Tulisan ini ada untuk menanggapi tulisan berjudul Inspirasi dari Ekspedisi Nekad yang ditulis oleh Yeni Purwaningsih. Awalnya, kukira tulisan itu dia tulis untuk senang-senang dan menjadi konsumsi pribadi. Ternyata ia sebar luaskan di laman literasi Qureta yang dibaca jutaan pemirsa.

Ya, sayalah yang menjadi objek olok-oloknya. Nuryanti, sang nekad pengayuh sepeda.  Jika ditanya apakah perjalanan Solo Madiun naik sepeda itu nyata atau gurauan semata? Kuakui itu fakta.

Ada tiga poin penting ketika Yeni melihat dan menjelaskan tentang saya. Kejombloan, Julukan Putri Alis dan Ekspedisi Solo-Saradan, Madiun. Ada rasa mengganjal dalam hati ketika saya belum menggunakan hak jawab menanggapi tulisan saudara Yeni.

Yang paling menusuk-nusuk kalbu tentu cemoohan tentang sejarah kejombloanku yang dia sebar luaskan. Sumpah, hal itu adalah masa lalu. Saya tak bermaksud ahistoris dengan melupakan masa lalu dan menghapus memori tentang dia. Saya mengamini bahwa masa lalu adalah lembar sejarah kehidupan yang membuat kita lebih mawas di masa depan. Tapi please, jangan buka kartu disini. Yeni sendiri sebenarnya juga jomblo pemirsa, tapi malu mengakui.

Ada lagi yang membuatku bete setengah klelep. Julukan putri alis yang ia sematkan padaku. Terlahir dengan alis tipis tentu tak diminta oleh jabang bayi manapun. Alis tipis sejak orok adalah bukti Kuasa-Nya yang menciptsaya sesuka-Nya.

Menggambar dan menebali alis sebenarnya hal yang biasa, toh juga banyak dilakukan orang. Sepertinya juga tak kutemukan ada teks tersurat dimanapun tentang larangan menebali alis. Di kitab suci tidak ada. Di UUD, UU, Perpu dan turunannya tak ada denda dan hukuman bagi wanita yang dandan menebali alis. Kalau ada kabari eke yes?

Sekali-kali Yeni perlu jalan ke mall, temuin  brand ambassador produk kecantikan lalu tanyakan berapa penjualan pensil alis dalam sebulan. Kujamin, dia akan terbengong bengong betapa banyak konsumen pensil alis. Konstruk cantik yang tertancap kuat di benak masyarakat adalah memiliki alis nanggal sepisan atau panjang kotak khas Korea, yang tentu harus dibentuk. Sedang membentuk alis paling alami dan murmer adalah dengan pensil alis.

Heranku, ketika saya yang mencoba untuk mengikuti modernitas per make up an ia nyinyirin seenak hati. Kenapa harus saya? Dan kenapa ketika orang lain yang pakai pensil alis, it doesn’t matter. Come on baby, what’s wrong with me? Kenapa elo nyinyirin gue? Kenapa Yen? Kenapa? Toh gue Cuma iseng.

Kuakui, riwayat sejarah kejombloan dan sebutan putri alis adalah pendeskripsian awal saja. bukan poin utama. Saya sadar sesadar-sadarnya hikmah yang ia tarik adalah semangat dari perjalanan yang kulalui.. Kalau Sherlock Holmes meneliti kasus pasti ia akan memperhatikan detail dengan cermat dan seksama guna menarik kesimpulan. Kutahu Yen, kamu tidak akan berjodoh dengan mas Holmes. Tak akan pernah.

Ada beberapa poin dan detail yang Yeni lewatkan. Di antaranya:

Pertama, fakta bahwa perjalanan itu kulakukan karena terpaksa tak pernah ia sebut. Kala itu H-7 lebaran saya ke Solo naik bis untuk suatu urusan. Dan tragedi menimpa. Handphone Cross CB 84 BT hilang di bis. Hilangnya hp jadul itu tentu membawa pukulan berat.

Belum lagi dengan bis yang penuh sesak. Rasa-rasanya tarif lebaran naik tapi tak sesuai dengan fasilitas.  Trauma naik bis dan kehilangan hp memaksaku untuk memutar otak dan mencari alternatif transportasi mudik yang aman dan nyaman.

Kedua, fakta bahwa saya telah merencanakan segalanya dengan matang tak ia ketahui. Saya sudah browsing lewat laptop dengan wifi gratisan masjid NH. Banyak hal yang kucari tahu. Mulai dari jalur mudik tercepat arah madiun, tips mencari tempat bermalam yang aman, konsultasi dengan blogger pesepeda asal Jogjakarta, hingga servis sepeda mini yang kutumpangi.

Ketiga, faktanya saya tetap berpuasa meskipun otot kugenjot, keringat membanjir dan hati merana dioyak sepi karena tak punya belahan hati (jomblo detected). Dan melalui perjalanan itu, saya merasakan benar bahwa Allah, Tuhan Pencipta Alam semesta itu ada. saat saya sendiri tiada orang tua dan sesiapa yang kukenal, di jalanan tengah hutan Ngawi kurasakan kasihNya begitu dekat. Saya merasa kuat dan dikuatkan saat bersaing dengan bis dan truk penguasa jalanan.

Keempat, saya menginap di Masjid Kompleks Perumahan Prandon Permai, Ngawi Kota. Saya berbuka puasa disana dan juga mendapatkan uang ssaya dari masjid dan beberapa jamaah. Awalnya saya heran kenapa saya diberi uang. Mungkin mereka kasihan, atau prihatin dengan nasib hayati di perantauan. Saya lupa jumlah pastinya. Bisa jadi kala itu saya termasuk fi sabilillah atau orang yang sedang menempuh perjalanan.

Kelima, sesaat setelah sampai di rumah Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun saya baru menyadari kegilaan yang sudah saya lakukan. Banyak cemoohan yang membenturkan betapa bodoh dan tak kenal takutnya saya. Sesaat saya bimbang dan ragu, mungkin yang kulakukan salah dan diluar kelaziman.

Namun seketika saya sadar bahwa orang lain tak berhak menghakimi apapun yang kita lakukan selama masih dalam rel yang benar. Perjalananku tak melanggar aturan lalu lintas, pun perintah agama untuk berpuasa Ramadhan masih kujalankan. Dimana letak salahnya? Karena saya perempuan? Sedang para petualang kebanyakan laki-laki?

Saya teringat sepenggal cuplikan lagu laskar pelangi yang dilantunkan dengan ceria oleh Giring Nidji:

“Bebaskan mimpimu ke angkasa

Warnai bintang di jiwa”

Bebaskan. Bebaskan dirimu berekspresi. Jangan takut untuk berbeda. Sekalipun Yeni nyinyirin sampai saya tua nanti, sampai saya ketemu jodoh, sampai saya menjadi seorang ibu, sampai saya jadi nenek-nenek, itu takkan membuat saya malu mengakui pengalaman ini. Malah menjadi tantangan, kenyinyiran orang lain adalah bukti kasih sayang dan kepedulian, namun jangan sampai menghambat kreativitas dan asa untuk berkembang.