RB Leipzig berhasil melaju ke partai semi-final Liga Champions Eropa saat berhasil menaklukan Atletico Madrid di laga perempat final sebelumnya dengan skor 2-1. Walaupun pada akhirnya mereka harus mengakui keunggulan dari Paris Saint Germain di pertandingan Semi-final dengan skor telak 3-0. 

Meski harus tersingkir dari perhelatan Liga Champions Eropa, pertandingan semi-final tersebut adalah pencapaian tertinggi sepanjang sejarah klub yang baru berdiri pada tahun 2009. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari polesan sang juru taktik muda yaitu Julian Nagelsmann.

Julian Nagelsmann yang berulang tahun pada  23 Juli yang lalu baru memasuki usia ke 33 pada tahun ini. Usia tersebut bahkan lebih muda dari mega bintang sepak bola milik Juventus Cristiano Ronaldo yang lebih tua satu tahun, lima bulan, 18 hari dan mega bintang milik Barcelona Lionel Messi yang lebih tua satu bulan dari Nagelsmann. 

Bahkan Nagelsmann lebih muda dari anak asuhnya sendiri, yaitu Philipp Tschauner yang berposisi sebagai penjaga gawang ketiga RB Leipzig yang diboyong pada awal musim 2019 lalu. 

Menimba Ilmu di Hennes-Weisweiler Akademie

Karier kepelatihan sebagai pelatih kepala Julian Negelsmann dimulai pada usia yang sangat muda, yaitu 28 tahun. Jika biasanya usia tersebut merupakan usia yang masih produktif untuk seorang pesepak bola, namun Nagelsmann sudah memulai untuk menjadi pelatih kepala tim sepak bola di liga teratas Jerman, yaitu TSG Hoffenheim. 

Jika berbicara pengalaman, Nagelsmann tidak pernah menandatangani kontrak secara profesional sebagai pemain. Nagelsmann hanya pernah menjadi pemain di tim muda dan tim kedua TSV 1860 Munchen yang kemudian menutup karier di tim kedua FC Augsburg pada 2008 karena cedera lutut akut.

Namun jika berbicara mengenai awal peran Julian Nagelsmann sebagai pelatih dimulai ketika ia menjadi pemandu bakat dan assistant manager di Akademi Augsburg. Bahkan ia juga pernah membantu pelatih yang bertemu saat semi-final Liga Champions Eropa yang lalu, yaitu Thomas Tuchel sebagai analis. 

Kemampuan melatih, meracik strategi, dan menganalisis pertandingan Nagelsmann juga berasal dari Hennes-Weisweiler Akademie, yaitu sekolah pelatih dengan level tinggi untuk mendapatkan gelar Fussball Lehrer (Guru Besar Sepakbola) atau setara dengan lisensi Pro UEFA yang telah melahirkan banyak pelatih hebat kelas satu Jerman seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Hansi Flick. 

Bahkan masa belajar untuk mendapatkan gelar tersebut lebih lama dari standar yang ditetapkan UEFA, yaitu 815 jam sedangkan standar dari lisensi Pro UEFA adalah 240 jam.

Selama menjadi murid di Hennes-Weisweiler Akademie, Nagelsmann harus mempelajari semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pelatih mulai dari nutrisi pemain, kebugaran pemain, statistik tim dan pertandingan, hingga perkembangan tiap pemain yang dipelajari secara teori dan praktik. 

Setelah berhasil mempelajari setiap materi selama 815 jam, kemudian calon pelatih tersebut diharuskan untuk magang selama delapan minggu di salah satu tim bundesliga dan harus melaporkan perkembangan mereka serta membentuk filosofi sendiri dalam bentuk sebuah makalah. 

Oleh karena itu, meskipun tidak memiliki pengalaman sebagai pesepakbola profesional, berkat ilmu yang diperoleh dari Hennes-Weisweiler Akademie, Nagelsmann berhasil mengembangkan kemampuannya sebagai pelatih.

Menjadi Pelatih Utama

Hanya butuh waktu kurang lebih delapan tahun semenjak ia memutuskan pensiun sebagai pemain sepak bola di FC Augsburg II, ia berhasil ditunjuk sebagai pelatih utama TSG Hoffenheim pada awal 2016 setelah sebelumnya ia menjadi asisten pelatih dan kepala pelatih tim muda Hoffenheim. 

Penunjukan tersebut berhasil membuat publik sepak bola Jerman terkejut karena Nagelsmann baru menginjak usia 28 tahun dan sudah menjadi pelatih kepala di sebuah klub liga teratas Jerman Bundesliga. Tidak sampai di situ, Nagelsmann ternyata sukses untuk menyelamatkan Hoffenheim dari jurang degradasi di akhir musim 2015/2016. 

Karir kepelatihan Nagelsmann makin meningkat. Pada musim berikutnya, Nagelsman berhasil membawa Hoffenheim finish di peringkat empat klasemen akhir bundesliga yang membawanya ke partai play-off liga Champions Eropa meski akhirnya harus takluk oleh Liverpool. 

