Penulis Lepas
1 minggu lalu · 373 view · 5 menit baca · Cerpen 85183_74296.jpg
Merdeka.com

Jurnalis dan Borgol Aktivis

Kala itu kurasa rumput bersenandung amat elok. Antara satu rumput dengan rumput yang lain saling bersentuhan mesra, tertiup angin. 

Sambil memanjakan mata pada pemandangan puncak gunung, seperti kehilangan kontrol, pandanganku perlahan beralih pada wajahnya yang teduh. Wajah itu tepat berada di samping diri ini. 

Keteduhan  wajahnya bahkan mengalahkan senja di sore hari. Ia adalah sosok priaku. Seorang pria luar biasa kedua dalam hidupku, setelah ayah.

Setiap pekan atau liburan semester kampus, ia sering sekali mangajakku menikmati suasana asri daerahnya. Di puncak gunung itu, ia menumpahkan segala isi hatinya.

Berdiskusi tentang bagaimana beratnya mengemban amanah menjadi aktivis. Sampai bagaimana beratnya aktivis menanggung rindu pada perempuannya. Itulah priaku, dimana saat ia membuat diri ini kagum, saat itu pula ia membuat diri ini tersipu malu.

Saat itu sambil memandang langit biru, dan merasakan hembusan angin puncak gunung Pulo Sari yang tenang, ia berkata lembut padaku “kau tahu dek. bermesra pada alam, dan merasakan ragamu di sampingku. Cukup menjadikan aku orang paling sempurna di dunia".

"Dek, di rumah, ibu mas menanam bunga mawar, bunga mawar merah. Ketika bunga mawar itu tumbuh menjadi seyoginya bunga mawar pada umumnya, seisi rumah setuju, jika mawar merah itu amat sangat indah. Tapi aku rasa aku  tidak sependapat dengan mereka. Kau tahu kenapa?”

"Kenapa?" Timpalku penasaran.

“karena yang indah dibola mataku hanya kamu, keindahanmu bahkan lebih dari sekedar bunga mawar". Gombalannya, sambil melemparkan senyum terbaiknya.

“Resti!” panggilan Hanna yang cukup kencang di sebrang sana tidak jauh dari tempatku berada.

 Hanna membuyarkan lamunanku pada Mas Bima, lima tahun yang lalu di puncak gunung Pandeglang Banten.

Aku dan Hanna sedang menikmati ke asrian  alam daerah Mas Bima. Hanna sahabatku menemaniku merasakan kembali kehadiran mas Bima di tengah-tengah kehidupanku. Meski raganya tak bersamaku.

Kepergian Mas Bima

Kamis, 14 November 2018

Saat itu semua masa bergerak, suara takbir menggema cukup keras. Tak ku duga ternyata aksi atas kematian pegawai Industri makro di wilayah Serang cukup ramai. Tidak hanya dari Serang, bahkan peserta aksi ada pula dari luar Serang. Mereka bersatu dalam satu suara yaitu kemanusiaan.

Saat itu aku di sana, aku bertugas memantau dan mencari informasi.

Sebagai seorang jurnalis yang baru saja didinaskan oleh sebuah kantor berita lokal di Serang. Ketotalitasanku diuji dan dinilai sebagai harga mutlak untuk modal karirku ke depan yang saat itu masih berstatus sebagai seorang jurnalis pemula.

Selang beberapa jam setelah mencari informas jalannya demonstran, dan akhirnya aku pulang ke rumah, karena demontrasi telah usai.

Dan pencarian berita cukup melelahkan. memanjakan diri menjadi salah satu hal yang sangat aku ingikan kala itu. Saat memanjakan diri di sofa yang cukup nyaman, aku mulai menyalakan televisi. 

Kulihat di sana, tayangan televisi swasta terus mengabarkan tentang keadaan aksi kemanusiaan pegawai industri yang sebelumnya telah usai. Namun ternyata kembali dimulai. 

Beberapa demonstran dan aktivis kembali menyuarakan aspirasinya, bahkan kali ini terkesan ricuh dan semakin memperlihatkan kondisi tidak stabil.

Gas air mata berkali-kali di tembakkan oleh polisi. Dan demonstran terus berjalan maju berusaha melawan aparat.

Kabar buruk datang. Kabar buruk ini sudah ku duga sebelumnya. Jam menunjukan pukul 22.00 WIB. Saat itu hatiku berkecambuk. Mataku seakan ingin keluar ketika tayangan berita memperlihatkan aparat polisi yang menyeret paksa peserta aksi yang terkesan ricuh.

