Persoalan cinta memang terlalu asyik untuk diperbincangkan. Mulai dari remaja sampai orang tua semenjak zaman onta sampai zaman toyota pun (emangnya revolusi kendaraan?) cinta tak hilang untuk dibahas. 

Jika mahasiswa sudah kalap mencari persoalan untuk selanjutnya jadi judul skripsi yang akan diteliti, persoalan cinta bisa jadi pilihan. Sampai sekarang, soal ini belum juga berhasil diselesaikan. Silakan diteliti lebih lanjut.

Saya tidak akan kemukakan khilafiyah apakah makna dari cinta. Tentu setiap insan mempunyai pandangannya mengenai hal itu.

Saya cenderung tertarik dengan Revolusi Industri pada awal abad ke- 19, yang melahirkan berbagai ideologi yang selama ini kita kenal dengan berbagi terma, di antaranya Sosialisme, Kapitalisme, Komunisme, Moderatisme, dan berbagai isme-isme yang lain sebagi efek dari Revolusi Industri tersebut.

Akibat dari itu, muncul teori klasifikasi ideologi dunia yang terbagi pada Kanan dan Kiri. Ideologi kanan mewakili golongan yang sudah “mapan” secara tradisi, dan ideologi kiri mewakili golongan yang menginginkan “revolusi” dari kemapanan itu.

Nah, ternyata dalam persoalan cinta, ideologi dapat terbagi menjadi dua kubu tersebut dengan berbagai variannya. 

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, misal saja para kelas Proletar alias para Jomblo yang menginginkan punahnya sistem kasta pada persoalan cinta. Pada kelas ini, revolusi menjadi jalan satu-satunya yang menegaskan bahwa cinta adalah hak bagi setiap manusia dan lintas kasta.

Sehingga perhatian, kasih sayang, dan kesempatan nyepik dan mbribik (PDKT) bukan hanya dimiliki oleh para Konglomerat Cinta saja alias empunya pacar dengan berbagai fans-nya dan segala yang dimilikinya. Kesempatan itu milik setiap insan.

Sebagai kelas yang tidak diperhitungkan, sering kali kaum proletar hanya bisa berkeluh kesah dikarenakan berbagai penolakan yang sudah lumrah dan jamak diketahui khalayak umum.

Sebagai padanan saja, visi dan misi untuk mengubah kasta agar memperoleh hak cinta selayaknya kaum di atasnya adalah perbuatan yang “wajar”. Apalagi ada kesan yang kurang tepat bahwa golongan Jomblo merupakan makhluk yang melas, -- padahal, kan, terhormat? #pembelaan Jomblo.

Maka golongan proletar, jika dirasa perlu, bisa saja membentuk sebuah revolusi berupa protes keras kepada kemapanan kaum borjuis agar cinta menjadi jalan yang komunal, sehingga dapat memberi rohmah bagi sesama dan secara bersama. Misalkan saja mengupayakan temannya yang jomblo mendapat haknya untuk bisa memantaskan diri jadi imam yang baik kelak ketika berkeluarga.

Terlebih kaum yang dianggap konglomerat dan borjuis, bahkan semua kasta, harusnya juga dapat bersifat sosialis terhadap kaum proletar, di man apun dan kapan pun. 

Membawa paradigma dalam urusan cinta kita juga patut melihat kondisi sosial. Jangan sampai apa yang dilakukan dapat berbuah negatif pada perasaan jomblo. Intinya, jaga perasaan kaum ini.

Misal saja tidak main tutup-tutup telepon saat berada di sekitar mereka. Mudah menyulut konflik kalau kedengaran.

Konglomerat sebagai kaum pemilik modal (modal muka dan kaya, baik hati) sebisa mungkin tidak menggunakan modalnya untuk mengeksploitasi kaum proletar yang modalnya cinta dan berusaha ngasih seperangkat alat salat.

Ala kulli hal, kaum moderatisme yang memiliki visi bahwa ke-jomblo-an bukan menjadi penghalang untuk bersifat baik dan “adil” terhadap kaum tertindas atau dengan kata-kata lain berpandangan sesuai dengan asas tengah dan sesuai hak dan kewajiban, sehingga paham moderat atau tawasuth perlu diberdayakan.

Kesenjangan sekarang sudah makin tajam. Karena, baik golongan kanan dan kiri, sama-sama butuh naungan cinta. Maka tidak bisa tidak, semua harus mendapatkan akses dan hak dalam persoalan yang satu ini.

Penghakiman terlalu tajam maupun nyinyir untuk kaum miskin, dan tumpul untuk kaum bangsawan dan pejabat, menghukumi bahwa jomblo sebagai kaum tidak laku adalah tidak tepat. Dan menghukumi bahwa orang yang punya pasangan sebagai orang yang memiliki standar kebahagian juga rasaya ndak pas. Cukup tengah-tengah saja to?