Pencapaian Nagelsmann kembali meroket setelah pada musim 2017/2018 ia berhasil membawa anak asuhnya finish di peringkat tiga klasemen akhir dan berhak lolos ke fase grup Liga Champions Eropa. Walaupun pada penampilannya di fase grup Liga Champions 2018/2019 Hoffenheim harus gugur karena hanya meraih 3 angka saja dalam 6 pertandingan. 

Setelah Hoffenheim harus gugur di fase grup Liga Champions dan hanya finish di peringkat sembilan klasemen akhir Bundesliga musim 2018/2019, akhirnya pada musim 2019/2020 ia memutuskan untuk pindah menuju tim yang baru promosi ke Bundesliga pada 2016, yaitu RB Leipzig. 

Pada musim pertamanya di RB Leipzig penampilan Nagelsmann dan anak asuhnya tersebut cukup gemilang, ia mampu membawa Leipzig menjadi juara paruh musim Bundesliga dan membawa Leipzig lolos ke babak 16 besar Liga Champions Eropa. 

Meski pada paruh musim kedua Leipzig mengalami inkonsistensi penampilan ditambah dengan jeda kompetisi karena pandemi Covid-19 dan harus puas finish di peringkat ketiga klasemen akhir Bundesliga. Tetapi pasukan Die Roten Bullen polesan Nagelsmann tersebut berhasil melangkah hingga babak semi-final liga champions walaupun harus takluk dari wakil Perancis yaitu PSG. 

Pencapaian tersebut merupakan sebuah prestasi untuk klub yang baru berdiri pada tahun 2009 dan prestasi untuk Nagelsmann karena baru berusia 33 tahun yang minim pengalaman.

Karakteristik Permainan

Karakteristik permainan dari RB Leipzig adalah menyerang dalam setiap pertandingan. Kedatangan Nagelsmann pada awal musim 2019/2020 memberikan efek yang positif. 

Rekan Nagelsmann yaitu Lutz Pfannenstiel mengatakan bahwa Nagelsmann lebih baik daripada Pep Guardiola dalam hal analisis. "Nagelsmann bisa dikatakan lebih unggul dari Pep Guardiola dalam hal membaca gaya permainan lawan dan pemilihan taktik dalam pertandingan," kata Pfannenstiel.

Nagelsmann juga pelatih yang cerdas dan fleksibel yang sangat suka menggonta-ganti formasi bermain. Dalam musim ini saja di kompetisi Bundesliga ia sudah menggunakan sepuluh formasi yang berbeda dengan formasi andalan yaitu 4-2-2-2 yang telah ia gunakan dalam delapan pertandingan, diikuti formasi 4-4-2 dalam tujuh pertandingan. 

Kemudian ia juga gemar bermain dengan formasi tiga bek yang tercatat sebanyak lima variasi ia terapkan di Bundesliga dengan formasi andalan 3-1-4-2 yang pernah diterapkan di lima pertandingan. Sedangkan di Kompetisi Liga Champions ia juga telah menerapkan delapan formasi yang berbeda yang berarti hampir di setiap pertandingan ia menggunakan formasi yang berbeda dan hanya formasi 4-2-3-1 dan 4-4-2 yang pernah ia gunakan dua kali.

Metode Kepelatihan

Dalam menjalankan kepelatihannya, ia juga sempat menjadi buah bibir karena ia menggunakan teknologi Footbonaut yaitu memasang layar raksasa di pusat latihan. Sistem tersebut bekerja melalui empat kamera, dua dari atas menara tinggi di atas garis tengah dan satu di belakang setiap tujuan. 

Dengan begitu, Nagelsmann dapat melakukan koreksi dari rekaman latihan secara real time dan dapat memberikan informasi secara detail kepada anak asuhnya untuk bermain seperti apa.

Selain itu juga ada hal unik yang dilakukan Nagelsmann terhadap anak asuhnya, yaitu tidak ada team talk atau pembicaraan tim saat hari pertandingan. Ia biasanya memberikan penjelasan taktik bermain dua hari sebelum hari pertandingan agar semua pemain mempelajarinya kembali dan siap. 

Saat hari pertandingan, ia hanya memberikan sepatah dua patah kata di ruang ganti. Kemudian ia juga tidak memberitahu siapa saja yang akan bermain menjadi starting eleven timnnya dari hari sebelum pertandingan, tetapi pada saat hari pertandingan. 

Hal tersebut bertujuan agar setiap pemain memiliki kesiapan dan jiwa kompetitif yang kuat sampai hari pertandingan. Kedua hal tersebut mirip dengan apa yang dilakukan oleh Sir Alex Ferguson ketika melatih Manchester United.

Walaupun Julian Nagelsmann tidak memiliki pengalaman sebagai pemain profesional, ia membuktikan bahwa untuk menjadi pelatih hebat tidak harus menjadi pemain profesional. Bahkan meskipun ia tidak pernah bermain sebagai pesepak bola profesional tetapi ia justru menerbitkan dan memoles pemain muda berbakat hingga bersinar seperti Niklas Sule, Timo Werner, Dayot Upamecano, Sebastian Rudy, Kerem Demirbay, dll.