Dan salah satu peserta aksi itu tidak lain adalah priaku. Mataku benar-benar terasa panas saat itu, melihat pemandangan yang ada di hadapan mata, meski hanya melalui tayangan televisi.

Sesegera mungkin kaki ini bergerak cepat entah kemana arahnya. Hati ini benar-benar tak tenang, pikiranku kacau. Entah bagaimana keadaannya saat ini.

“Tuhan, jagalah dia untukku”. Ucapku berkali-kali dengan penuh harap.

Setelah raga ini sampai ke tempat demonstran. Semuanya ternyata telah usai. Hanya tinggal sisa-sisa sampah. Dan beberapa aparat yang masih berjaga-jaga.

Lima tahun telah berlalu

Tidak ada kejelasan atas hidup matinya aktivis yang tertangkap pada demonstrasi 14 november 2018 yang lalu di gedung pemerintahan pusat Banten. 

Menyesal, dan marah pada diri ini. aku tak bisa berbuat apa-apa. Perjuangan membongkar kasat-kusut penangkapan aktivis kemanusiaan lima tahun terakhir tak pernah mencapai titik temu. Putus asa, dan kecewa menghantuiku setiap hari.

Bahkan karena masalah ini fokusku pada penegakan keadilan semakin bertotalitas. Aku mendapatkan banyak penghargaan dari setiap torehan prestasi yang kubuat karena kasus ini. Namun, bukan ini yang benar-benar ku cari. Aku mencari dia, dia priaku, Mas Bima.

Sebenarnya Sebelum aksi, Mas Bima sempat bertemu denganku. Mengabariku tentang aksi itu dan meminta izin untuk ikut berpartisipasi dalam aksi.

Tapi ada satu hal yang ganjil di pertemuan terakhir kita. Dan entah tahu dari mana Mas Bima, jika aku juga akan ikut meliput aksi tersebut. Dia memberikan semangat kepadaku sambil bergurau.

“Harus kuat kalau nanti sudah di lapangan, perempuan mas ini terlalu manis untuk menjadi seorang jurnalis lapangan. dunia lapangan terlalu keras untuk perempuan Mas yang lembut ini. tak tega mas melepaskanmu”. Pesannya padaku dengan bola mata yang dimainkan dan sesekali matanya yang dimainkan itu berhenti tepat di wajahku.

"Dek, tetaplah jadi perempuan Mas. Jika nanti diri ini terlambat mengabarimu, ingat!, di manapun aku berada, kamu adalah  tujuanku untuk pulang”. Ucapnya dengan menatap mataku lekat.

Hingga akhirnya ia mengakhiri perkatannya dengan berkata

“Jaga diri baik-baik dan totalitaslah pada profesimu ini”.

Itulah perkataan Mas Bima yang masih amat sangat aku ingat. 

Dan lagi-lagi mataku tak kuasa menahan bendungan air mata, ketika mengingat kebersamaan bersamanya, aku berharap ini adalah mimpi buruk dan aku masih bisa terbangun, lalu menemukan dia kembali bersamaku.

Di puncak Gunung Pulo Sari ini Mas Bima berjanji akan kembali. Kembali bercerita, kembali merengguh hangat mesra sebuah pertemuan.

Berbagi kisah tentang rumitnya mengikuti alur drama dunia, sulitnya meredam amarah pada tikus berdasi yang tanpa permisi saat mencuri,  sampai kebodohan Mas Bima membohongi dosen saat jam perkuliahan yang membuatnya harus menerima nilai buruk bahkan takdir buruk.

Meskipun kita membicarakan sebuah obrolan yang tidak ringan. Namun, sesekali gelegar tawa kita pecah, dan terdengar menggema pada sunyinya puncak gunung. Kami tertawa, tertawa bebas, menertawakan segala isi dunia. 

Beban Profesionalitas dan Totalitas kami lepaskan untuk sejenak di sana. Dan sampai detik ini. Untukmu wahai priaku, Aku masih mengharapkanmu kembali.

“Mas Bima, kau harus tahu. semua hal tentangmu, bersamamu, dan dengan dirimu. Akan selalu tersimpan rapih dalam ingatanku“. Ucapku dalam hati dengan mantap di atas puncak gunung Pulo Sari Pandeglang Banten.