia. SEJUK yang mengenalkan saya kepada jurnalisme agama pada 2019 melalui pelatihan. Sebagai peserta, saya dan peserta lainnya mengunjungi kelompok Islam Ahmadiyah dan penganut agama Baha’i.

Sesudahnya saya melakukan peliputan terhadap siswi Kristen yang terpaksa menggunakan hijab di sekolah negeri di Bangkinang, Riau. Tentu butuh keberanian dan persiapan mental untuk memulainya. Lahir sebagai Islam dan berkuliah di salah satu Universitas Islam Negeri di Indonesia, membuat saya harus melangkah jauh demi menghilangkan bias.

Penganut agama minoritas yang mendapatkan perlakuan diskriminatif adalah korban. Mendengarkan suara korban ialah suatu hal yang harus dilakukan dalam jurnalisme agama. Dan hal penting lainnya, saat menjalankan praktik-praktik jurnalistik, tentulah tak luput dari cover both sides.

Hal yang terjadi setelah naskah reportase saya terbit, ada ratusan komentar mengenai tulisan saya. Mereka yang saya tulis merasa senang dan saya juga senang mampu menyuarakan keresahan mereka. Meski komentar-komentar itu tak semuanya berpihak pada korban.

Apakah hal itu membuat saya nyaman? Tentu tidak. Bagi saya, jurnalisme cukup hebat melemparkan saya ke dalam situasi yang tidak nyaman berulang kali. Namun ada yang lebih penting dari rasa nyaman yang cuma saya yang dapat merasakannya, yakni rasa nyaman yang bisa dirasakan seluruh manusia selama hidupnya.