Bu Mintje beranjak dari kursi. Pelan menuju lemari tua pojok ruang. Dibukanya lemari, terdengar berderit menyayat. Tas kulit tua usang dikeluarkan hati-hati. Selembaran kuno digenggaman tangan bu Mintje. 

Ah, ternyata selembar koran kuno berbahasa Belanda. Dihampar rapi dan hati-hati di atas meja. Kartiyem dan Paijo terkesima.

“Anak-anakku,” bu Mintje menghela nafas panjang. Wah, kontras banget, Ibunya bernama Mintje, anak-anaknya bernama Kartiyem dan Paijo.

“Kartiyem, Paijo!” Mintje mengulang. Berusaha memutus keasyikan mereka berdua untuk tetap tak bergeming membaca koran berbahasa Belanda itu. Mereka berdua bak menemukan mainan baru yang lama hilang. Terlebih, jari telunjuk Kartiyem terhenti di sebuah kalimat, seolah minta penjelasan.

Adalah kebiasaan bu Mintje dengan tekun beberkan isi buku-buku karya Kompeni kepada anak-anaknya. 

Di saat mereka masih kecil, selayaknya ninabobo yang mengalir indah. Beliau hantarkan cerita itu dalam bahasa Belanda. Menjadi dongeng menarik sebelum tidur.

Cerita pendek waktu itu dipakai sebagi bahan ajar sekolah dasar Hindia Belanda. Baik di Hollands Inlandse School (HIS) ataupun di Europese Lagere School (ELS). Yang dikoleksinya buah karya Jan Lighthart dan H. Scheepstra dengan judul Ot en Sien.  

“Kalian ingat cerita tentang Ot en Sien?” tanya bu Mintje sekilas memotong alur.

“Ingat, Bu.”

“Bagaimana pedihnya para inlander diminorkan tuan meneer. Tentang inlader dan para tuannya dalam sebuah strata. Pribumi dan Indo-Belanda diminorkan oleh para Europeens,” jelas bu Mintje bergetar. 

Air matanya meleleh tak tertahankan sudah. Bu Mintje mengambil kembali koran yang tergeletak. Pastikan masih utuh. Menciumnya hingga menetes deras air mata. Membasahi koran yang bertajuk: 

"Joden op Jalan Kayun Surabaya hebben al hun winkels gestolen, bang om te worden vernield".

Tjis dan Tjuk,” celetuk bu Mintje menahan gejolak jiwa.

Paijo dan Kartiyem pasrah mengikuti alur, tak tega melihat ibunya. Tanpa memotong dengan pertanyaan apa itu Tjis dan Tjuk itu? Kini yang ada hanya monolog bu Mintje pilu menyayat hati.

“Itu salah satu judul karya sastra Tjalie Robinson. Dia seorang sastrawan Indo-Belanda, Vincent Mahieu nama aslinya.”

“Ohh jadi Tjalie Robinson itu nama pena?” Kartiyem meminta kejelasan.

“Benar," jawab bu Mintje.

"Ada pesan Ayahmu tentang sebuah wasiat," lanjutnya.

“Apa itu, Bu?” tanya Paijo bersemangat.

“Begini, sebelum Ayahmu meninggal, ia berpesan tentang kotak besi.” terang bu Mintje serius.

“Kotak besi?” 

“Pasti barang antik," celetuk Kartiyem ceria. 

"Kau, Paijo, adalah pembuka pertama kotak itu, sesuai wasiat ayahmu.” lanjut bu Mintje.

Paijo terdiam serius. Begitu pun Kartiyem adiknya, terbenam rasa penasaran yang dalam.

“Sekarang kau masuk ke kamar Ayahmu, dan ini kuncinya.”

Paijo akan memenuhi wasiat ayahnya. Melangkah mantap menuju kamar itu. Ruangan dengan tembok batu kali khas bangunan Belanda.

Temaram lampu pijar di kamar itu merayap konstan, cahayanya tersebar merata oleh kap lampu. Membentuk siluet di langit-langit. Kesan mistis yang lembut. Di sudut kamar ada meja ukir kayu jati berkualitas tinggi. Tampak sudah usang polesannya.

Namun, masih berpamor kokoh. Alur-alur guratan seni pahat yang aduhai menambah kesan antik. Sebuah kotak logam berukir pakem Jawa di atasnya. Mengkilat, kontras dengan keusangan meja. Paijo mendekat, degub jantung berpacu didera penasaran.

“Kini saatnya..........,” terucap dari bibir Paijo. Tanpa ragu tangan Paijo gapai kotak itu. Pelan namun pasti, sedang pikirannya masih terus menebak-nebak isi kotak.

