Perempuan cenderung ngefans karena artis laki-laki Korea bening bagaikan akuarium. Lagi pula kurang kerjaan apa julid sama Lee Min-ho, Siwon, atau Hyun Bin?

Perilaku perempuan yang ngefans para oppa ini sering dicemooh oleh laki-laki.

Masih segar di ingatan saya seseorang yang sebentar-sebentar menantang gelut orang lain. Sebut saja namanya Jerinx, mengetik cuitan artis (laki-laki) Korea hanya mementingkan penampilan bahkan mengabaikan pikiran yang kritis dan permasalahan sosial. Di-reply para lelaki yang sepenuh hati ikut menghina dengan menyebut banci, laki-laki plastik, cowok kok cantik, dan seterusnya.

Tapi beruntung sekali Twitterland penduduknya beragam. Ada yang memberi perspektif lain, cuitan dari @margianta, "Pacar kamu ganteng? Baik? Kaya? Tapi diusik dikit maskulinitasnya rapuh. Takut warna pink, geli sama cowok Korea, perlakuin pacar kayak samsak emosi saja."

Jerinx dan yang mengiyakan pendapatnya, yang hanya tahu satu cara saja untuk menjadi laki-laki jantan, sebaiknya berhati-hati. Kalau sebentar-sebentar merasa terancam soal kelelakian, maka perlu banget waspada ada maskulinitas rapuh.

Istilah yang lebih tepat adalah maskulinitas toksik. Perilaku menahan emosi atau menyembunyikan kesulitan dan menganggap kekerasan sebagai indikator kekuatan, menurut American Psychological Association (2019), adalah gejala maskulinitas toksik atau disebut juga maskulinitas tradisional.

Jebakan maskulinitas toksik membuat laki-laki menyalurkan emosi negatifnya pada pihak yang lebih mudah dipersekusi. Inilah alasan kenapa para lelaki berisik betul soal kejantanan.

Seperti yang terjadi pada Jerinx dan Ahmad Dhani, saling sindir tak ada habisnya di media sosial bahkan sampai dibahas di media online. Rakyat jelita yang terpaksa menyimak akibat jebakan logaritma merasa lelah.

Maskulinitas Toksik (Toxic Masculinity)

Saya pernah menyimak perdebatan yang ramai sekali tentang maskulinitas Jerinx vs Ahmad Dhani di postingan sebuah fanpage. Artikel yang diposting di fanpage tersebut memantik obrolan pembaca di kolom komentar.

Setelah membaca berbagai pendapat pembaca tersebut, saya menyimpulkan bahwa mereka eyel-eyelan itu bukan karena ngefans Jerinx atau Ahmad Dhani, tapi karena ingin mempertahankan pendapatnya sendiri tentang definisi jantan atau maskulin.

Senang rasanya mengetahui keresahan laki-laki pada perkara maskulinitas dan bagaimana definisi maskulin yang tepat untuk dirinya itu ternyata serumit histeria perempuan pada jerawat atau berat badan.

Keresahan itu disadari atau tidak memengaruhi perilaku. Penting untuk mengetahui perilaku seperti apa yang dikategorikan maskulinitas toksik dan bagaimana supaya tidak terjebak nilai-nilai (sepihak) tentang maskulinitas.

Diterbitkan di Journal of Counseling Psychology (2019) hasil penelitian pada 19 ribu peserta. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 11 nilai maskulinitas yang mencakup kontrol emosi, kemandirian, pengambilan risiko, kekerasan, keinginan untuk menang, sikap dominan, perilaku playboy, kekuasaan terhadap perempuan, dan penghinaan terhadap homoseksual berdampak buruk pada kesehatan mental yang akhirnya akan berpengaruh pada saraf otak.

Hmm, bisa sampai memengaruhi saraf otak. Apa ini alasan kenapa Jerinx kekeuh berpendapat bahwa corona adalah konspirasi yang disiapkan oleh elit global? Eh, gimana?

Maskulinitas Baru

Para oppa sering terlihat memakai anting, bercelana pink, wajah terpulas BB Cream, bibir tak pernah kering dari lipbalm, bahkan memakai masker dan melakukan perawatan wajah di salon kecantikan. Ini adalah tampilan luar yang sering dicemooh, terutama disebut banci karena berdandan.

Masih ditambah perilaku di depan kamera dan keseharian. Sering terlihat mengekspresikan vulnerability dengan cara memeluk ala bromance, menepuk pundak, menggenggam tangan, bahkan menyeka air mata temannya. Para lelaki yang menolak perilaku ambyar seperti itu langsung autorisih kemudian julid.

Pokoknya, menurut mereka yang julid, artis (laki-laki) Korea itu nggak ada jejak kejantanannya. Sementara itu, di sisi lain, dengan tampilan dan perilaku yang jauh dari kesan jantan atau macho, selebritis (laki-laki) Korea tetap dipuja perempuan sedunia. Inilah yang menurut sebagian laki-laki nggak masuk di akal.

Padahal untuk bisa manggung berjam-jam bernyanyi sambil menari itu butuh latihan fisik yang tak main-main ala militer. Para pemain drama, yang terlihat tanpa cacat sampai kalau ada nyamuk nemplok di pipi mereka pasti kepleset, itu juga sangat total dalam melebur dalam peran sampai-sampai tak segan berakting tanpa pemeran pengganti meski berisiko cedera.

Dibandingkan dengan kekuatan fisik dan tekad yang semacam itu untuk bekerja di industri kreatif Korea, apalah artinya baju pink dan lipbalm?

Jangan lupa di Korea Selatan juga ada wajib militer. Tak peduli seganteng dan sekaya apa pun, kalau sudah dapat surat panggilan, ya harus berangkat. Sementara para lelaki di Indonesia, diajak upacara bendera saja sudah sambat, kan, Mas?

***

Bagaimana jantan atau maskulin ini didefinisikan bukanlah sebuah kondisi yang taken for granted tapi dipelajari sejak kecil. Definisinya bisa berbeda di setiap orang yang kemudian menimbulkan rasa tak nyaman jika ada friksi pada perbedaan tersebut.

Julid pada artis (laki-laki) Korea itu hanyalah keresahan (terselubung) mereka yang tak bisa menerima kenyataan standar laki-laki keren diterjemahkan sesuai penampakan makhluk indah blasteran bumi-langit yang pintar menari dan main drama.

Lebih jauh, bisa dibilang julid tersebut sebenarnya bentuk penolakan munculnya maskulinitas baru yang memorakporandakan definisi maskulin (tradisional), terutama di masyarakat kita yang penuh sesak dengan budaya patriarki.

Hayo, kamu termasuk yang julid nggak, Mas?