Jabatan adalah permata bagi orang yang rakus. 

Untuk mendapatkannya pun harus dilakukan dengan berbagai cara. Tak peduli etika dan moral yang ada, asal bisa memperolehnya, hidup akan begitu menyenangkan dan mudah. Prestise adalah tanda pencapaian seseorang yang salah satunya dengan menduduki jabatan dalam pemerintahan.

Penangkapan Romahurmuziy alias Romy olek KPK di Surabaya, yang diduga terkait kasus jua-beli jabatan, adalah salah satu bukti bahwa modus ini masih ada. Sebagai petinggi partai politik yang mempunyai akses terhadap kekuasaan, Romy berhasil memainkan perannya dengan baik dan kali ini apes.

Jabatan adalah barang menggiurkan karena bisa mendatangkan kekayaan. Untuk itulah ada tarif yang ditawarkan untuk seseorang apabila ingin memperolehnya.

Tidak bisa dimungkiri bahwa aroma jual-beli jabatan di negeri ini tidak hanya berlaku di salah satu kementerian. Bisa dikatakan bahwa aroma atau desas-desus itu sering terdengar. Namun, sebagaimana kentut, hanya baunya yang tercium namun tak pernah diketahui barangnya.

Mulai dari level pusat dan daerah, hampir semua memahami ini. Bahkan orang yang tak duduk di pemerintahan pun paham tentang fenomena jual-beli jabatan. Sering kali pejabat yang jadi bahan omongan, tutup telinga dan pura-pura tidak tahu.

Semua Berawal dari Kerakusan Akan Uang

Uang. Sebuah kata yang mengasumsikan kita pada sebuah kemudahan apabila dimiliki dengan berlebih. 

Mengapa uang menjanjikan kemudahan? Karena semuanya memerlukan uang apabila seseorang ingin memenuhi kebutuhannya. Dengan uang berlebih, orang bisa dengan mudah membeli apa yang diinginkannya.

Menengok ke sejarah peradaban manusia, seseorang hanya perlu makan dan minum untuk melanjutkan kehidupannya. Ya, hanya makan dan minum untuk hidupnya. Ketika uang belum ditemukan, orang saling bertukar makanan untuk memenuhi kehidupannya.

Setelah ditemukannya sistem pertukaran dengan menggunakan nilai uang, orang makin lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan barang-barang untuk memenuhi kehidupannya. Fungsi sesungguhnya uang telah terjadi di sini. Namun, dengan bertambahnya waktu, fungsi uang mulai bergeser.

Uang mengubah status orang yang berbeda-beda di tengah masyarakat -- ada yang kaya, ada yang miskin. Berawal dari sini uang menjadi sarana seseorang untuk menaikkan gengsi di tengah tengah masyarakat di mana dengan cara memilikinya dengan jumlah banyak maka masyarakat di sekitarnya akan menyebutnya dengan sebutan Kaya.

Karena kaya adalah gengsi yang menggiurkan bagi sebagian masyarakat yang sudah konsumtif, maka keinginan untuk mempunyai uang dengan jumlah banyak menjadi target utama. Ditambah dengan adanya jabatan prestise itu semakin kentara.

Hasrat yang begitu kuat akan uang membuat kehidupan sosial pun berubah. Mereka tidak bisa lagi saling bercanda. Bahkan yang lebih parah adalah saling curiga dengan sekelilingnya.

Kehidupan menjadi egois, kaku, dan terasing satu sama lain. Karena tidak adanya saling sapa, maka rasa malu menjadi tiada karena semua telah menjadi alien.

Berawal dari hilangnya rasa segan dan malu, mereka mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dengan alasan untuk hidup, mereka bekerja keras di luar kemampuannya. Mereka diburu waktu agar cepat mendapat uang.

Jual-Beli yang Melanggengkan Korupsi

Menjadi pejabat adalah prestasi bagi sebagian orang. Namun jika dilakukan dengan cara membeli, itu adalah tindakan pengecut. 

Biasanya motivasinya bukan lagi untuk menjadi pejabat yang amanah, tetapi untuk memperoleh kekayaan. Saat keinginan menjadi pejabat hanya termotivasi untuk kaya, dan untuk memperolehnya pun harus dilakukan dengan cara membeli dengan harga miliaran, tentunya perhitungan untung-rugi mulai berlaku di benaknya.

Saat begitu besarnya modal yang harus dikeluarkan untuk menjadi pejabat, tentunya oknum pembeli tersebut sudah menghitung kompensasi dari biaya tersebut. Dari sini kita bisa melihat bahwa korupsi takkan pernah hilang karena bibitnya terus disemai di dalam birokrasi yang korup.

Romy hanyalah salah satu petinggi partai dari sekian banyak makelar jabatan, mulai di tingkat pusat maupun daerah yang kebetulan apes. Bisa jadi ini juga mengindikasikan bahwa politik uang masih berlaku sehingga oknum seperti Romy ini melakukan aksinya untuk memperoleh dana bagi kebutuhan gerak politiknya.

Kondisi ini makin diperparah dengan sikap pesimis masyarakat yang selalu apriori terhadap segala jenis proses menjadi pegawai atau pejabat baik di sipil maupun di militer bahwa semua ada biayanya. Di negeri ini, orang pintar tidak menjamin ia bisa sukses berkarier, namun yang lebih penting adalah uang.

Budaya ingin serbacepat pun menjelma, mulai cepat kaya, cepat naik pangkat, dan cepat-cepat lainnya, menelurkan bayi baru yang mengancam tatanan sosial --korupsi. Menipu, merampok, maling, dan sebagainya adalah efek difergensi yang disebabkan oleh korupsi.

Korupsi mengubah kinerja sebuah organisasi pincang, baik itu swasta maupun organisasi pemerintah. Bagaimana tidak pincang jika nahkoda di dalamnya harus mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk menduduki kursi jabatannya?