Jenggot, cingkrang dan jidat hitam, sudah menjadi salah satu paket perundungan bagi tampilan radikalisme. Tak peduli karakter dan kualitas persona yang terafiliasi, perudungan ini sudah masuk kategori blackmail psikologi terhadap tampilan visual yang disimpulkan sebagai sebuah sunnah tersebut.

Tekanan makin intens, jika subjeknya bersinggungan langsung dengan gerakan-gerakan yang dilarang, ataupun yang sedang dicurigai sebagai eksponen subversif, radikalis, dan provokatif. 

Dari sini ada semacam simpangan menarik yang perlu dikaji, khususnya kepribadian persona yang pernah disorot, dimusuhi, atau bahkan disingkirkan negara, karena membahayakan kedaulatan negara dan warganya.

Sebagai bahan analisis, saya ambil saja kepribadian seorang ustaz yang pernah menjabat sebagai jubir (juru bicara/spokeman/qoid sariyah i'lam) JAT (Jamaah Anshorut Tauhid). 

Siapa yang tak kenal JAT, organisasi yang sudah masuk daftar teroris dunia itu, mempunyai jubir yang bernama Son Hadi. 

Ustaz ini kenal saya, dan saya kenal dia. Rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meteran dari rumahku.

Adik sang ustaz, juga teman sekolah saya di SMPN 1 Bangil. Bapak sang ustaz yang bernama Muhajir itu, adalah seorang orator ulung kebanggaan Persis (persatuan Islam) Bangil.

Saat itu, era keemasan Persis Bangil yang digalang oleh ustaz Hud, mantan penyiar salah satu stasiun radio di Pakistan.

Dan, benar adanya, gaya orasi sang bapak , terwariskan kepada anaknya, Son Hadi yang juga mahir dalam pembacaan puisi dan syair. 

Dengan diimbangi mental yang patut diacungi jempol, tanpa basa-basi dan malu-malu, secara tiba-tiba  saja sudah berdiri depan rumah-rumah penduduk sambil membaca syair-syair perlawanan. Sebuah gaya dakwah yang unik.

Son Hadi ini humoris, cerdas dan supel serta mandiri. Tak jarang ditemui, berkelana dari kampus ke kampus menjual jilid sederhana dari fotokopian lembar-lembar yang dapat memacu adrenalin sebuah muqowwamah (perlawanan).

Saat masih menjadi santri Ma’had Aly di Pesantren Ngruki, Sujoharjo, Son Hadi ini lumayan sering mengisi kajian di masjid kampungku. 

Terutama,  saat bulan Ramadhan dengan kajian intensifnya yang diperkuat oleh DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ) Surabaya. Atau, saat liburan mondoknya, sering mengajak kami adu stamina dalam bentuk apa saja yang menurutnya merupakan sebuah "iddaadul quwwah".

Karena hanya terpaut beberapa tahun denganku, kupanggil saja “mas” dengan keakraban khas kampung. Tidak ada sebutan “ustaz” ataupun sebutan yang selevel lainnya. Saat itu, usiaku masih masa-masa labil ala anak  SMA yang penuh dengan kebangsatan, keblingsatan dan hura-hura.

Seperti pada bahan-bahan kajian wahabi lainnya, Son Hadi memberikan tekanan pada bab-bab yang sudah menjadi langganan pengajaran khas mujahidin, mungkin hingga hari ini, seperti: konsep wala’ wal barra”, ghazwul fikr, ruhul jihad, kosep toghut, khilafah dan akidah model uluhiyah-rubbubiyah-asma wal sifat itu.

Materi tersebut di atas, memang cenderung menjadikan seseorang itu lebih disiplin dan tegas seperti robot bernyawa, menurutku. 

Paket-paket di atas biasanya diperkuat dengan apa yang disebut dengan iddad quwwah (sedia-siaga kekuatan). Sebuah aktivitas dengan berbagai macam kegiatan fisik yang motorik banget, seperti beladiri, longmarch, hingga latihan senjata sederhana untuk pertahanan.

Keterkaitan kami sebagai anak muda kampung hanya disisi kesamaan hobi yang outdoor activity itu, semacam hiking, longmarch dan sejenisnya. Sedang untuk kajian, seperti masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Yang penting happy jalan-jalan. 

Yang menarik, peristiwa longmarch Bromo-Ranupani-Senduro (area Pegunungan Tengger) sejauh 60 Km.  

Sang ustaz membawa santrinya dari Persis Bangil, dengan semangat ruhul jihad-nya, tanpa diimbangi latihan fisik yang intens dan teratur, tentu saja membuat sang ustaz yang berubuh gempal itu dan murid-muridnya nya kedodoran hingga tertinggal beberapa kilo meter sambil terengah-engah.

