Galau dan kacau adalah kebingungan dan kekalutan remaja dalam sejarah umat perjombloaan dan budak cinta. Digagapi oleh permainan-permainan kata yang seolah dungu, namun terkadang sangat eklektik ala pujangga cinta.

Sungguh suram, tapi sedikit pialang dalam tukar beli perasaan. Begitulah kiranya situasi para penikmat cinta dan kontroversi layaknya aroma abu janda dalam asmara. Puitis dadakan karena kasmaran yang lama tak kunjung pernah terasa. 

"Oh, andai malam ini bisa sedikit lebih panjang, agar hari-hariku bersama keramaian tidak terbisukan oleh situasi mengenang kepergianmu wahai sayang." Begitulah kekalutan seorang jomblo yang mati dan usang ditelan malam.

Internet jadi penghubung supersonik dengan jejaring yang masif membuat aktivitas berselancar di media mainstream begitu instan. Hal ini sepertinya berpengaruh pada perasaan yang ikut dinamis mengikuti ombak para likers masyarakat virtual. Dentuman jantung yang kian berdegup kencang menunggu balasan si "dia" di beranda WA, Insta-story, line, dan sejawatnya.

Sedikitnya itulah gambaran asmara para generasi Gen Z, yang kian hari makin panas saja rasanya. 'Panas' ini bukan panas biasa, melainkan 'panas' dalam konotasinya sedikit vulgar dan mungkin berbau seksi di mata publik. 

Apalagi publik yang masih mengeyam tata krama tinggi. Melihat dua sejoli yang masih bau kencur bermesraan, di depan umum dan status di media sosial sekarang, begitu amat pahit dan menyengsarakan harapan dari para generasi lama.

Keterbukaan jejaring yang begitu luas sepertinya telah memberikan anggapan yang keliru pada generasi kini. Munculnya persepsi akan lazimnya praktik pacaran dan bercinta di depan publik yang bahkan sengaja diviralkan lewat media sosial, sebuah kebiasaan yang dianggap biasa. 

Nahas melihat perkara ini jadi sorotan dan trending topik di lini massa. Ketika melihat di pencarian-pencarian media sosial, masih banyak bertebaran aksi pacaran yang tidak jarang berpose dengan begitu senonohnya.

Apakah ini sebuah candu? Atau gejala populisme baru? 

Melihat fenomena ini dalam kaitannya dengan publik interest sungguh memperihatinkan. Sebagai kontrol etis, massa justru malah jadi hero yang getol jadi penghakim dan pemaki. Kisruh dan makin gak karuan, sedang si jomblo hanya bisa jadi viewer saja.

Sebagai bangsa yang lahir dari budi pekerti dan diajarkan tata krama tinggi, perbuatan-perbuatan normatif dan tak terpuji begitu sensitif. Perlu kesabaran dan ketenangan, karena tak jarang sensitivitas tersebut malah didahului oleh sikap benci. Sehingga yang muncul bukan rehabilitasi, malah justifikasi dan memaki kesalahan para budak anyar keluaran SD ini.

Publik yang merasa resah dengan kenyataan ini pun kemudian dibubuhi persepsi akan pesimisme. Generasi tua khawatir dengan keadaan moralitas yang candu akan pemuasan nafsu syahwati yang tidak lain adalah anak cucu mereka sendiri.

Seks adalah tabu, namun lambat laun anak usia 8 tahun pun sudah mengerti arti bercumbu. Kesadaran anak untuk mengetahui ditutupi oleh kesan tabu. Seks bukanlah hal yang harus disensor, dan unsur simbolis itu hanya mengundang rasa penasaran anak belia. Perlu disampaikan serta diajarkan seharusnya.

Mengetahui karena diberitahu setidaknya lebih jelas dalam posisi nilai suatu pengetahuan tersebut. Ketimbang anak sengaja mencari dan meraba pengetahuan tersebut tanpa tahu apakah ini benar atau keliru.

Kondisi generasi angkatan muda saat ini harus diselamatkan. Banyak dari mereka yang tindak tahu berakhir menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Anak-anak yang baru mengenal bangku sekolah pun tak jarang jadi korbannya.

Alasan inilah yang sejatinya perlu disadari dari penampilan asmara generasi Z yang minor di media sosial. Tak jarang bahkan konten itu sengaja disebarluaskan hanya demi followers dan subscribers saja. 

Asmara itu normal. Namun jika sengaja dipertontokan dengan berlebihan dan ditujukan untuk konsumsi massa, tolong malulah!

Dalih menyalahkan pemerintahan saja tidak cukup. Anda harus menyalahkan diri Anda sendiri. Sudah begitu kronisnya negeri ini jika para lelaki buaya bertebaran dan para wanita aduhai menebar kebolehannya di dinding-dinding virtual.

Semua orang boleh berekspresi, namun jika ekspresi itu menimbulkan nilai min untuk bangsa ini, mohon tahu diri! Jika Anda hidup mengatasnamakan kebebasan atas penderitaan para pahlawan negeri ini, sesungguhnya Anda jadi penyempurna agenda antek untuk mengasingkan negeri ini.

Mari berintropeksi. Saya tidak menyalahkan mereka yang sedang dimabuk asmara. Hanya cara mengekspresikan asmara itu yang jelas-jelas tidak mencerminkan pribadi bangsa. Memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis itu normal, namun setidaknya jaga etika dan selalu menjunjung kesopanan.

Teruntuk para jomblo, selalu istikamah sampai gugur statusnya oleh buku nikah. Jalan kehidupan itu sangatlah penuh dengan rahasia. Fokus pada target dan tujuan kalian berperan di mana, kemerdekaan ini harus diisi dengan cipta, karya, dan karsa anak-anak bangsa. 

Ingat, bangsa ini besar oleh para jomblo, bukan oleh bucin apalagi pasangan micin.