Tangannya berhenti sejenak sekitar 10 sentimeter dari permukaan tutup kotak. Mulutnya komat-kamit sebelum tangannya benar benar menyentuh kotak. Pikirannya keras melayang. Mencoba deskripsikan kata-kata terakhir wasiat ayahnya yang didengar dari ibunya tadi.

“Ah, tidak, biar Ibu saja yang buka, aku harus ke Ibu,” Paijo ragu.

Seketika bangkit dari kursi, meninggalkan kotak wasiat ayahnya yang berlambang mistar dan jangka itu. Paijo berjalan cepat menuju ruang tengah menemui ibunya. Bu Mintje sibuk membereskan tumpukan karya-karya literasi anak negeri yang berserakan di atas meja.

“Ibu……!” teriak Paijo.

“Biar Ibu saja buka kotaknya,” tambahnya.

“Nak, ingat wasiat Ayahmu, kamu yang harus buka kotak itu. Wasiat adalah amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan.”

“Baik, Bu.”

“Kartiyem mana, Bu?”

“Bentar lagi datang, masih ibu suruh bayar zakat Mal ke Badan Amil Zakat.”

“Baiklah, Bu.”

“Iya, sana, santai saja, tak perlu tegang.”

Kini Paijo sudah kembali menghadap kotak wasiat. Diperhatikannya gembok yang mengunci kotak tersebut. Sementara tangan kanannya memegang anak kunci. 

Tampak karat telah membungkus gembok. Jemarinya mulai memutar anak kunci, macet. Namun, tetap dipaksanya.

“Kenapa almarhum Ayah menyuruhku. Kok, bukan Ibu atau Adikku?” dalam hatinya berkecamuk.

Di luar terdengar lolongan panjang menyayat telinga manusia. Entah itu anjing jadian atau serigala. Benar, malam ini bulan purnama. Waktu bagi karnivora untuk berkawin, saling menarik pasangan dengan lolongan.

Rumah kuno keluarga Paijo agak menyendiri. Bekas Vila Belanda, terletak di pinggir kawasan hutan.

Tutup kotak diangkatnya pelan. Beriring rontoknya debu-debu keusangan. Cahaya merambat masuk. Mengoyak ruang gelap kotak. Dalam pandangan mata jeli Paijo Ada sebuah kitab kuno warna kuning. Dimakan usia, dengan pinggiran yang tergerus kutu buku.

“Subhanalloh,” zikir Paijo lirih. Berbarengan bau harum menyebar dari dalam kotak. Membuat suasana makin sakral. Diangkatnya pelan kitab kuno itu, sangat lembut sekali. Seolah memberikan penghormatan kepada almarhum ayahnya.

“Kak Jo!!” teriak Kartiyem tanpa mengetuk pintu kamar.

“Masuk, Dik!”

Kartiyem menghampirinya yang masih terpaku menatap kitab kuno. Pandangan mata Kartiyem langsung tertuju ke kitab di tangan Paijo. Kotak warisan yang diharapkan berisi harta, atau minimlah ada pistol Kompeni di dalamnya. Paijo memberanikan diri buka kitab tersebut.

“Ejaan lama,” kata Kartiyem sambil beringsut mendekati kitab.

“Iya, Dik, ejaan lama,” balas Kartiyem.

Dibolak-balik halamannya oleh Paijo. Sedang Kartiyem berusaha keras baca tulisan Arab yang tertulis di atas terjemahannya, jelas tak mampu. Ngajinya di masjid sebelah cuma sampai Juz Amma. Apalagi kitab ini gundul, tak ada tanda pengiringnya.

Sedang Paijo lumayan bisa membaca Arabnya. Tampak sang adik masih saja setia memperhatikan. Matanya seindah kakaknya, seakan bersinar dan membuat pemberhentian di setiap tanda baca. Sesekali mata Kartiyem meloncat ke tulisan Arab. Sesekali lagi ke terjemahan. 

“Inikah yang Ayah maksud permata itu?” tanya Kartiyem.

“ Iya, Ayah pernah bilang akan mewariskan permata kepada kita," jawab Paijo mantap. 

Tiba-tiba tangan Paijo bergetar hebat. Setelah matanya membabat habis satu paragraf terjemahan di awal halaman yang terlewat. 

Kursi yang didudukinya ikut bergetar. Benar adanya Paijo tak sepenuhnya memahami semua isinya, tapi tulisan Arab tebal bertinta hitam itu membogem hatinya.

“Kenapa tangan kakak bergetar?”tanya Kartiyem keheranan.

“Ini kitab………..,” suara Paijo seakan terputus.

“Apa,  Kak…..?”

