Researcher
2 tahun lalu · 1025 view · 3 menit baca · Ekonomi china_workers_quer_1_112624.jpg

Jomblo Pemicu Krisis Global?

Alegori Krisis Global

Bayangkan ada dua rumah tangga yang hidup bersebelahan di suatu kompleks perumahan. Rumah tangga yang satu rajin bekerja dan hemat sekali. Sementara tetangganya rajin bekerja juga namun boros dan shopaholic. Hubungan dua rumah tangga ini seperti dalam pepatah “bagai orang mengantuk disorongkan bantal.” 

Si hemat, misalnya akan menawarkan rantangan, peralatan rumah tangga, baju-baju hasil jahitannya ke si boros. Karena bertetangga dengan si boros, maka dagangan si hemat laku terus. Pada saat yang sama, karena si hemat ini hidupnya ugahari maka penerimaannya selalu lebih besar dari pengeluarannya. Di akhir bulan, buku kas rumah tangganya selalu mencatat surplus yang cukup besar.

Mula-mula kelebihan duit itu disimpan di bawah bantal oleh si hemat. Tapi duit di bawah bantal itu terus menumpuk sampai bantalnya tidak enak lagi buat tidur. Ahirnya, si hemat tidak segan-segan untuk meminjamkan uang atau menjual barang-barangnya ke si boros dalam bentuk kredit. Daripada duit menumpuk sia-sia, lebih baik dibungakan bukan?

Semakin banyak duit menganggur yang dimiliki si hemat, semakin ringan bunga utang yang ditawarkan si hemat kepada si boros. Demikian bertahun-tahun, si hemat tabungannya terus menumpuk, sementara si boros terus membeli barang-barang tetangganya dan semakin bernafsu berutang karena bunga utang yang ditawarkan si hemat turun terus. Tentu saja hubungan seperti ini tidak akan lestari.

Dari Alegori ke Dunia Nyata

Alegori di atas, adalah peyederhanaan ketidak seimbangan global yang terjadi di dunia saat ini. Si hemat adalah negara-negara berkembang khususnya Asia Timur, dan lebih khusus lagi Cina.  Sementara si boros adalah Amerika. Tabungan masyarakat China mencapai 50% dari PDB. Utang Amerika 114% PDB

Selama paruh pertama dekade ini, Amerika membeli lebih banyak dari yang mereka produksi. Dalam jargon ekonomi, Amerika mengalami defisit perdagangan dengan negara-negara mitra dagangnya. Bagaimana Amerika membiayai defisitnya ini? Tentu saja dengan utang.

Untuk menjelaskan mengapa Amerika begitu bernafsu belanja dan berutang? Ben Bernanke, gubernur Bank Sentral Amerika di tahun 2005 menunjukkan terjadinya ”global saving glut.” Negara-negara berkembang, terutama China, begitu hemat sehingga tabungannya naik terus.

Tabungan itu dipinjamkan ke dunia dalam bentuk utang jangka panjang. Melimpahnya pasokan tabungan dari negara-negara berkembang ini pada gilirannya menekan suku bunga. Rendahnya suku bunga ini semakin mendorong masyarakat Amerika untuk semakin menjadi shopahollic.

Salah satu sasaran orgi belanja masyarakat Amerika ini adalah rumah. Di satu pihak, bunga pinjaman untuk membeli rumah rendah, di lain pihak karena orgi belanja ini, permintaan rumah lebih besar dari penawarannya. Akibatnya harga rumah naik terus.

Naiknya harga rumah semakin meyakinkan calon pembeli rumah bahwa investasi membeli rumah adalah investasi yang menguntungkan. Jadi ada catu balik positif yang menyebabkan masyarakat Amerika semakin bernafsu membeli rumah. Dalam jargon ekonomi terjadi ”gelembung” di pasar perumahan yang siap meledak.

Namun, seperti salah satu bait lagu Spining Wheel dari Blood Sweat and Tears ”what goes up, must come down”, ditambah komplikasi pasar financial, akhirnya orgi belanja rumah ini kolaps, dan "gelembung" tadi ahirnya meledak dalam bentuk krisis yang dikenal sebagai krisis ”subprime mortgage.” Karena pasar finansial dan pasar barang maupun jasa di Amerika ini bertali-temali dengan pasar finansial, barang dan jasa di berbagai penjuru dunia, maka krisis inipun merambat ke pelbagai pelosok dunia, menjadi krisis global.

Krisis Global dan ”Pasar” Perkawinan

Lantas apa hubungannya antara Krisis Global dan Jomblo yang menjadi judul tulisan ini?. Mari kita baca ulang paragraf pertama Alegori Krisis Global. Di situ disebutkan bahwa salah satu tokoh alegori tersebut hidupnya begitu ugahari. Mengapa tokoh tersebut sangat ugahari tidak dijelaskan dalam alegori tersebut.

Dalam makalahnya The Competitive Saving Motive: Evidence from Rising Sex Ratios and Savings Rates in China yang baru-baru ini di tampilkan di laman NBER, Shang-Jin Wei, dari Columbia University’s Graduate School of Business, dan Xiaobo Zhang, dari the International Food Policy, mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Mereka menemukan bukti bahwa di kawasan di China di mana nisbah jumlah lelaki terhadap perempuan tinggi (banyak Jomblo), tingkat tabungan masyarakat di kawasan itu juga tinggi. Mereka juga menemukan bukti bahwa rumah tangga yang memiliki anak laki-laki menabung lebih banyak di kawasan yang nisbah laki laki/perempuannya tinggi. 

Lebih lanjut Wei dan Zhang memberikan alasan mengapa fenomena di atas terjadi. Kelebihan “pasokan” lelaki di tengah “kelangkaan” perempuan menyebabkan “pasar” perkawinan menjadi sangat kompetitif. Para lelaki berusaha “memperebutkan” perempuan yang jumlahnya terbatas tersebut.

Akibatnya, orang tua yang memiliki anak laki-laki akan berhemat, hidup ugahari, menumpuk tabungan/kekakyaan agar anaknya atraktif di mata perempuan. Motivasi menumpuk kekayaan untuk meningkatkan probabilitas anak laki-laki itu “menang” dalam persaingan di “pasar perkawinan” yang sangat kompetitif tersebut lah yang menyebabkan tingginya tingkat tabungan di China. 

Pertanyaan berikutnya seberapa banyak Jomblo di China? Di tahun 2010 jumlah Jomblo mencapai 34 juta dan diperkirakan pada tahun 2030 satu dari empat laki-laki usia perkawinan di China berstatus Jomblo. Lantas mengapa begitu banyak Jomblo di China? jawabannya terletak pada kombinasi kebijakan keluarga berencana one-child policy dan preferensi budaya memiliki anak laki-laki dibanding anak perempuan.

Siapa sangka Jomblo di China bisa menjadi salah satu pemicu krisis global yang mengharu biru dunia.