Untuk daya tahan kajian di masjid, mungkin bisa jadi sang ustaz punggawanya. Namun, jikalau sudah di alam bebas, mungkin, kamilah juaranya, hehehe.  Kami, para pemuda kampung yang masih “ngegas” atau di puncak stamina usia muda. 

Paket dan materi yang saya sebutkan di atas, bagi mereka, akan dapat mengatasi segalanya. Dan, memang terbukti, walau dengan kedodoran, mampu juga mencapai etape pertama, Ranupani. 

Ruhul Jihad mereka buktikan, pada sebuah clash di sebuah malam peringatan agama tertentu saat itu. 

Beliau bersama murid-murid Persis-nya, dengan gigih menggagalkan sebuah pertunjukan film massal di sebuah lapangan. Film tentang agama tertentu. Sedang kami, para pemuda koplak, memilih tidur meringkuk bergelung sarung melawan hawa dingin Ranupani. 

Rata-rata kepribadian angkatan radikal tahun 90-an mempunyai kekhasan tertentu, jika dibandingkan dengan generasi radikal setelahnya. 

Mereka, angkatan 80 atau 90-an adalah murni didikan jalan panjang sebuah upaya perlawanan terhadap penguasa lewat lembaga-lembaga khusus yang punya kualitas di bidang itu.

Sebut saja Pesantren Ngruki, Sukoharjo, yang menjadi basis pengkaderan saat itu. Kemudian di kampus-kampus Universitas yang saat itu rata-rata lahir pengkaderan dalam bentuk “mentoring”. Kegiatan ini boleh dikatakan wajib bagi setiap mahasiswa baru. 

Mentoring yang digalang oleh LDK (Lembaga Dakwah Kampus) itu, cukup efektif dan berjangkau luas dalam menyebarkan paham radikal. 

Jadi, karakter perlawanan mereka, telah membentuk pola-pola cerdas dan terstruktur padat. Idols mereka juga cukup flamboyan dan legendaris. Semisal, Osamah bin Laden, Gulbudin Hekmatyar dan Abdullah Azzam yang dibesarkan oleh perang Afghanistan.

Kemudian, singkat cerita Son Hadi bergabung dengan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang juga melahirkan JAT pada tahun 2008. Berbarengan dengan itu, terjadi perintisan kemunculnya Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). 

JAT dan JAD, menurutku, tidaklah berhubungan secara gaya pengkaderannya. Personal JAD cenderung mengikuti pola pengkaderan pasca angkatan 90-an, dengan gaya “adventurous” ala ISIS.

Sejak ISIS mengambil alih pola perlawanan, maka di situ juga terjadi simpangan yang cukup ekstrem yang berupa pribadi-pribadi tanggung hasil pengkaderan instan dan cenderung menawarkan sisi “adventurous”.

Sebuah sisi yang cenderung narsis dan kekanak-kanakan alias yang penting "beken" dan bisa melancong kemana-mana sambil menikmati dunia dengan kekerasan dan pemerkosaan.

Apalagi dengan adanya imbas media sosial, model perlawanan warisan generasi 90-an, diobral bak kacang goreng di medsos, janya untuk sebuah eksistensi dan kebanggaan. 

Pola-pola tak berkualitas yang menghasilkan perlawanan "ingin cepat selesai". Lebih mengandalkan penampilan dan asesoris ala kombatan taktikal daripada pengkaderan yang paling dasar dan berilmu, menurutku, sih.

Setelah itu, Son Hadi Bin Mujahir, yang bertempat dan bertanggal lahir: Pasuruan, 12 Mei 1971, dan juga masih menjabat juru bicara JAT Media Center (JMC), pada bulan Mei 2011 di sebuah press conference memberi pernyataan bahwa Osama Bin Laden meninggal sebagai pahlawan.

Alasan itu yang menjadikan Dewan Keamanan PBB dengan resolusi 1267 (Al Qaeda Sanction List), mendata dirinya sebagai salah teroris dunia, plus Jamaah Anshorut Tauhid (JAT)-nya. Tepatnya sanksi PBB no. sec 219 exe order 13224.

Perjalanan dakwah Son Hadi bersama JAT-nya, berakhir pada hari Jumat, 31 Januari 2014, pukul 19.30 WIB; sang ustaz meninggal dalam perjalanan menuju ICU RS Karangmenjangan Surabaya, karena sakit. 

Pemakaman kampung halaman menolak jenazahnya, dan akhirnya dimakamkan di Surabaya. 

Foto di atas adalah momen setelah melintas lautan pasir Bromo menuju Ranupani dengan Longmarch, yang kemudian dipersilahkan makan oleh tuan rumah, seorang dai DDII Surabaya. Itu suasana dapur sederhana sebuah rumah di Ranupani di akhir tahun 1995.

Selamat jalan! Wahai, yang pernah berpacu di lautan pasir!