Paijo tak menjawab. Menutup kembali kitab tersebut. Menenangkan diri dengan napas panjang. Memejam sebentar mengatur kesumat. Jelas baginya, kitab itu bertulis: "Haqiqah Al Masoniyah" .

Tiba-tiba bu Mintje sudah berada di dekat mereka. Melihat dan merasakan kegaduhan jiwa anak-anaknya.

“Jadi ini wasiat Ayah, Bu?” tanya Paijo

“Ya, dan itu amanah besar,” jawab bu Mintje.

Paijo semakin bingung, begitu besar amanahnya. Mampukah?

“Ibu tahu kitab ini?” tanya Paijo. Bu Mintje tak menjawab.

"Bukankah Al Masoniyah itu berarti Masonry? Feemasonry? Dasar-dasar pengetahuan iluminati?" tanya Paijo beruntun.

Sepertinya ada kenangan menyeret bu Mintje mendengar kata-kata anaknya yang polos itu. 

Diletakkan remote control itu dan kembali duduk bersandar di kursi jati yang penuh ukiran. Paijo melirik ibunya, berusaha menangkap pesan yang sering dilihatnya. Ketika ibunya galau, selalu duduk di kursi yang berukir Groot Rijkswapen itu.

Tak lama kemudian datanglah Kartiyem membawa teh dan kue wafel. Hari ini tugasnya menyediakan acara minum teh. Keluarga ini menjaga tradisi, disamping akulturasinya.

"Begini anak-anakku......." bu Mintje mulai menjelaskan segalanya. Keduanya, Paijo dan Kartiyem menyimak dengan tenang.

"Di zaman VOC alias Kompeni, waktu budak masih legal di Hindia Belanda, banyak orang kaya Belanda-Eropa punya belasan bahkan ratusan budak. Bagi yang belum terlalu kaya dan belum punya istri dari ras putih Eropa, ya memakai pribumi," lanjut bu Mintje.

"Cukup, Bu, .... dan Ayah adalah teman dari si Leendert Miero, Yahudi yang kaya raya itu?" potong Paijo.

"Betul, kamu ingat betul cerita itu," bu Mintje menimpali.

"Dan, kita adalah hasil dari mereka," bu Mintje terbata-bata. 

Memang saat itu laki-laki Eropa yang sudah mapan dan pantang nikah resmi di muka hukum, punya solusi. Mereka menikahi perempuan pribumi, yang disebut nyai dalam perannya di rumah tangga. 

Kartiyem tampak menetes air mata, sambil terus mengunyah kuenya.

"Pasti ini ada hubungannya dengan Jalan Kayun!" Kartiyem tak tahan menghamburkan isi mulutnya sambil terus terisak.

Suasana mendadak kelam. Semua ceceran-ceceran cerita-cerita yang pernah Ayah mereka sampaikan hari ini tampak mulai tersimpul. Benar adanya, leluhur mereka adalah para pelaut Belanda yang mempunyai jongos-jongos pribumi.

Dan leluhur Mintje adalah salah satu jongos dari sang Kapiten Belanda hingga mendapat julukan Jongens Van De Kapitein, karena eloknya paras dan budinya, mengabdi dengan tulus hingga menjadi seorang nyai. 

Leluhur-leluhur mereka adalah keturunan Yahudi Belanda al Baghdadi yang mewariskan kenangan pahit atas sebuah kekuasaan. 

Hingga, pada abad ke-19, Surabaya merupakan tempat yang ideal bagi imigran Yahudi. Tidak seperti di daerah koloni Inggris lainnya, komunitas Yahudi Surabaya dapat hidup dengan normal yang berada di bawah kekuasaan Belanda.

Kenyamanan komunitas Yahudi di Surabaya, berakhir ketika Israel bersama Inggris dan Perancis menyerang Mesir pada tahun 1956. Perebutan Terusan Suez yang dikenal sebagai Perang Sinai itu membuat kehidupan komunitas imigran Yahudi itu terusik.

“Leluhurmu harus menutup toko selama Perang Sinai untuk keselamatan pribadinya dan ketakutan atas vandalisme,” ucap bu Mintje.

Keberadaan komunitas Yahudi di Indonesia mendekati titik akhir ketika Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan nasionalisasi aset asing dan pengambilalihan Irian Jaya. Termasuk aset-aset Yahudi Baghdadi yang ada di Jalan Kayun, tempat di mana sebuah sinagog Beit Hashem pernah berdiri.

Melalui serangkaian peristiwa hukum, hak milik atas tanah dan bangunan rumah ibadah itu berpindah tangan. Tahun 2013, sinagog yang berstatus sebagai bagunan warisan cagar budaya itu diratakan dengan tanah.