Jomblo itu petaka, ternyata bukan hanya ada di pikiran remaja labil. Kesimpulan ini penulis peroleh ketika membaca berita VOA 27 Oktober 2015, Wife –sharing: an Idea to help Bachelors in China.

Ide ini dicetuskan oleh Xie Zuoshi, seorang profesor the School of Economics and International Trade Zhejiang University of Finance and Economics China. Dan ternyata bukan hanya penulis yang terkejut ketika membaca judul berita di atas, berita ini juga mengejutkan warga Cina sendiri.

Beragam respons masyarakat menyayangkan mengapa ide ‘aneh’ ini diucapkan seorang yang terpelajar lagi terhormat. Ia menganggap pernikahan sebagai sebuah permainan yang bisa dimainkan bergantian dan wanita adalah komoditas yang bisa dibagi.

Dari judulnya, mungkin Anda dapat menebak apa pemikiran Prof. Xie. Ya, menurut Xie di Cina terjadi ketimpangan jumlah populasi laki-laki dan perempuan yang amat tajam. Sekitar 30 Juta laki-laki di Cina tidak mendapatkan pasangan. Dan tebak siapa mereka?

Ya, mereka adalah laki-laki yang berpenghasilan lebih rendah. Maka menanggapi mereka yang mengatakan bahwa pemikirannya immoral, Xie merespons bahwa masyarakat tidak bisa menangkap pesan moral dari idenya ini. Sederhananya, “Kasian tau, mereka jomblo!”

Pemikiran Xie berkaitan dengan pertanyaan yang telah dijawab para ilmuan pendahulu kita. Apakah ilmu bebas nilai? Nilai siapa yang digunakan? Tentu ada dua kubu besar yang menjawab pertanyaan ini.

Kita tentu tak asing dengan kata Renaisans, kebangkitan masyarakat Barat. Pada awalnya pemikiran Barat adalah pemikiran Mitologi Yunani. Manusia membutuhkan dewa, karena manusia adalah makhluk yang mahabodoh, maka dibutuhkan dewa-dewa yang membantu ia berpikir. Tetapi ternyata banyaknya dewa yang mengatur kehidupan manusia menimbulkan bentrokan, bukan hanya bentrokan antardewa, tetapi juga benturan kepentingan antara manusia dan dewa.

Dengan datangnya rasionalisme, maka manusia ingin melepaskan dirinya dari  kungkungan mitologi dan dogma-dogma. Manusialah penguasa jagat raya, ia pusat segalanya (antroposentrisme), dan ia leluasa untuk menentukan nasibnya sendiri. Bahkan manusia dianggap sebagai penentu kebenaran.

Cita-cita Renaisans adalah mengembalikan kemerdekaan manusia yang telah dirampas para dewa, demikian Prof. Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam. Dan semangat “kemerdekan” ini menimbulkan “alergi” pada agama yang pada akhirnya melahirkan sekularisme. Maka bagi mereka, ilmu pengetahuan bebas dari nilai. Mereka juga meyakini bahwa kemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan akan dapat diraih dengan melepaskan diri dari agama.

Kita lihat pemikiran Xie, ia tidak mengindahkan norma-norma agama, baginya tidak bermoral justru membiarkan para jejaka itu kesepian. Moral itu siapa yang mengukur? Dirinya, karena baginya standar dan pusat kebenaran adalah manusia (antroposentris).

Tidak adanya pedoman dalam hidup membuat masyarakat Barat terjatuh dalam berbagai macam aliran pemikiran dan filsafat, yang lagi-lagi justru membuatnya terbelenggu. Tengoklah, misalnya, Marxisme. Menurut Marxisme, manusia tidak dapat merdeka, karena keberadaannya, kedudukannya, dan kesadarannya ditentukan oleh posisi ekonominya.

Lihatlah, bagaimana aliran ini menggeser antroposentrisme. Manusia bukan lagi menjadi pusat, tetapi alat  produksi. Penemuan teknologi yang tujuan awalnya untuk memudahkan kehidupan manusia, justru memperalatnya karena ia ingin meraih kekayaan yang tak terkira dengan tingginya produksi.

Bagi anda yang selalu ingin jadi yang utama, jawabannya ada dalam agama damai ini, Islam. Dalam Islam, human is the number one yang tak akan tergeser oleh pemikiran dan kondisi apa pun, karena Islam adalah agama yang humanis, yang sangat mementingkan manusia. 

Lihatlah, bagaimana Tuhan menjadikan  manusia  sebagai pemimpin di muka bumi yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk. Dan lihatlah, betapa Tuhan  amat mengistimewakan para ilmuan, Ia berfirman bahwa hanya hamba-Nya yang berilmulah yang takut pada-Nya. Lihatlah, betapa Tuhan memuji orang-orang yang berpikir dan merenungkan keberadaan alam semesta.

Maka kita menyimpulkan, dalam Islam manusia hanya tunduk pada Tuhan karena ialah sebaik-baiknya ciptaan yang memimpin dunia, maka manusia adalah makhluk yang berkuasa dan merdeka. Yang kedua, rasionalisme tidaklah meruntuhkan Islam, karena justru Tuhan yang mendorong manusia berpikir dan menjanjikan mengangkat derajat mereka yang berilmu baik  di dunia maupun di akhirat. Maka Islam sangat bersahabat dengan akal.

Dan Humanisme Islam adalah Humanisme Teosentris, demikian menurut  Prof. Kuntowijoyo. Tuhan (tauhid) adalah pusat dari semua orientasi nilai, dan pada saat yang sama tujuan nilai-nilai tersebut adalah kebaikan dan kedamaian bagi manusia.

Bukti keimanan kita pada Tuhan adalah tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi umat manusia. Di antara bukti hal ini adalah firman Allah: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS al-Baqarah:3)

Berdasarkan ayat tersebut, untuk menjadi muttaqiin̂  pertama kita harus beriman pada yang gaib, kemudian mendirikan salat. Dan ternyata kedua hal itu belum cukup, kita harus membuktikan keimanan dan ketaatan kita kepada Tuhan dengan berbagi pada sesama (zakat).

Bahkan menurut Prof. Quraish Shihab, salat bukan hanya ibadah ritual mutlak. Karena mereka yang dikecam dalam QS al-Ma’ûn, orang-orang yang lalai dalam salatnya bukanlah mereka yang lupa jumlah rakaat salatnya karena lengah, bukan juga mereka yang belum dapat khusyuk dalam salatnya.

Tetapi surat ini mengecam mereka yang tidak ada bukti nyata dari keimanan dan ibadahnya pada Tuhan sebagaimana terangkum dalam surat ini, yakni berbuat tidak terpuji pada anak yatim dan enggan menolong sesama. Tentu khusyuk juga penting, karena dengan semakin kita dapat khusyuk, semakin baik ibadah kita dan akhlak kita pada sesama.

Akhirnya, malu dong sama merpati! Gengsi dong sama pinguin! Ayam kate aja sehidup semati!